Amanda Lear Tuding Miley Cyrus Jiplay 'The Sphinx' Lewat Lagu 'Redlights'
Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

- Penyanyi disko asal Prancis, Amanda Lear, secara terbuka menuduh lagu terbaru Miley Cyrus berjudul Redlights sebagai hasil jiplak karya klasiknya dari era 1970-an.
- Tuduhan ini mencuat setelah kemiripan mencolok antara balada dalam album ke-10 Cyrus, Bass Persuades , yang baru rilis Jumat pekan lalu, dengan lagu Lear tahun 1978, The Sphinx .
- Kasus ini memicu perhatian publik karena melibatkan dua figur besar di industri musik lintas generasi.
Penyanyi disko asal Prancis, Amanda Lear, secara terbuka menuduh lagu terbaru Miley Cyrus berjudul Redlights sebagai hasil jiplak karya klasiknya dari era 1970-an. Tuduhan ini mencuat setelah kemiripan mencolok antara balada dalam album ke-10 Cyrus, Bass Persuades, yang baru rilis Jumat pekan lalu, dengan lagu Lear tahun 1978, The Sphinx. Kasus ini memicu perhatian publik karena melibatkan dua figur besar di industri musik lintas generasi.
Lear mengonfirmasi kepada AFP pada Senin (21/9) bahwa pihak label rekamannya, Universal, beserta penerbit lagu tersebut kini menuntut pengakuan resmi atas dugaan penjiplakan karya yang liriknya ia tulis sendiri. Ia menegaskan bahwa langkah hukum atau tuntutan formal belum diajukan oleh dirinya secara personal, melainkan didorong oleh kepentingan korporasi yang menangani hak cipta lagunya. Sikap Lear tetap tenang meski isu plagiarisme sering kali berujung pada sengketa panjang di pengadilan.
Melalui akun media sosial pribadinya, Lear mengunggah sindiran terbuka untuk Cyrus sembari menyematkan tagar bernada sentilan. "Terima kasih, Miley, sudah meniru lagu saya The Sphinx! Saya merasa tersanjung!" tulis Lear. Unggahan tersebut viral dan memancing diskusi hangat di kalangan penggemar kedua artis. Gaya penyampaian Lear yang ironis namun sopan menunjukkan kedewasaan profesionalnya dalam menghadapi tuduhan serius tanpa menjatuhkan reputasi rekan sejawatnya secara agresif.
Kepada media, mantan kekasih gitaris The Rolling Stones, Brian Jones, itu menjelaskan posisinya dengan jelas. "Saya tidak pernah menjadi pribadi yang suka bersengketa, tetapi label rekaman saya, Universal, dan pihak penerbit lagu ingin ada pengakuan atas plagiarisme ini," tutur Lear. Ia menambahkan, "Saya hanya menunjukkan situasinya dengan mengucapkan terima kasih kepada Miley Cyrus dan menambah ucapan tersanjung. Saya tidak pernah mengancam akan menuntut atau membalas dendam." Pernyataan ini membedakan antara tindakan legal perusahaan dan sikap personal sang seniman.
Amanda Lear dikenal sebagai musisi dan komposer produktif yang telah menelurkan lebih dari 20 album sepanjang kariernya. Selain jejak panjangnya di industri musik disko, sosok yang juga dipercaya menjadi inspirasi di balik lagu Miss Amanda Jones milik grup band legendaris asal Inggris tersebut pada era Swinging Sixties di London, memiliki pengaruh budaya pop yang signifikan. Sementara itu, Redlights merupakan salah satu lagu rilisan terbaru Miley Cyrus yang diproduksi bersama Kid Harpoon, Maxx Morando, dan Michael Pollack serta tim produksi The Monster & Strangerz. Sang penyanyi sebelumnya mengungkapkan bahwa Redlights adalah salah satu hasil rekaman yang paling ia sukai, sebuah pernyataan yang kini terdengar kontradiktif di tengah badai tuduhan ini.
Analisis Redaksi
Dugaan plagiarisme dalam kasus ini menyentuh inti perdebatan tentang batas antara inspirasi kreatif dan pencurian intelektual di era digital. Fakta bahwa label Universal mengambil alih inisiatif menuntut pengakuan resmi, sementara Lear memilih jalur diplomatis melalui media sosial, menunjukkan strategi manajemen krisis yang terukur. Publik perlu mewaspadai bagaimana narasi "tersanjung" dapat digunakan sebagai alat negosiasi lunak sebelum eskalasi ke ranah hukum penuh. Ini bukan sekadar konflik antar-penyanyi, melainkan pertempuran hak cipta klasik yang dipermainkan di panggung opini publik.
Langkah selanjutnya kemungkinan besar bergantung pada respons tim hukum Miley Cyrus dan apakah mereka bersedia memberikan kredit tambahan atau kompensasi finansial untuk menghindari litigasi mahal. Jika kemiripan melodi terbukti substansial secara teknis, preseden bagi artis muda yang menggunakan sampel atau gaya retro bisa berubah drastis. Bagi konsumen musik, insiden ini mengingatkan pentingnya verifikasi orisinalitas sebelum menikmati produk akhir, sekaligus menegaskan bahwa warisan musik lama masih hidup dan dilindungi ketat di pasar modern.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Perpisahan Chimot: Permintaan Maaf dan Warisan 20 Tahun for Revenge

Sinematografi Romantis: Tian Xiwei Kembali ke Drama Modern 'Love Knows No Walls' dengan Nuansa Suspense Gelap

Reese Witherspoon Pangkas Separuh Staf Hello Sunshine, Fokus pada Proyek Film dan Buku
