Semifinal Beregu Putra Asian Games 2026: Indonesia Tantang Thailand Pukul 13.00 WIB
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

- Tim bulu tangkis beregu putra Indonesia akan langsung menghadapi ujian berat melawan Thailand pada semifinal Asian Games 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Rabu (23/9).
- Pertandingan krusial ini dijadwalkan bergulir pukul 15:00 waktu setempat atau tepat pukul 13:00 WIB, menyusul kemenangan dramatis kedua tim di babak perempat final sehari sebelumnya.
- Jalan menuju empat besar tidak pernah mudah bagi skuad Merah Putih.
Tim bulu tangkis beregu putra Indonesia akan langsung menghadapi ujian berat melawan Thailand pada semifinal Asian Games 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Rabu (23/9). Pertandingan krusial ini dijadwalkan bergulir pukul 15:00 waktu setempat atau tepat pukul 13:00 WIB, menyusul kemenangan dramatis kedua tim di babak perempat final sehari sebelumnya.
Jalan menuju empat besar tidak pernah mudah bagi skuad Merah Putih. Indonesia harus memeras keringat hingga partai kelima untuk menyingkirkan Malaysia dengan skor tipis 3-2, Selasa (22/9). Andalan utama tunggal putra pertama, Jonatan Christie, justru membuka laga dengan kekalahan mengejutkan 1-2 dari Jung Hao Leong. Sempat merebut gim pertama lewat adu setting 22-20, Jonatan kehilangan ritme dan takluk beruntun 12-21 serta 17-21.
Kekalahan pembuka itu nyaris meruntuhkan moral tim. Ganda putra pertama Fajar Alfian/Muh Shohibul Fikri tampil sebagai penyelamat. Mereka mengalahkan Goh Sze Fei/Mohd R Nur Izzuddin dalam tiga gim ketat 21-15, 19-21, 21-10 untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Momentum berbalik ketika Alwi Farhan memenangkan partai ketiga secara meyakinkan. Dua gim langsung ia sapu bersih 21-19, 21-19 atas Justin Shou Wei Hoh, membawa Indonesia unggul 2-1.
Malaysia menolak menyerah begitu saja. Aaron Chia/Tee Kai Wun memaksa laga berlanjut setelah membungkam Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin 17-21, 21-16, 21-13 pada pertandingan keempat. Skor imbang 2-2 membuat tekanan sepenuhnya bertumpu pada pundak Moh Zaki Ubaidillah di partai penentu. Ubed, sapaan akrabnya, menjawab keraguan itu dengan performa tanpa cela. Ia menghancurkan Eogene Eon Ewe dua set langsung 21-11, 21-11, sekaligus mengunci tiket semifinal bagi Indonesia.
Di sisi lain, Thailand membuktikan diri bukan lawan sembarangan. Mereka melumat Taiwan 3-1 melalui permainan yang sama alotnya. Kunlavut Vitidsarn sempat tertinggal satu gim sebelum membalikkan keadaan melawan Chou Tien Chen dengan skor akhir 19-21, 21-16, 21-14. Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul memperbesar keunggulan Thailand jadi 2-0 lewat pertarungan maraton 16-21, 22-20, 23-21 atas Lee Jhe Huei/Yang Po Hsuan. Taiwan hanya mampu memperkecil ketinggalan menjadi 1-2 saat Chi Yu Jen menang atas Panitchaphon Teeraratsakul yang memutuskan retired di gim kedua. Laga ditutup oleh kemenangan ganda Chaloempon Charoenkitamorn/Worrapol Thongsa-Nga atas Liu Kuang-Heng/Wang Chi Lin 13-21, 21-14, 21-14.
Duel siang nanti menuntut fokus ekstra dari seluruh elemen tim. Kemenangan dramatis atas Malaysia memang membangkitkan semangat, tetapi sisa energi fisik dan mental para pemain menjadi pertanyaan besar. Rotasi pemain kemungkinan besar harus dipertimbangkan matang oleh jajaran pelatih agar keletihan akibat laga lima partai kemarin tidak menjadi bumerang fatal di hadapan publik Jepang.
Analisis Redaksi
Kemenangan berdarah-darah atas Malaysia meninggalkan catatan penting soal kedalaman skuad. Ketergantungan berlebihan pada nama-nama besar seperti Jonatan Christie terbukti riskan dalam format beregu. Kebangkitan Alwi Farhan dan ketenangan luar biasa Moh Zaki Ubaidillah di bawah tekanan ekstrem menunjukkan bahwa regenerasi bulu tangkis Indonesia berjalan di jalur yang benar. Namun, Thailand datang dengan komposisi yang lebih merata, dipimpin Kunlavut Vitidsarn yang sudah teruji di panggung tertinggi dunia.
Yang perlu diwaspadai dari kubu Thailand adalah daya juang mereka di partai ganda. Skor 22-20 dan 23-21 yang dicetak Peeratchai/Pakkapon membuktikan mentalitas baja saat situasi kritis. Jika Indonesia kembali terseret ke rubber game atau bahkan partai kelima seperti saat melawan Malaysia, kelelahan akumulatif dari hari sebelumnya akan sangat merugikan langkah menuju final.
Secara logis, strategi terbaik bagi Indonesia adalah mengamankan poin cepat di sektor tunggal dan ganda pertama. Pelatih perlu mempertimbangkan pergeseran susunan pemain untuk memberikan waktu pemulihan maksimal bagi mereka yang bermain penuh kemarin. Jika Fajar/Fikri bisa diandalkan lagi untuk mencuri poin awal, beban psikologis akan berpindah ke kubu Thailand. Pertarungan siang nanti bukan sekadar soal teknik, melainkan siapa yang lebih pintar mengelola stamina dan tekanan di atas lapangan.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

PSG kukuh di puncak Liga Champions, Barcelona kejar ketertinggalan setelah matchday keempat

Australia Rayu Mathew Baker, Piala Asia 2027 Diundur, Megawati Hangestri Debut di Liga Korea

Lepas dari BAM, Cheah Yee See Menikah dengan Teo Kok Siang di Bali
