Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Film Pendek Kucing ITB 'Meong!' Raih Penghargaan di NextScene Film Festival 2026

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: CNN Selebriti
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Film Pendek Kucing ITB 'Meong!' Raih Penghargaan di NextScene Film Festival 2026
BAGIKAN:

Film pendek Meong! garapan kelompok mahasiswa Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM ITB) meraih penghargaan Most Inspiring Film Award pada ajang NextScene Kids & Youth Film Festival 2026 yang berlangsung di Jakarta, 6-9 Agustus lalu. Karya tim Ophiuchus Project ini mengalahkan puluhan film lain dari berbagai negara berkat narasi sederhana tentang seekor kucing kampus yang menemani mahasiswa mengerjakan tugas akhir.

Penghargaan tersebut bukan pencapaian kecil. Festival internasional yang menjadi wadah ekspresi kreatif bagi sineas muda global ini memasuki edisi kedua tahun ini. Layar pemutaran tersebar di dua lokasi strategis: Taman Ismail Marzuki (TIM) dan CGV fX Sudirman. Juri harus memilah 54 film dari 14 negara sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada karya sutradara sekaligus penulis Fransiska Fernanda.

Fransiska mengaku terkejut dengan hasil tersebut. "Jujur, penghargaan ini sesuatu yang tidak aku ekspektasikan. Penghargaan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami," tutur Fransiska seperti dikutip dari publikasi di laman resmi ITB, Senin (21/9). Ia juga menyampaikan terima kasih kepada komunitas ITB Street Feeding yang membantu proses produksi hingga melahirkan momen adegan unik secara alami bersama sang pemeran utama kucing bernama Siti.

Mengusung genre drama slice of life, Meong! mengambil sudut pandang seekor kucing kampus berlatar lingkungan ITB. Narasinya menyoroti kesetiaan sang kucing mendampingi seorang mahasiswa yang berjuang menghadapi tekanan tugas akhir. Proses penggarapannya sendiri memakan waktu panjang karena dimulai sejak Maret 2025. Pencarian pemeran utama menjadi babak paling menyita tenaga. Director of Photography sekaligus editor Dudih Purwadi menjelaskan bahwa tim menggelar casting seharian penuh di Kampus ITB.

"Hampir 40 kucing yang kami coba casting. Kami memperhatikan warna bulu yang cocok dan karakter kucing yang mudah diarahkan. Hingga akhirnya kami memilih Siti yang cocok untuk peran ini," kata Dudih. Siti adalah kucing yang biasa beraktivitas di sekitar Gedung Labtek VII ITB. Sepuluh orang kru di lapangan harus bekerja ekstra peka terhadap kondisi psikologis Siti selama syuting. Pengambilan gambar langsung dihentikan sementara begitu sang kucing menunjukkan tanda-tanda stres.

Penulis sekaligus produser Vincentius Bhagaskara merumuskan inti cerita dari fenomena sehari-hari di kampus. Kucing-kucing liar kerap hadir di tengah dinamika kehidupan mahasiswa tanpa diundang. "Inti dari film ini, kami mau membawakan bahwa sesuatu seperti kucing kecil atau mungkin hal kecil lainnya di dunia ini bisa sangat menginspirasi dan bermakna bagi seseorang," ujar Vincentius. "Meskipun terkadang hal kecil tersebut sebenarnya biasa saja atau bahkan tidak berharga di mata orang lain," tuturnya.

Analisis Redaksi

Kemenangan Meong! membuktikan bahwa festival film internasional kini membuka ruang lebar bagi narasi hiperlokal yang dieksekusi dengan kejujuran emosional. Juri NextScene Kids & Youth Film Festival 2026 tidak mencari efek visual mahal atau plot rumit. Mereka menghargai kepekaan sineas muda dalam membaca lingkungan terdekatnya. Fakta bahwa tim produksi rela melakukan casting terhadap hampir 40 kucing demi mendapatkan karakter yang tepat menunjukkan disiplin kerja profesional yang jarang ditemukan pada level produksi kampus.

Kolaborasi antara LFM ITB dan komunitas ITB Street Feeding patut dicatat sebagai model kerja kreatif yang sehat. Keterlibatan komunitas penyayang hewan memastikan proses syuting berjalan etis. Keputusan sepuluh orang kru menghentikan pengambilan gambar saat Siti menunjukkan tanda stres bukanlah hambatan teknis, melainkan standar moral yang seharusnya diadopsi lebih luas oleh industri perfilman kita ketika melibatkan hewan hidup di depan kamera.

Secara logis, capaian ini akan memicu efek domino positif bagi ekosistem film pendek mahasiswa di Indonesia. Prestasi di ajang yang mempertemukan 54 film dari 14 negara memberikan legitimasi bahwa unit kegiatan mahasiswa mampu bersaing di luar pagar kampus. Langkah selanjutnya yang masuk akal adalah dorongan dari pihak rektorat ITB untuk memperluas dukungan pendanaan bagi proyek-proyek serupa, agar talenta seperti Fransiska, Dudih, dan Vincentius tidak berhenti hanya pada satu film pendek.

Meow! Tanya Nesi!
😸