Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

El Nino Sangat Kuat Tahan Jatim di Puncak Kemarau, Hujan Lebat Baru Turun Desember 2026

TeknologiFitriani NingsihFitriani NingsihSumber: CNN Teknologi
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

El Nino Sangat Kuat Tahan Jatim di Puncak Kemarau, Hujan Lebat Baru Turun Desember 2026
BAGIKAN:

Seluruh wilayah Jawa Timur kini resmi berada di fase puncak musim kemarau akibat terjangan fenomena atmosfer El Nino berkategori sangat kuat yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bakal terus bertahan hingga awal 2027. Staf Analisa dan Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Firda Amalia mengonfirmasi kondisi cuaca kering ekstrem ini pada Selasa (22/9), sekaligus memastikan bahwa masyarakat harus bersiap menghadapi minimnya curah hujan dalam beberapa bulan ke depan.

"Kalau kemarin puncak musim kemarau diprediksi antara Agustus hingga September. Iya, jadi kita sedang berada di puncak musim kemarau," kata Firda saat dikonfirmasi. Pernyataan tersebut menepis harapan akan datangnya peralihan musim yang lebih cepat. Cuaca terik mendominasi langit provinsi paling timur Pulau Jawa ini tanpa jeda yang berarti.

Firda menjelaskan secara rinci proyeksi curah hujan yang masih akan menyiksa warga Jatim. Intensitas hujan diprediksi belum akan beranjak dari kategori rendah hingga dua bulan ke depan. "Kondisi cuacanya cukup kering, dan juga untuk beberapa waktu ke depan memang curah hujannya hingga November itu dari prediksi kami umumnya kategorinya rendah," ungkap Firda. Angka yang dirilis BMKG mempertegas peringatan tersebut. Pada Oktober, curah hujan diperkirakan sangat minim, yakni hanya berkisar 0 hingga 50 milimeter per bulan. Situasi baru sedikit membaik pada November dengan hujan merangkak naik di rentang 51 hingga 100 milimeter per bulan, meski tetap tergolong ringan.

Kabar melegakan baru datang di penghujung tahun. Firda mengatakan peningkatan curah hujan yang masif diprediksi baru akan membasahi wilayah Jawa Timur pada Desember 2026. "Nah, untuk bulan Desember itu mulai banyak hujannya, di BMKG masuk kategori menengah hingga tinggi, yaitu diprediksi sampai 300 - 400 milimeter per bulan," ucapnya. Lonjakan angka dari maksimal 100 milimeter menjadi 400 milimeter menunjukkan transisi cuaca yang sangat drastis menjelang pergantian tahun.

Walau Jatim tengah didera puncak kemarau, bukan berarti langit sepenuhnya menolak menurunkan air. Firda menyebut hujan masih berpeluang turun di sejumlah daerah tertentu. Anomali hujan di musim kering ini umumnya dipicu oleh faktor lokal seperti topografi pegunungan dan kelembapan udara yang tinggi. Selain itu, gangguan gelombang Rossby atau Madden-Julian Oscillation (MJO) sebagai faktor regional juga dapat memicu hujan secara tiba-tiba di titik-titik spesifik.

Bagi puluhan juta penduduk Jawa Timur, rentang waktu dari September hingga November adalah masa kritis yang menuntut kewaspadaan ekstra. Kekeringan panjang berpotensi mengancam pasokan air bersih di kawasan pesisir selatan serta menekan produktivitas pertanian lahan kering yang mengandalkan tadah hujan. Petani dan pemerintah daerah memiliki waktu kurang dari tiga bulan untuk memaksimalkan cadangan embung dan waduk sebelum hujan deras benar-benar tiba di bulan Desember.

Analisis Redaksi

Data BMKG memperlihatkan anomali iklim yang tidak bisa disepelekan. Bertahannya El Nino berkategori sangat kuat hingga awal 2027 menandakan bahwa siklus kekeringan kali ini jauh melampaui pola normal tahunan. Lonjakan curah hujan dari kategori rendah di bawah 100 milimeter pada November menuju 300-400 milimeter pada Desember mengisyaratkan risiko bencana hidrometeorologi ganda: kekeringan ekstrem yang langsung disusul potensi banjir bandang ketika tanah yang retak tak lagi mampu menyerap air secara optimal.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur beserta seluruh kepala daerah tingkat kabupaten dan kota semestinya tidak lagi sekadar mengeluarkan imbauan rutin. Mitigasi kekeringan harus bergerak pada level distribusi air bersih yang terukur, terutama bagi wilayah dengan topografi dataran rendah yang minim peluang hujan anomali. Ketergantungan pada faktor lokal seperti kelembapan udara tinggi atau gangguan MJO untuk mendapatkan pasokan air adalah pertaruhan yang terlalu besar bagi ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Langkah selanjutnya yang logis adalah percepatan penyaluran bantuan pompa air dan optimalisasi sumur bor di sentra-sentra pertanian yang terdampak parah. Transisi cuaca yang tajam pada Desember nanti juga mewajibkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah menyiapkan skenario evakuasi dini. Menghadapi El Nino sekuat ini, kesiapsiagaan berbasis data klimatologi yang presisi adalah satu-satunya tameng yang tersisa.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ