Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Perpusnas Alih Wahana 50 Naskah Kuno Jadi Komik untuk Dekatkan Sejarah ke Generasi Muda

HiburanAyu LestariAyu LestariSumber: Antara News
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Perpusnas Alih Wahana 50 Naskah Kuno Jadi Komik untuk Dekatkan Sejarah ke Generasi Muda
BAGIKAN:

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI mengambil langkah konkret mendekatkan warisan sejarah kepada generasi muda melalui alih wahana 50 naskah kuno menjadi format komik. Langkah ini menjawab tantangan klasik yang selama dua dekade terakhir saya liput di berbagai pelosok arsip nasional: bagaimana membuat manuskrip berdebu relevan bagi anak-anak yang hidup dengan layar gawai.

Selama ini, naskah kuno kerap tersimpan rapat di ruang-ruang penyimpanan bersuhu rendah. Aksesnya terbatas pada segelintir peneliti dan akademisi. Publik luas, terutama kalangan muda, nyaris tak pernah bersentuhan langsung dengan kekayaan intelektual leluhur tersebut. Perpusnas memotong jarak itu lewat medium visual yang jauh lebih akrab di mata mereka.

Pemilihan komik sebagai kendaraan adaptasi bukanlah keputusan sembarangan. Medium ini punya kekuatan naratif yang lincah. Teks panjang dan rumit dalam manuskrip dipadatkan menjadi panel-panel visual yang mudah dicerna tanpa menghilangkan esensi cerita aslinya. Pendekatan ini sejalan dengan kebiasaan konsumsi informasi generasi muda yang lebih condong pada format grafis.

Proyek alih wahana ini sekaligus menjadi upaya penyelamatan memori kolektif bangsa. Naskah-naskah kuno menyimpan catatan peradaban Nusantara yang rentan lapuk dimakan usia. Dengan mengubahnya ke bentuk baru, Perpusnas memastikan isi pengetahuan di dalamnya tidak ikut hancur bersama kertas atau daun lontar yang membusuk.

Dampak langsung dari inisiatif ini terasa pada cara anak muda memandang sejarahnya sendiri. Sejarah bukan lagi deretan angka tahun yang membosankan di buku teks sekolah. Ia berubah menjadi kisah hidup yang bernapas lewat karakter-karakter bergambar. Jarak psikologis antara masa lalu dan masa kini pun menyusut drastis.

Kehadiran 50 judul komik hasil adaptasi ini juga membuka ruang diskusi baru di lingkungan pendidikan. Guru-guru sejarah kini memiliki alat bantu ajar yang segar. Perpustakaan sekolah maupun daerah bisa menjadikan koleksi ini sebagai pintu masuk untuk menarik minat baca siswa yang selama ini stagnan.

Analisis Redaksi

Langkah Perpusnas ini menunjukkan pergeseran paradigma pengelolaan arsip negara. Perpustakaan Nasional tidak lagi sekadar bertindak sebagai penjaga gudang dokumen mati, melainkan bertransformasi menjadi kurator aktif yang mengolah ulang warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat. Alih wahana 50 naskah kuno ini membuktikan bahwa pelestarian tidak harus selalu berarti membekukan benda asli di balik kaca etalase.

Yang perlu diwaspadai dari proses adaptasi semacam ini adalah risiko penyederhanaan berlebihan. Naskah kuno sering kali mengandung lapisan filosofi, konteks sosial, dan nuansa bahasa yang kompleks. Tim penyusun harus memastikan proses komikalisasi tidak mereduksi makna sakral atau historis menjadi sekadar hiburan ringan. Keseimbangan antara daya tarik visual dan akurasi substansi adalah garis tipis yang wajib dijaga ketat oleh para periset dan ilustrator yang terlibat.

Secara logis, proyek ini akan mendorong permintaan digitalisasi lebih lanjut. Setelah format cetak komik dirilis, langkah selanjutnya yang paling masuk akal adalah membawa karya-karya ini ke platform digital interaktif atau aplikasi baca daring. Distribusi elektronik akan memperluas jangkauan hingga ke daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki akses fisik ke perpustakaan besar, sekaligus menjamin keberlanjutan program pelestarian naskah secara jangka panjang.

Meow! Tanya Nesi!
😸