Herdman Samakan FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF dengan F1 dan Reli, Soroti Perubahan Drastis Skuad Garuda
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Pelatih Timnas Indonesia John Herdman menegaskan bahwa persaingan di FIFA ASEAN Cup 2026 dan Piala AFF memiliki karakter yang jauh berbeda. Juru taktik asal Inggris itu mengibaratkan kedua kompetisi tersebut seperti balapan Formula 1 dan balapan reli.
Perbedaan paling mencolok terletak pada komposisi pemain skuad Garuda. Herdman memastikan susunan tim saat ini tak bisa disamakan dengan ajang sebelumnya. Hanya ada sekitar lima pemain lama yang kembali dipanggil ke dalam skuad saat ini. Kehadiran deretan pemain abroad membuat kedalaman skuad Indonesia jauh lebih mumpuni. Kondisi ini memberikan fleksibilitas bagi Herdman untuk menerapkan rotasi pemain di setiap pertandingan.
"Tentu saja ini tim yang berbeda. Ini tim yang benar-benar berbeda," kata Herdman kepada awak media usai latihan tim di Jakarta, Selasa (22/9). "Maksud saya, hanya ada sekitar lima pemain yang kami bawa dari turnamen tersebut ke skuad saat ini," ujar Herdman menambahkan.
Perbedaan materi pemain memaksa gaya pendekatan tim harus disesuaikan secara total. Pelatih berusia 51 tahun tersebut menganggap tantangan di kedua ajang sangat kontras. "Jadi ini seperti membandingkan balapan Formula 1 dengan balapan reli, dua hal yang sangat berbeda," tutur Herdman.
Klaim perbedaan kualitas kompetisi tersebut menyisakan catatan kritis tersendiri. Timnas Indonesia sejatinya membawa pemain unggulan di Piala AFF 2026. Herdman menunjuk 12 pemain naturalisasi demi hasil maksimal, walau harus merasakan realitas gagal lolos fase grup. Jika dibandingkan, negara-negara rival seperti Thailand dan Vietnam pada dasarnya memboyong kerangka skuad yang tak jauh berbeda. Di kubu Vietnam, nama-nama seperti Nguyen Xuan Son, Nguyen Dinh Bac, Nguyen Hai Long, Nguyen Quang Hai, hingga Nguyen Tai Loc tetap tampil baik di AFF maupun FIFA ASEAN Cup. Adapun di kubu Thailand, pilar layaknya Teerasak Poeiphima, Seksan Ratree, Sarach Yooyen, Manuel Bihr, dan Kakana Khamyok masih jadi andalan di kedua turnamen tersebut.
Indonesia justru dihadapkan pada tantangan minimnya waktu persiapan. Skuad Merah Putih harus menyatukan deretan pemain bintang berlabel Eropa dalam hitungan hari menjelang laga pembuka kontra Singapura, Jumat (25/9).
Analisis Redaksi
Analogi Formula 1 dan reli yang dilontarkan Herdman bukan sekadar kiasan kosong. Pernyataan ini adalah sinyal kuat bahwa ia sedang membangun ulang identitas bermain Timnas Indonesia dari nol. Dengan hanya mempertahankan lima pemain lama, Herdman secara terbuka memutus rantai kontinuitas yang selama ini menjadi pegangan publik sepak bola kita. Ia memilih mengandalkan kedalaman skuad anyar yang diisi pemain-pemain abroad sebagai fondasi utama.
Namun, narasi soal perbedaan level kompetisi perlu dicermati dengan kepala dingin. Fakta bahwa Thailand dan Vietnam mempertahankan tulang punggung tim mereka di kedua turnamen membuktikan bahwa stabilitas kerangka skuad tetap menjadi kunci di Asia Tenggara. Kegagalan Indonesia menembus fase grup Piala AFF 2026 meski diperkuat 12 pemain naturalisasi menunjukkan bahwa menumpuk nama besar tanpa kohesi tim tidak menjamin apa-apa. Rotasi pemain memang terdengar ideal di atas kertas, tetapi eksekusinya menuntut pemahaman taktis yang matang antarindividu.
Waktu tiga hari sebelum laga pembuka melawan Singapura pada Jumat (25/9) adalah kemewahan yang tidak dimiliki Herdman. Menyatukan pemain berlabel Eropa yang baru turun dari pesawat dengan ritme permainan regional membutuhkan adaptasi cepat. Jika transisi ini gagal dikelola, perumpamaan indah tentang Formula 1 hanya akan berakhir sebagai retorika ruang ganti yang tidak tercermin di lapangan hijau.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Sassuolo Terjun Bebas: Jay Idzes dkk Terancam Masuk Zona Degradasi usai Raih 1 Poin dari 6 Laga

Klasik PSMS vs Persija Pembuka: Duel Bersejarah Kembali di League Cup 2026/2027

Gerrard Prediksi Tiga Klub Ini Bersaing Gelar Liga Inggris, Brighton Tak Masuk Akar
