Prof. Aman Pulungan Tepis Mitos Double Protein Bisa Menambah Tinggi Badan Anak
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Isu yang beredar luas di kalangan orang tua bahwa konsumsi protein ganda atau double protein mampu menambah tinggi badan anak secara signifikan ditepis tegas oleh dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP. Klarifikasi ini menjadi krusial mengingat banyak keluarga Indonesia terjebak pola asuh nutrisi yang keliru akibat informasi tidak berdasar ilmiah.
Prof. Aman menegaskan bahwa pemberian asupan protein berlebih dari kebutuhan harian normal tidak serta-merta memicu lonjakan pertumbuhan linear pada anak. Tubuh manusia memiliki batas maksimal dalam menyerap dan memproses makronutrien tersebut setiap harinya. Kelebihan protein justru akan dibuang melalui sistem ekskresi atau disimpan sebagai lemak.
Mitos nutrisi anak semacam ini kerap menyebar cepat tanpa filter medis yang memadai. Banyak orang tua terburu-buru mengubah menu harian buah hati mereka demi mengejar target tinggi badan tertentu. Padahal, intervensi gizi yang tidak tepat sasaran justru membawa risiko baru bagi kesehatan organ vital anak.
Dalam praktik klinis sehari-hari, gangguan pertumbuhan atau perawakan pendek (stunting) memiliki akar masalah yang jauh lebih kompleks ketimbang sekadar kekurangan satu jenis zat gizi. Faktor genetik, kecukupan kalori total, kualitas tidur, hingga kondisi hormonal memainkan peran yang saling berkelindan. Pendekatan penyederhanaan masalah seperti slogan "makan protein dua kali lipat" sangat menyesatkan publik.
Beban kerja ginjal anak yang dipaksa memetabolisme protein secara berlebihan patut menjadi perhatian serius. Organ tubuh yang masih dalam tahap perkembangan ini bisa mengalami stres fisiologis jika terus-menerus menerima beban kerja di luar kapasitas normalnya. Alih-alih bertambah tinggi, anak justru berpotensi menghadapi gangguan fungsi metabolik jangka panjang.
Kekeliruan persepsi ini juga berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Orang tua rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli suplemen atau bahan pangan berprotein tinggi dengan harapan yang semu. Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pemenuhan gizi seimbang akhirnya habis untuk satu jenis asupan saja.
Analisis Redaksi
Pernyataan Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, membongkar salah satu miskonsepsi paling berbahaya dalam pola asuh modern. Ketika orang tua menyederhanakan proses biologis yang rumit menjadi rumus instan "lebih banyak protein berarti lebih tinggi", mereka mengabaikan prinsip dasar keseimbangan gizi. Pertumbuhan tulang anak dikendalikan oleh interaksi hormon pertumbuhan, faktor genetik, dan nutrisi makro serta mikro yang proporsional, bukan oleh ledakan asupan satu zat tertentu.
Yang perlu diwaspadai adalah ekosistem media sosial yang terus memperdagangkan ketakutan orang tua terhadap tinggi badan anak demi menjual produk komersial. Narasi double protein ini sangat menguntungkan industri suplemen dan susu formula, tetapi merugikan kesehatan masyarakat secara sistematis. Tanpa literasi kesehatan yang kuat, keluarga kelas menengah ke bawah akan menjadi kelompok paling rentan terjebak dalam siklus pengeluaran yang sia-sia dan berpotensi merusak organ pencernaan maupun ekskresi anak mereka.
Langkah logis selanjutnya menuntut keterlibatan aktif Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan untuk mengampanyekan pedoman tumbuh kembang berbasis bukti secara masif. Edukasi tidak boleh lagi berhenti di posyandu dengan pesan-pesan usang. Pemerintah perlu menekan penyebaran klaim kesehatan palsu di platform digital, sementara tenaga medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama harus dilatih untuk memberikan konseling nutrisi yang presisi, bukan sekadar meresepkan tambahan susu protein tinggi kepada setiap anak yang datang dengan keluhan perawakan pendek.