Kemenhut Evakuasi 100 Satwa Akibat Karhutla di Enam Provinsi, Delapan Mati Termasuk Satu Orang Utan

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kemenhut Evakuasi 100 Satwa Akibat Karhutla di Enam Provinsi, Delapan Mati Termasuk Satu Orang Utan
BAGIKAN:

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI mencatat sebanyak 100 individu satwa liar telah dievakuasi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda enam provinsi prioritas, dengan delapan di antaranya ditemukan dalam kondisi mati hingga 22 September 2026. Angka ini memotret secara telanjang betapa brutalnya dampak kebakaran terhadap ekosistem di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Data tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi. Ia berbicara di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Selasa (22/9). "Data yang kami kumpulkan sampai dengan hari ini 22 September 2026, Kementerian Kehutanan telah menyelamatkan, melakukan upaya penyelamatan satwa liar sejumlah 100 individu satwa liar di 6 provinsi prioritas," kata Ristianto.

Mayoritas satwa yang berhasil diselamatkan adalah primata endemik yang terancam punah. Dari total 100 satwa itu, 53 di antaranya adalah orang utan. Konsentrasi evakuasi sangat padat di wilayah Kalimantan. Ristianto merinci bahwa 97 persen satwa yang dievakuasi berada di Kalimantan Barat, Timur dan Tengah. "Lalu setelah orang utan, satwa yang jumlahnya tertinggi kami lakukan penyelamatan adalah satwa trenggiling," katanya.

Evakuasi ini bukan tanpa duka. Ristianto mengatakan dari 100 satwa itu, delapan di antaranya mati. Jenis satwa yang gagal bertahan meliputi ular, biawak, kura-kura dan satu ekor orang utan. "Kemudian juga ada 8 satwa dari 100 itu kondisinya mati. Itu ada ular, biawak, kura-kura, termasuk kemarin ada satu ekor orang utan itu," ujarnya. Kematian satu orang utan menjadi pukulan berat mengingat populasi spesies ini terus menyusut akibat hilangnya habitat.

Masyarakat kini dituntut ikut mengambil peran aktif. Kemenhut berharap masyarakat melapor jika menemukan satwa yang terdampak di lapangan. Ristianto menegaskan bahwa penanganan satwa tidak bisa gegabah. "Kami dari Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam setempat pasti akan segera mem-follow up untuk membantu penanganan satwa yang terdampak dari karhutla ini," ujarnya.

Langkah pelibatan warga ini menjadi krusial. Petugas konservasi memiliki keterbatasan personel saat menghadapi sebaran titik api yang masif di enam provinsi sekaligus. Tanpa laporan cepat dari warga sekitar hutan, banyak satwa terluka atau terjebak asap bakal mati sebelum tim evakuasi tiba.

Analisis Redaksi

Konsentrasi 97 persen satwa evakuasi di wilayah Kalimantan mengonfirmasi bahwa pulau ini menanggung beban ekologis paling parah pada musim karhutla tahun ini. Fakta bahwa 53 dari 100 satwa yang diselamatkan adalah orang utan menunjukkan kebakaran menyapu kawasan hutan primer dan sekunder yang menjadi habitat inti primata tersebut. Ini bukan sekadar bencana lingkungan biasa, melainkan ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup spesies kunci yang dilindungi undang-undang.

Kematian delapan satwa, termasuk satu orang utan, harus dibaca sebagai indikator lambatnya respons awal di titik-titik rawan. Reptil seperti ular, biawak, dan kura-kura memiliki mobilitas rendah sehingga mudah terpanggang atau keracunan asap ketika api menjalar cepat. Keterlambatan deteksi dini di lapangan terbukti berakibat fatal bagi kelompok satwa yang tidak mampu melarikan diri secara mandiri dari kepungan api.

Seruan Kemenhut agar masyarakat melapor ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam setempat adalah langkah taktis yang rasional, namun butuh pembuktian di lapangan. Pemerintah wajib memastikan infrastruktur komunikasi dan jalur pelaporan benar-benar berfungsi cepat, bukan sekadar imbauan normatif. Jika sistem pelaporan warga ini berjalan efektif, angka kematian satwa pada fase karhutla berikutnya bisa ditekan sebelum api menghancurkan lebih banyak habitat vital.

Meow! Tanya Nesi!
😸