Khofifah Dorong Peningkatan Produktivitas Sapi Perah di Jawa Timur

Ekonomi
Dian KusumaDian Kusuma
Sumber: Antara News
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Khofifah Dorong Peningkatan Produktivitas Sapi Perah di Jawa Timur
BAGIKAN:

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara langsung mendorong pengembangan populasi dan produktivitas sapi perah di wilayahnya melalui serangkaian upaya peningkatan kapasitas peternakan lokal. Langkah ini diambil sebagai respons atas kebutuhan pasokan susu segar dalam negeri yang terus meningkat sementara produksi domestik masih tertatih-tatih memenuhi permintaan pasar.

Fokus utama kebijakan ini menyasar para peternak rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung industri persusuan nasional. Khofifah menilai bahwa tanpa intervensi serius dari pemerintah daerah, peternak kecil akan semakin terpinggirkan oleh biaya pakan yang melambung dan rendahnya efisiensi produksi di tingkat kandang. Upaya peningkatan produktivitas ini mencakup perbaikan manajemen pemeliharaan hingga pendampingan teknis bagi para peternak.

Jawa Timur sendiri merupakan salah satu lumbung susu terbesar di Indonesia. Ribuan peternak sapi perah tersebar di berbagai kabupaten seperti Malang, Pasuruan, dan Kediri, menggantungkan hidup mereka pada setoran susu harian ke koperasi atau industri pengolahan. Kondisi geografis dan iklim di provinsi ini memang mendukung budidaya sapi perah, namun potensi tersebut belum tergarap secara maksimal akibat keterbatasan modal dan teknologi di tingkat akar rumput.

Dorongan dari orang nomor satu di Jawa Timur ini membawa angin segar bagi sektor yang kerap luput dari perhatian publik. Selama bertahun-tahun, wacana swasembada susu hanya berhenti di atas kertas karena minimnya dukungan riil terhadap peternak tradisional. Keterlibatan langsung gubernur diharapkan mampu mengakselerasi program-program teknis yang sebelumnya berjalan lambat di birokrasi tingkat bawah.

Bagi masyarakat luas, peningkatan produktivitas sapi perah ini berdampak langsung pada ketersediaan dan stabilitas harga susu segar. Konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Jika produksi lokal bisa digenjot, ketergantungan terhadap impor susu bubuk dan bahan baku olahan susu dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Kebijakan ini juga memaksa pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Timur untuk menyelaraskan anggaran mereka dengan visi provinsi. Peternak tidak lagi bisa dibiarkan berjuang sendirian menghadapi fluktuasi harga pakan konsentrat yang kerap menggerus margin keuntungan mereka. Sinergi antara dinas peternakan, akademisi, dan pelaku usaha harus segera diwujudkan agar dorongan gubernur tidak sekadar menjadi retorika politik.

Analisis Redaksi

Langkah Khofifah Indar Parawansa ini menunjukkan kesadaran politik yang tepat sasaran. Sektor peternakan sapi perah adalah mata rantai paling lemah dalam industri persusuan nasional. Ketika pemerintah provinsi mengambil alih inisiatif, ada sinyal kuat bahwa masalah ini tidak bisa lagi dilimpahkan sepenuhnya kepada pemerintah pusat. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat dinas terkait menerjemahkan arahan gubernur menjadi bantuan teknis yang menyentuh kandang-kandang peternak rakyat.

Yang perlu diwaspadai adalah jebakan program seremonial. Peningkatan produktivitas membutuhkan perubahan mendasar pada kualitas bibit, formulasi pakan, dan sanitisasi pemerahan. Tanpa menyentuh tiga aspek inti tersebut, segala bentuk dorongan hanya akan menghasilkan lonjakan statistik semu yang tidak bertahan lama. Peternak butuh pendampingan rutin, bukan sekadar bantuan ternak yang dilepas begitu saja tanpa pengawasan pascapanen.

Secara logis, langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah audit menyeluruh terhadap kondisi eksisting peternakan sapi perah di seluruh sentra produksi Jawa Timur. Data akurat mengenai rasio konversi pakan, rata-rata produksi susu per ekor per hari, dan tingkat kesehatan ternak wajib dikantongi sebelum merancang intervensi lanjutan. Hanya dengan fondasi data yang kokoh, target peningkatan produktivitas peternakan Jawa Timur bisa diukur keberhasilannya secara objektif dan bukan sekadar klaim sepihak.

Meow! Tanya Nesi!
😸