Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Anthology Studio Garap Adaptasi Korea Killing Eve, Geser Panggung ke Asia

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: CNN Selebriti
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Anthology Studio Garap Adaptasi Korea Killing Eve, Geser Panggung ke Asia
BAGIKAN:

Rumah produksi Anthology Studio resmi mengamankan hak adaptasi serial mata-mata Inggris populer, Killing Eve, untuk versi drama Korea. Proyek ini menandai langkah strategis studio yang sebelumnya dikenal lewat film Cobweb (2023) dan remake The Intern tersebut dalam mengekspansi pasar konten global melalui lisensi silang.

Korea Herald melaporkan pada Senin (21/9) bahwa alih-alih mempertahankan latar lanskap Eropa yang kental seperti aslinya, tim kreatif berencana menggeser panggung cerita ke kawasan Asia. Perubahan setting ini diharapkan memberikan nuansa segar sekaligus relevan bagi penonton lokal tanpa menghilangkan esensi ketegangan psikologis yang menjadi ciri khas serial orisinalnya.

Hingga kini, detail mengenai jajaran pemain utama masih dirahasiakan rapat-rapat oleh pihak studio. Belum ada konfirmasi terkait tenggat jadwal produksi maupun kepastian tanggal rilis di layar kaca, meninggalkan spekulasi liar di kalangan penggemar yang menunggu siapa aktor atau aktris yang akan membawa karakter ikonik ini ke wajah baru.

Sebagai bagian dari kesepakatan lisensi silang atau reciprocal licensing, Anthology Studio kabarnya juga menyerahkan hak kekayaan intelektual atas karya mereka bertajuk Human Mart kepada kreator orisinal Killing Eve. Mekanisme tukar-menukar IP ini menunjukkan kedewasaan industri hiburan Korea dalam berkolaborasi dengan mitra internasional demi memperluas portofolio konten mereka.

Killing Eve sendiri merupakan hasil adaptasi seri novel Villanelle karya Luke Jennings, diproduksi oleh Sid Gentle Films untuk BBC America dan BBC Three. Serial ini pertama kali tayang pada 2018 dan langsung panen pujian dari kritikus serta penonton berkat dinamika unik antara agen intelijen Inggris Eve Polastri dan pembunuh bayaran psikopat bernama Villanelle.

Analisis Redaksi

Adaptasi lintas budaya terhadap properti intelektual Barat bukan hal baru di Korea Selatan, namun kasus Killing Eve menarik karena kompleksitas karakter antagonisnya. Keberhasilan Sandra Oh dan Jodie Comer memenangkan penghargaan bergengsi—Golden Globe dan Emmy masing-masing pada 2019—menjadi pedang bermata dua bagi produser Korea. Ekspektasi tinggi terhadap kualitas akting akan membayangi pemilihan casting, mengingat peran ini menuntut kedalaman emosional dan karisma fisik yang jarang ditemukan dalam satu paket.

Pergeseran latar ke Asia berpotensi mengubah tekstur naratif secara signifikan. Jika versi asli mengandalkan estetika dingin dan jarak geografis Eropa sebagai metafora isolasi karakter, konteks Asia mungkin menawarkan dinamika sosial yang lebih kolektif namun tetap mematikan. Langkah logis berikutnya adalah bagaimana sutradara menyeimbangkan referensi visual asli dengan identitas lokal agar tidak terjebak menjadi sekadar tiruan dangkal. Publik perlu waspada terhadap risiko 'lost in translation' jika elemen obsesi mutual antara kedua protagonis tidak ditangani dengan sensitivitas setara.

Meow! Tanya Nesi!
😸