Anwar Ibrahim Nyanyi Lagu Bollywood di KTT BRICS, Sinyal Malaysia Perluas Opsi dari Bayang-bayang AS-China
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyita perhatian publik dan media India setelah video dirinya menyanyikan lagu klasik Bollywood "Khwab Ho Tum Ya Koi Haqeeqat" viral di media sosial, tepat saat ia menghadiri KTT BRICS di New Delhi pada 12-13 September. Momen yang tampak ringan itu sejatinya membawa muatan diplomatik berat. Malaysia hadir dalam pertemuan tersebut sebagai negara mitra BRICS, memanfaatkan panggung internasional untuk memperluas pilihan ekonomi dan strategis di tengah himpitan persaingan Amerika Serikat (AS) dan China.
Lagu yang berarti "Apakah kau mimpi atau kenyataan?" tersebut dipopulerkan oleh penyanyi legendaris India Kishore Kumar pada 1965. Anwar mengunggahnya langsung ke akun media sosialnya. Respons media India mengalir deras. Namun di balik sorotan budaya itu, agenda sesungguhnya berjalan padat. Setelah bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi, Anwar menggelar serangkaian pertemuan dengan para pemimpin politik dan pelaku industri di India. Ia secara agresif mendorong peningkatan modal dan peluang bisnis antara kedua negara.
Langkah ini bukan sekadar basa-basi diplomatik. Nilai perdagangan dua arah Malaysia dengan AS dan China mencapai lebih dari 900 miliar ringgit atau sekitar AS$220 miliar pada 2025. Ketergantungan Putrajaya—pusat administrasi pemerintahan federal Malaysia yang menggantikan Kuala Lumpur—terhadap dua raksasa itu sangat nyata. AS menjadi sumber investasi asing terbesar bagi Malaysia. Sebaliknya, China memasok bahan baku dan peralatan vital bagi industri mereka. Keduanya juga pembeli sekaligus pemasok utama bagi industri semikonduktor Malaysia, sektor yang menyumbang sekitar 13 persen kebutuhan global untuk perakitan, pengujian, dan pengemasan chip serta sekitar 7 persen dari pendapatan tahunan Malaysia.
Dibandingkan angka masif tersebut, hubungan ekonomi Malaysia dengan India masih tertatih. Nilai perdagangan bilateral kedua negara diperkirakan hanya mencapai 79,3 miliar ringgit pada 2025. Padahal, kemitraan strategis komprehensif telah ditandatangani sejak 2024. Potensi pasar India dengan populasi lebih dari 1,4 miliar orang belum tersentuh maksimal. Direktur Muda untuk Malaysia di perusahaan konsultan strategis Asia Group Advisors, Kamles Kumar, melihat celah ini sebagai peluang emas. "Kerja sama yang lebih erat dengan India memberi Malaysia mitra ekonomi dan keamanan penting lainnya tanpa mengharuskan Putrajaya untuk secara tegas memihak salah satu kubu," kata Kamles.
Ruang kerja sama itu terbentang luas. Profesor ekonomi Universitas Sunway, Yeah Kim Leng, menegaskan bahwa mencari pasar alternatif kini menjadi keharusan mendesak karena AS dan China menghadapi tekanan pertumbuhan serta persoalan struktural. "Selain meningkatkan perdagangan dan investasi dengan negara-negara anggota ASEAN, India adalah tetangga terdekat dengan potensi terbesar untuk meningkatkan ekspor Malaysia," ujarnya. Sektor semikonduktor bisa menjadi titik temu sempurna: Malaysia unggul dalam pengemasan dan pengujian chip, sementara India memiliki keahlian desain sirkuit terpadu dan pengalaman fabrikasi chip bagian depan. Peluang lain mencakup peningkatan ekspor minyak sawit ke India serta impor beras dari India untuk memperkuat ketahanan pangan Malaysia.
Diversifikasi ini bahkan merambah sektor pertahanan. Usai bertemu Modi, Anwar menyatakan ketertarikan Malaysia untuk membeli sistem rudal udara-ke-permukaan BrahMos yang dikembangkan bersama India dan Rusia. Mitra di firma penasihat strategis Densui yang berbasis di Kuala Lumpur, Eric Low, menilai langkah ini esensial. "Memperkuat hubungan Malaysia-India dalam hal ini bukan hanya tentang menjauh dari China atau Amerika Serikat, tetapi lebih kepada memperluas pilihan dan posisi ekonomi serta strategis Malaysia, terutama untuk jangka panjang," kata Eric. Kepala Eksekutif perusahaan penasihat kebijakan Strategic Counsel, Hafidzi Razali, menambahkan bahwa Malaysia selalu melindungi posisinya melalui diversifikasi dan mempertahankan posisi netral, memperdalam hubungannya dengan negara lain secara paralel.
Analisis Redaksi
Viralnya nyanyian Anwar Ibrahim tidak boleh dibaca sekadar sebagai manuver pencitraan murahan. Dalam tradisi diplomasi Asia, gestur budaya sering kali menjadi pembuka jalan bagi negosiasi keras yang sulit dilakukan di meja perundingan formal. Ketika seorang pemimpin Malaysia menyanyikan lagu Kishore Kumar di hadapan publik India, ia sedang mengirimkan sinyal psikologis bahwa Putrajaya memandang New Delhi bukan sekadar pasar alternatif, melainkan mitra setara yang dihormati. Ini adalah taktik lunak untuk melunakkan jalan menuju kesepakatan dagang dan militer yang selama ini tertunda.
Niat membeli rudal BrahMos adalah variabel paling sensitif dalam seluruh rangkaian kunjungan ini. Langkah tersebut jelas bertujuan mengurangi ketergantungan pertahanan Malaysia terhadap AS atau sekutu Washington. Namun, seperti diingatkan Kamles, jangkauan dan keserbagunaan rudal itu dapat mengubah persepsi tentang postur pencegahan Malaysia di Laut China Selatan. Beijing tidak akan melihat akuisisi ini sebagai rutinitas belanja alutsista biasa. Putrajaya harus bekerja ekstra keras mengkomunikasikan bahwa pembelian ini murni untuk pertahanan nasional, bukan penargetan terhadap negara tertentu, agar prinsip "sahabat bagi semua, tidak bermusuhan dengan siapa pun" tidak sekadar menjadi slogan kosong.
Secara keseluruhan, manuver Malaysia mencerminkan kegelisahan kolektif negara-negara menengah di Asia Tenggara yang terjepit rivalitas kekuatan nuklir. Dengan nilai perdagangan 900 miliar ringgit yang menggantungkan nasib ekonomi mereka pada AS dan China, diversifikasi ke India bukanlah pilihan mewah, melainkan strategi bertahan hidup. Tantangan terbesarnya terletak pada eksekusi. Mengubah potensi pasar 1,4 miliar penduduk India menjadi angka riil perdagangan yang mampu mengimbangi dominasi Washington dan Beijing membutuhkan lebih dari sekadar lagu Bollywood dan jabat tangan di sela-sela KTT BRICS.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
