Jasad ABK Surakman Ditemukan di Pulau Enggano, Enam Hari Setelah Pencarian Diberhentikan
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Titik terang muncul dalam kasus menghilangnya kru kapal Arupadhatu 1 saat Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengumumkan penemuan jasad pria tak dikenal di perairan Pulau Enggano, Bengkulu Utara. Berdasarkan hasil pencocokan DNA, korban teridentifikasi sebagai Surakman (60), seorang anak buah kapal (ABK) asal Carita, Pandeglang, Banten. Penemuan ini terjadi pada Sabtu (12/9), tepat enam hari setelah operasi pencarian besar-besaran terhadap delapan orang di kapal tersebut resmi dihentikan pada Kamis (17/9) karena tidak adanya temuan signifikan.
Proses identifikasi dilakukan melalui koordinasi ketat antara Polda Banten dan Polda Bengkulu. Jenazah yang awalnya ditemukan di sekitar Pulau Enggano langsung dievakuasi menggunakan pesawat Cessna menuju RS Bhayangkara Polda Bengkulu. Tim DVI kemudian melakukan pemeriksaan data antemortem dan posmortem terhadap keluarga korban. Dari sinilah kecocokan genetik dengan Surakman dikonfirmasi. "Hasil identifikasi berdasarkan pemeriksaan DVI, secara genetik, jenazah teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK Kapal," tegas Hengki dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Serang, Rabu (23/9).
Kasus ini bermula dari hilangnya kontak kapal cepat Arupadhatu 1 di Selat Sunda pada Senin (7/9) setelah berangkat dari dermaga Carita. Kapal itu mengangkut rombongan lima jurnalis yang tengah meliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) beserta tiga awak kapal. Selama 10 hari, upaya pencarian melibatkan Basarnas Banten, Lampung, hingga Bengkulu, namun nihil hasilnya hingga operasi ditutup. Para jurnalis tersebut terdiri dari M Bagus Khoirunnas (Pewarta Foto Antara), Ari Basuki (Pewarta Foto Merdeka.com), Yudistiro (Pewarta Foto iNews.id), Firman (Jurnalis Anadolu Agency), dan Donal (jurnalis lepas), sementara kru kapalnya adalah kapten Warta (55), ABK Surakman (60), dan pemandu Heriyanto (49).
Keadaan memanas ketika keluarga korban melaksanakan tabur bunga di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pada Jumat (18/9), sehari setelah operasi SAR diakhiri. Gestur ini menjadi penanda keputusasaan keluarga atas belum ditemukannya anggota keluarga mereka. Kehadiran Gubernur Banten Andra Soni dan Kepala Basarnas Banten Al Amrad dalam konferensi pers pengumuman temuan ini menunjukkan tingginya perhatian pemerintah daerah terhadap insiden yang menewaskan seorang warga Banten tersebut. Penemuan jasad Surakman menjadi satu-satunya kabar pasti dari total delapan orang yang belum ditemukan di kapal itu.
Organisasi profesi Pewarta Foto Indonesia (PFI) menyoroti bahwa mayoritas korban yang masih hilang merupakan fotografer profesional. Ini mengindikasikan bahwa insiden tersebut bukan sekadar kecelakaan transportasi biasa, melainkan menimpa komunitas pers yang sedang menjalankan tugas jurnalistik di wilayah rawan. Fakta bahwa kapal hilang di Selat Sunda, jalur pelayaran aktif, menambah kompleksitas penyelidikan. Hingga kini, nasib lima jurnalis dan dua kru kapal lainnya masih menjadi misteri, meninggalkan luka batin mendalam bagi keluarga dan rekan sejawat mereka di media nasional.
Analisis Redaksi
Penemuan jasad Surakman di Pulau Enggano, yang jauh dari titik hilangnya kapal di Selat Sunda, memberikan indikasi kuat tentang dinamika arus laut atau kemungkinan kapal terseret sebelum karam. Enam hari setelah pencarian resmi dihentikan, temuan ini membuktikan bahwa operasi SAR berbasis teknologi dan koordinasi antar-lembaga masih memegang peranan penting meski dalam fase pasca-henti. Namun, fakta bahwa hanya satu jenazah yang ditemukan dan teridentifikasi, sementara tujuh lainnya (termasuk lima jurnalis terkemuka) tetap hilang, memperburuk spekulasi publik mengenai penyebab awal insiden. Apakah itu kegagalan teknis, kondisi cuaca ekstrem, atau kelalaian prosedur keselamatan?
Ketimpangan informasi antara satu tubuh yang ditemukan dan tujuh orang yang masih hilang menciptakan potensi disonansi kognitif dalam narasi publik. Jika kapal memang hancur total di Selat Sunda, mengapa jenazah muncul di Bengkulu? Ini menuntut transparansi penuh dari otoritas maritim dan SAR mengenai rekaman terakhir, kondisi cuaca, dan log pelayaran. Bagi dunia pers, kasus ini menjadi ujian integritas: bagaimana keselamatan jurnalis di lapangan harusnya diprioritaskan di atas kebutuhan berita. Kehilangan lima fotografer sekaligus dalam satu kapal mengancam kesiapan media untuk melaporkan bencana serupa di masa depan.
Langkah logis berikutnya adalah memperluas investigasi forensik maritim di perairan Pulau Enggano dan Selat Sunda, serta membuka akses data pelayaran kepada publik secara terbatas. Pemerintah perlu memastikan bahwa tabur bunga keluarga tidak menjadi akhir dari perhatian, melainkan awal dari akuntabilitas penuh. Jika tujuh orang lain tidak ditemukan, masyarakat berhak mengetahui penyebab pasti apakah itu musibah alam murni atau ada unsur kelalaian manusia yang bisa dicegah. Jangan sampai kasus ini tenggelam oleh arus waktu sebelum keadilan informasi terpenuhi bagi para korban dan keluarga mereka.
