Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Indonesia Tertahan di Peringkat 20 Asian Games 2026, Karate Sumbang Perunggu Kedelapan

OlahragaDimas PratamaDimas PratamaSumber: CNN Olahraga
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Indonesia Tertahan di Peringkat 20 Asian Games 2026, Karate Sumbang Perunggu Kedelapan
BAGIKAN:

Kontingen Indonesia masih berkutat di peringkat ke-20 klasemen medali Asian Games 2026 dengan total delapan medali tanpa satu pun emas hingga seluruh pertandingan berakhir pada Selasa (22/9) malam. Posisi ini menjadi alarm nyata bagi delegasi Merah Putih yang harus bekerja jauh lebih keras di sisa hari pertandingan.

Tambahan perunggu terakhir datang dari arena karate. Cok Istri Agung Sanistyarani memastikan medali tersebut setelah mengalahkan wakil India dengan skor meyakinkan 6-1 di kelas kumite putri -55kg. Kemenangan itu sekaligus menutup hari Selasa dengan sedikit angin segar bagi kontingen.

Dengan raihan satu medali perak dan tujuh medali perunggu, posisi Indonesia justru melorot dibandingkan catatan klasemen pada Senin (21/9) hingga Selasa (22/9) sore. Absennya medali emas membuat peringkat kita terus tertekan oleh negara-negara lain yang mulai memecah kebuntuan juara mereka.

Puncak klasemen masih dikuasai China secara absolut. Raksasa Asia itu mengoleksi 32 emas, 13 perak, dan delapan perunggu. Tuan rumah Jepang membuntuti di peringkat kedua dengan 11 emas, 16 perak, dan 19 perunggu. Korea Selatan dan Kazakhstan berbagi jatah enam emas untuk menempati peringkat ketiga dan keempat, sementara Thailand duduk di peringkat kelima lewat empat emas, satu perak, dan satu perunggu.

Thailand kini memimpin perburuan emas kawasan Asia Tenggara. Selain mereka, Myanmar, Singapura, Malaysia, dan Vietnam sudah lebih dulu menyentuh podium tertinggi. Fakta bahwa lima negara ASEAN lain telah menggenggam emas tentu menambah beban psikologis bagi para atlet Indonesia yang tersisa.

Peluang memutah kebuntuan emas belum sepenuhnya tertutup. Cabang badminton, angkat besi, dan panjat tebing masih menyisakan nomor-nomor pertandingan pada hari ini hingga hari-hari ke depan. Tiga cabang inilah yang secara historis selalu menjadi lumbung medali utama bagi Indonesia di ajang multievent internasional.

Analisis Redaksi

Absennya medali emas hingga hari kedelapan menunjukkan ada masalah dalam eksekusi target di cabang-cabang unggulan. Secara matematis, delapan medali bukanlah angka buruk. Namun dalam kalkulasi klasemen klasemen medali, emas adalah mata uang tunggal yang menentukan posisi sebuah negara. Ketimpangan antara jumlah perunggu yang melimpah dan nihilnya emas mengindikasikan atlet kita mampu menembus semifinal, tetapi kerap kehilangan ketajaman saat bertanding di laga penentuan.

Ketertinggalan dari tetangga ASEAN seperti Thailand, Vietnam, hingga Myanmar patut dibaca sebagai sinyal pergeseran kekuatan olahraga regional. Negara-negara tersebut terbukti berhasil memaksimalkan persiapan mereka. Jika Indonesia gagal meraih emas dalam dua hingga tiga hari ke depan, tekanan terhadap pengurus cabang olahraga terkait akan berlipat ganda begitu kontingen pulang ke Tanah Air.

Fokus sekarang harus diarahkan penuh pada nomor-nomor final di badminton, angkat besi, dan panjat tebing. Pelatih perlu mengevaluasi strategi tanding secara cepat, terutama manajemen mental atlet saat menghadapi tekanan di detik-detik krusial. Tanpa perubahan pendekatan yang signifikan di ruang ganti, target mempertahankan tradisi emas akan semakin sulit digapai.

Meow! Tanya Nesi!
😸