Taka ONE OK ROCK Kena Serbu Warganet Usai Bela Ed Sheeran di Tengah Polemik Pencoretan Macklemore
Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Vokalis ONE OK ROCK, Takahiro Moriuchi alias Taka, mendadak menjadi sasaran kemarahan publik setelah secara terbuka membela Ed Sheeran di tengah polemik pencoretan rapper Macklemore dari Loop Tour. Dukungan yang ia tulis pada 19 September lalu di kolom komentar unggahan Sheeran memicu gelombang kritik keras karena dianggap mengabaikan isu kemanusiaan di Palestina.
Kemarahan warganet bermula ketika Taka memuji keberanian pelantun Shape of You tersebut saat tampil di Philadelphia akhir pekan lalu. "Ed, itu butuh keberanian. Bagiku, kamu adalah cermin. Penghormatan setinggi-tingginya," tulis Taka. Kalimat pendek itu langsung menyulut api. Publik menilai sikap sang vokalis menunjukkan ketidakpekaan terhadap perjuangan warga Gaza sekaligus terkesan memaklumi langkah promotor yang mendepak Macklemore.
Tekanan yang datang bertubi-tubi memaksa Taka meminta maaf. Ia menegaskan tindakannya murni didasari empati personal sebagai seorang sahabat. "Jika saya menyebabkan kesalahpahaman, saya minta maaf kepada semuanya. Saya hanya tidak bisa tinggal diam melihat seorang teman berada dalam situasi seperti itu," ungkapnya. Permintaan maaf awal ini ternyata gagal meredakan amarah massa.
Taka kemudian merilis pernyataan tertulis lebih panjang melalui Instagram Story untuk meluruskan posisinya. Ia menolak segala bentuk peperangan serta kekerasan terhadap warga sipil dan anak-anak. "Saya bersuara tentang Ed bukan untuk mendukung satu sikap politik tertentu. Saya adalah temannya. Melihat teman saya berada dalam situasi yang sangat sulit dan berusaha menjelaskan dirinya dengan kata-katanya sendiri, saya tidak bisa tinggal diam," tulisnya. Ia mengklaim tetap menghormati hak Macklemore menyuarakan pandangan politiknya, namun prihatin melihat publik saling serang hanya karena perbedaan perspektif.
Penjelasan tambahan itu justru memperkeruh suasana. Warganet membalas dengan nada tajam. "Tidak masalah sama sekali kalau punya pendapat berbeda soal mint choco atau nanas di pizza, tapi ini soal genosida, Takahiro Moriuchi, ya ampun," kecam salah satu netizen. Akun lain menyoroti kelemahan argumen pertemanan yang terus diulang Taka. "Saya harap dia berhenti mengulang-ulang bahwa Ed adalah temannya, karena itu bukan argumen terbaik untuk menyelamatkan situasi. Tolong gunakan suaramu untuk bersuara demi #FreePalestine dengan semangat yang sama." Kritik lain bahkan menyebut rakyat Palestina telah menghadapi genosida beberapa dekade, sehingga boikot terhadap musisi yang mengecewakan temannya bukanlah apa-apa.
Akar masalah ini berawal dari keputusan mencoret Macklemore, rekan Ed Sheeran selama 13 tahun terakhir, dari posisi opening act rangkaian Loop Tour di Amerika Serikat. Sheeran mengaku mendapat tekanan besar dari banyak pihak, terutama Robert Kraft selaku pemilik salah satu stadion tempatnya konser, setelah Macklemore menyuarakan dukungan terhadap Palestina, warga Gaza, dan Tepi Barat. Pendepakan tersebut berujung aksi solidaritas luar biasa. Seluruh artis pembuka, mulai dari Fineas hingga band Beoga, kompak mundur dari tur karena mendukung kemanusiaan dan Palestina. Konser di Philadelphia pada 19 September pun berlangsung tanpa opening act.
Di atas panggung yang sepi, Sheeran akhirnya buka suara. "Saya tidak pernah berniat menjadi musisi aktivis, tapi situasi ini menempatkan saya di tengah perdebatan penting dan penuh emosi mengenai kebebasan berpendapat serta isu politik paling rumit di dunia," ujarnya bak membaca teks yang sudah disiapkan. Ia menggambarkan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 sebagai peristiwa mengerikan dan menyebut situasi di Gaza tidak dapat dibenarkan. Sheeran menekankan bahwa pembatalan penampilan Macklemore adalah keputusan promotor, bukan dirinya. Kontroversi ini langsung berdampak nyata: harga tiket dan angka penjualan sisa rangkaian Loop Tour miliknya di Amerika Serikat anjlok. "Saya harus mengambil keputusan-keputusan sulit-dan saya pun melakukan kesalahan-dan saya sungguh, sungguh memohon maaf," tutupnya.
Analisis Redaksi
Langkah Taka membela Ed Sheeran memperlihatkan benturan klasik antara loyalitas personal dan tanggung jawab moral figur publik. Dalam industri hiburan global, batas antara hubungan pertemanan dan posisi politik semakin tipis. Ketika seorang seniman memilih berbicara di tengah krisis kemanusiaan yang melibatkan tuduhan genosida, alasan pertemanan tidak lagi cukup kuat untuk menahan laju kritik publik. Pernyataan Taka yang berulang kali menyebut Sheeran sebagai teman justru melemahkan posisinya sendiri di mata penggemar yang menuntut ketegasan moral.
Fenomena domino yang terjadi pada Loop Tour patut dicermati oleh seluruh pelaku industri musik. Mundurnya Fineas, Beoga, dan seluruh artis pembuka membuktikan bahwa solidaritas kolektif mampu melumpuhkan struktur tur komersial raksasa. Tekanan dari pemilik venue seperti Robert Kraft memang berhasil mengubah susunan acara, tetapi dampaknya merusak nilai jual tur itu sendiri. Penurunan harga tiket dan anjloknya penjualan menunjukkan bahwa penonton kini menggunakan daya beli mereka sebagai instrumen protes politik yang efektif.
Ke depan, para musisi internasional akan berpikir dua kali sebelum menerima tawaran tur di wilayah yang rawan konflik kepentingan politik. Permohonan maaf Sheeran di atas panggung Philadelphia membuktikan bahwa posisi netral nyaris mustahil dipertahankan ketika isu yang dihadapi menyangkut nyawa manusia. Bagi Taka dan ONE OK ROCK, badai ini mungkin perlahan mereda, tetapi jejak digital pernyataannya akan terus menjadi catatan bagaimana seorang seniman terjebak dalam pusaran geopolitik yang jauh lebih besar dari panggung rock mana pun.
