ASN di OKI Tewas Ditikam Istri Sendiri, Cekcok Biaya Obat Anak Berujung Tragedi di Halaman Masjid
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Seorang aparatur sipil negara berinisial A (32) tewas ditikam istrinya sendiri di halaman sebuah masjid di Kelurahan Sukadana, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, pada Senin (21/9). Pelaku berinisial DLA menusuk korban menggunakan pisau sepanjang 30 sentimeter setelah pertengkaran soal biaya pengobatan anak mereka memuncak. Polisi menangkap pelaku tak lama setelah kejadian.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu'min Wijaya memastikan penangkapan tersebut berlangsung cepat. "Kami mengamankan terduga berinisial DLA, pelaku, tak lama setelah kejadian untuk menjalani proses hukum lebih lanjut," kata Nandang di Palembang, Senin. Korban meninggal di lokasi kejadian akibat sejumlah luka tusuk senjata tajam yang mengoyak bagian tubuh, wajah, dan dada.
Akar persoalan ternyata sudah menumpuk sebelum pisau itu terhunus. Pasangan suami istri yang tengah pisah ranjang ini sempat terlibat percekcokan di tempat kerja korban. Sekitar pukul 09.00 WIB, DLA mendatangi Kantor Inspektorat Kabupaten OKI untuk meminta uang berobat anak. Tiga jam berselang, tepatnya sekitar pukul 12.10 WIB, amarah meledak menjadi kekerasan fatal.
Pada puncak percekcokan itulah DLA mengambil sebilah pisau yang sengaja disimpannya di dalam tas. Senjata itu langsung digunakan untuk menyerang korban secara brutal. Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto menegaskan personel kepolisian bergerak cepat menuju lokasi begitu menerima laporan masyarakat. Petugas menyita barang bukti berupa senjata tajam jenis pisau beserta pakaian korban yang berlumuran darah.
"Pihak kepolisian berkomitmen penuh untuk memproses perkara ini secara tuntas, profesional, dan transparan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," ujar Eko. Penyidik Satreskrim Polres OKI kini melengkapi administrasi penyidikan dan berkoordinasi dengan jaksa penuntut umum. Tim medis juga masih menunggu hasil autopsi resmi dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten OKI untuk memperkuat berkas perkara.
Polda Sumsel mengimbau masyarakat menyelesaikan perselisihan keluarga secara bijak tanpa kekerasan. Imbauan ini terasa getir mengingat nyawa seorang ayah melayang hanya karena sengketa biaya pengobatan buah hatinya sendiri. Kasus ini sekaligus membuka tabir rapuhnya komunikasi dalam rumah tangga yang sedang retak.
Analisis Redaksi
Pembunuhan ini bukan sekadar tindak pidana biasa. Fakta bahwa pelaku membawa pisau sepanjang 30 sentimeter di dalam tas saat mendatangi kantor suaminya menunjukkan adanya persiapan matang. Ini bukan ledakan emosi sesaat. Ada kalkulasi gelap yang dibawa DLA sejak ia melangkah keluar rumah menuju Kantor Inspektorat Kabupaten OKI pagi itu. Status pisah ranjang yang dijalani kedua pihak jelas memperparah kebuntuan komunikasi, mengubah tuntutan biaya pengobatan anak menjadi medan perang yang berakhir maut.
Yang patut diwaspadai adalah pola eskalasi konflik domestik di ruang publik. Percekcokan yang bermula pukul 09.00 WIB di dalam kantor pemerintahan dan baru berujung penusukan pukul 12.10 WIB di halaman masjid memberi jeda waktu tiga jam. Dalam rentang waktu itu, tidak ada intervensi dari rekan kerja maupun pihak keamanan setempat untuk mendinginkan suasana. Kegagalan meredam konflik di fase awal ini menjadi catatan serius bagi lingkungan kerja aparatur sipil negara dalam mendeteksi potensi kekerasan yang dibawa dari luar pagar kantor.
Langkah selanjutnya secara logis akan bergantung penuh pada hasil autopsi RSUD Kabupaten OKI dan konstruksi pasal yang disiapkan penyidik Satreskrim Polres OKI bersama jaksa penuntut umum. Motif ekonomi terkait biaya obat anak bisa menjadi faktor yang memberatkan maupun meringankan di meja hijau nanti, tergantung bagaimana majelis hakim membaca kronologi lengkapnya. Namun satu hal pasti: tragedi ini meninggalkan luka permanen bagi anak yang biaya pengobatannya justru memicu hilangnya nyawa sang ayah.