Xi Jinping Pecat Dua Jenderal Top Militer; Houthi Serang Riyadh dan Fasilitas Minyak Saudi

Presiden Xi Jinping memberhentikan dua jenderal berpangkat tinggi militer China dari jabatannya pada Senin (21/9), dengan alasan dugaan korupsi dalam tubuh Partai Komunis. Langkah tegas ini menyinggung dua figur senior, termasuk Zhang Youxia, yang dipercaya dekat dengan pemimpin tersebut. Di sisi lain, ketegangan di kawasan Teluk Jazirah Arab kembali memanas ketika milisi Houthi di Yaman melancarkan serangan rudal dan drone baru-baru ini.
Zhang Youxia, yang menjabat sebagai salah satu dari dua Deputi Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC), turut terdampak pemberhentian ini. CMC adalah lembaga tertinggi militer di China. Pada Januari tahun ini, Kementerian Pertahanan telah menyatakan bahwa Zhang dan perwira lain, Liu Zhenli, "diduga melakukan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius", sebuah eufimisme resmi untuk tuduhan korupsi. Pengumuman resmi hari Senin ini mengonfirmasi pencabutan jabatan mereka sebagai bagian dari kampanye pembersihan internal.
Meskipun gerakan antikorupsi besar-besaran menjadi ciri khas masa kepemimpinan Xi Jinping, penangkapan atau pemberhentian jenderal setinggi Zhang mengejutkan banyak pengamat. Senioritas Zhang dan persepsi kedekatannya dengan Xi membuat langkah ini dianggap anomali dalam hirarki militer China. Ini menunjukkan bahwa tidak ada pejabat, betapapun tingginya, yang kebal dari disiplin partai, terutama di sektor strategis seperti militer.
Sementara di Yaman, eskalasi konflik terjadi pada Sabtu (19/9) saat milisi Houthi kembali menembakkan senjata ke Arab Saudi. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya menembakkan "sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, dan drone" ke sejumlah "lokasi sensitif" di ibu kota Riyadh. Serangan juga menargetkan fasilitas minyak nasional Arab Saudi di Yanbu, sebuah terminal penting yang terletak di pesisir Laut Merah. Serangan ini menandai peningkatan signifikan intensitas konflik yang sudah berlarut-larut selama beberapa bulan terakhir.
Arab Saudi merespons serangan tersebut dengan sistem pertahanan udaranya. Juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, mengonfirmasi bahwa rudal yang mengarah ke Riyadh berhasil dicegat. Ia menambahkan bahwa pertahanan udara juga berhasil menggagalkan serangan terhadap "warga sipil dan infrastruktur sipil" di wilayah lain. Di medan perang, berita duka menyelimuti komunitas Islam global ketika Syekh Ibrahim Al Madani, muazin legendaris Masjidil Haram di Mekkah, meninggal dunia pada Senin (21/9) dini hari. Ia baru saja mengumandangkan adzan Subuh terakhirnya di masjid suci tersebut.
Analisis Redaksi
Pemecatan dua jenderal CMC, khususnya Zhang Youxia, mengisyaratkan konsolidasi kekuasaan Xi Jinping yang semakin ketat di sektor pertahanan. Jika seorang jenderal yang diyakini dekat dengan pemimpin saja tidak aman, maka pesan moralnya jelas: loyalitas partai lebih utama daripada loyalitas faksi internal. Ini bisa memicu reorganisasi struktural di militer China dalam waktu dekat, di mana loyalitas ideologis akan menjadi kriteria utama promosi dan retensi personel. Pengamat memperkirakan gelombang pembersihan di level komando yang lebih rendah mungkin menyusul.
Di Yaman, serangan Houthi ke Riyadh dan Yanbu mengindikasikan bahwa kelompok ini tidak hanya menyerang sekutu atau wilayah perbatasan, tetapi mulai menargetkan jantung ekonomi dan politik Arab Saudi. Menargetkan infrastruktur minyak di Yanbu adalah strategi perang asimetris untuk mengganggu pasokan energi global. Arab Saudi tampaknya menghadapi dilema: meningkatkan tekanan militer yang bisa memperdalam konflik Yaman, atau merestrukturisasi negosiasi dengan Houthi. Eskalasi ini berisiko menarik negara-negara besar lain ke dalam permainan proxy war yang lebih kompleks.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
