Gempa M4.6 Guncang Perairan Barat Laut Ternate, Warga Diminta Tetap Tenang
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Ternate – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik dengan magnitudo 4,6 yang mengguncang wilayah perairan barat laut Kota Ternate, Maluku Utara, pada Rabu (23/9/2026). Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa terletak pada koordinat spesifik sekitar 106 kilometer ke arah Barat Laut (WNW) dari pusat kota Ternate, dengan kedalaman hiposenter dangkal yang umumnya berkisar antara 10 hingga 20 kilometer di bawah permukaan laut.
Gempa tersebut terjadi tepat pada pukul 15.23 WIB atau 17.23 WIT. Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat laporan mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat peristiwa alam ini. Getaran gempa dilaporkan dirasakan lemah oleh sebagian warga di pesisir Ternate, sementara masyarakat di daerah terpencil lainnya tidak merasakan dampak signifikan. BMKG memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami mengingat magnitudonya yang relatif kecil dan lokasi episenternya yang berada jauh dari zona subduksi aktif utama yang mampu memicu gelombang besar.
Analisis Pakar Geofisika
Dari perspektif geofisika, posisi episenter gempa di 106 km WNW Ternate menempatkannya di dalam kompleks struktur sesar lokal yang berdekatan dengan Zona Subduksi Sangihe-Talaud. Wilayah Maluku Utara dikenal sebagai salah satu kawasan paling seismik di Indonesia karena pertemuan tiga lempeng tektonik utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Namun, untuk kejadian dengan magnitudo 4,6 di jarak tersebut, mekanisme sumber kemungkinan besar terkait dengan aktivitas sesar mendatar atau normal lokal yang mengakomodasi tegangan regional, bukan pelepasan energi masif dari bidang kontak antar-lempeng (megathrust).
Secara historis, kegempaan di sektor utara Halmahera dan sekitarnya sering kali didominasi oleh gempa-gempa menengah dengan frekuensi tinggi namun intensitas rendah. Potensi gempa susulan (aftershocks) memang ada, namun berdasarkan hukum Omori-Utsu, amplitudo getaran susulan akan menurun secara eksponensial seiring waktu dan jarang melampaui magnitudo gempa utama. Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan retakan tanah ringan jika berada di lereng curam, namun tidak perlu panik berlebihan. Ketiadaan potensi tsunami sudah diverifikasi melalui pemodelan numerik cepat yang menunjukkan deformasi dasar laut yang minimal, sehingga aman bagi aktivitas maritim dan pesisir.