Akui Pakai Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu di Arsenal, Granit Xhaka Terancam Lima Tahun Penjara
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Granit Xhaka terancam hukuman penjara maksimal lima tahun setelah mengakui penggunaan sertifikat vaksin Covid-19 palsu saat masih memperkuat Arsenal. Pihak berwenang Swiss kini tengah menyelidiki pelanggaran hukum yang dilakukan kapten klub Liga Inggris Sunderland tersebut, menjadikannya salah satu kasus pemalsuan dokumen kesehatan paling mencolok yang melibatkan pesepak bola profesional.
Pemain berusia 33 tahun itu dijadwalkan memberikan keterangan resmi kepada pihak berwenang di Swiss pada Oktober mendatang. Jika pengadilan memutuskan ia bersalah, hukumannya tidak main-main. Denda sangat besar menanti, atau sel penjara selama maksimal lima tahun menjadi konsekuensi nyata dari pengakuannya sendiri.
Xhaka membuka kartu soal kebohongan masa lalunya itu melalui pernyataan panjang di Instagram pada Senin (21/9). Ia mengaku secara pribadi merasa sangat ragu dan memiliki kekhawatiran serius terhadap vaksinasi Covid-19 pada saat itu. Rasa takut serta ketidakpastian menderanya hingga membuat kondisi emosionalnya kacau.
Sertifikat palsu itu diperolehnya pada tahun 2022. Kala itu, aturan Liga Inggris mewajibkan seluruh pemain memiliki sertifikat vaksin Covid-19 untuk bisa tampil di lapangan. Dokumen tersebut juga berfungsi memperpendek masa karantina setelah melakukan perjalanan antarnegara. Alih-alih mencari kejelasan atas pertanyaan-pertanyaannya melalui saluran yang semestinya, Xhaka justru menempuh jalan pintas yang melanggar hukum.
"Belakangan banyak pemberitaan mengenai suatu hal dari masa lalu saya. Saya ingin menanggapi hal ini secara pribadi," tulis Xhaka. Ia menegaskan bahwa tindakannya bukanlah langkah yang tepat. "Ini adalah sebuah kesalahan. Saya memohon maaf," ucapnya menutup pengakuan tersebut. Sebuah penyesalan yang datang terlambat dan kini harus dibayar dengan proses hukum.
Kasus ini membuktikan bahwa status sebagai atlet elite tidak memberikan imunitas dari jerat pidana. Aturan kesehatan publik yang diterapkan selama pandemi berlaku universal, dan pemalsuan dokumen untuk mengakali regulasi tersebut merupakan tindak kriminal serius di yurisdiksi mana pun, termasuk di Swiss tempat Xhaka akan diperiksa.
Analisis Redaksi
Pengakuan terbuka Xhaka lewat media sosial merupakan langkah yang menarik sekaligus berisiko tinggi. Dari sudut pandang hukum, mengakui perbuatan pidana secara publik sebelum pemeriksaan resmi bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ini menunjukkan itikad baik dan transparansi. Di sisi lain, pernyataannya sendiri akan menjadi bukti kuat yang memberatkan posisinya saat sidang berlangsung nanti.
Ancaman hukuman lima tahun penjara bukanlah gertakan kosong dalam sistem peradilan Swiss terkait pemalsuan dokumen negara. Kasus ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaku industri olahraga global. Selama pandemi, tekanan untuk memenuhi syarat administratif sering kali berbenturan dengan keyakinan personal para atlet, namun memalsukan sertifikat adalah garis merah yang tidak bisa ditoleransi oleh hukum.
Langkah selanjutnya yang perlu dicermati adalah kesaksian Xhaka pada Oktober mendatang. Apakah ia hanya bertindak sendiri atau ada jaringan yang membantunya memperoleh dokumen palsu tersebut, akan menentukan seberapa luas jangkauan penyelidikan pihak berwenang Swiss. Karier sang kapten Sunderland kini berada di persimpangan antara lapangan hijau dan ruang pengadilan.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Persib Bandung Hadapi Melbourne Victory di ACL 2: Jadwal, Strategi, dan Dampaknya pada Grup E

2.300 Atlet Padati GOR Ciracas, Liga Taekwondo DKI Jakarta Seri 14 Gencar Bidik Regenerasi Atlet Internasional

Persib Tampil Konsisten, Persija Rawan Terlempar dari Puncak Klasemen
