Kakak Ungkap Den Baguse Ngarso Keluhkan Bahu Sebelum Dinyatakan Meninggal Senin Sore
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Seniman legendaris Yogyakarta, Susilo Nugroho atau yang lebih dikenal sebagai Den Baguse Ngarso, meninggal dunia pada Senin (21/9) sekitar pukul 17.00 WIB setelah keluarganya menemukan ia tak kunjung bangun dari tidurnya hingga sore hari. Kabar kepergian pria kelahiran 5 Januari 1959 ini pertama kali dikonfirmasi oleh sang kakak, Sukanti, di rumah duka kawasan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Senin malam.
Sukanti menjelaskan bahwa adiknya memang memiliki kebiasaan tidur lewat tengah malam. Rutinitas itu otomatis menggeser waktu bangunnya menjadi lebih siang dari orang kebanyakan. Namun, keanehan mulai terasa ketika hingga Senin sore Susilo belum juga menunjukkan tanda-tanda terbangun. Kecurigaan keluarga memuncak. Mereka lantas meminta bantuan Ketua RW setempat untuk mengecek kondisi sang seniman secara langsung.
"Kebetulan Pak RW itu tenaga medis, jadi beliau dulu mantan perawat," ujar Sukanti saat ditemui di rumah duka. Ketua RW tersebut sempat melakukan pemeriksaan sederhana terhadap tubuh Susilo. Keterbatasan peralatan medis membuat pemeriksaan tidak bisa dilakukan secara tuntas. Keluarga akhirnya memutuskan membawa Susilo ke rumah sakit untuk memastikan keadaan sebenarnya. Di sanalah dokter menyatakan ia telah tiada.
Keluarga mengaku terkejut karena Susilo jarang mengeluhkan masalah kesehatan. Ia dikenal cukup menjaga pola makan dan nyaris tidak pernah jatuh sakit berat. Tidak ada riwayat penyakit dalam yang diketahui keluarga selama ini. "Cuma pernah sakit beberapa waktu-waktu yang lalu itu bukan karena sakit-sakit, tapi karena sakit tabrakan atau jatuh kecelakaan kecil lalu lintas, jadi kalau penyakit dalam enggak ada," kata Sukanti menegaskan.
Meski demikian, ada satu keluhan yang luput dari perhatian serius. Beberapa waktu sebelum meninggal, Susilo sempat mengeluhkan rasa sakit di bagian bahunya kepada tetangga terdekat. Keluhan itu ditanggapi warga dengan memijat bahunya sekaligus menyarankan agar ia memeriksakan diri ke rumah sakit. Ajakan tersebut ditolak mentah-mentah. Susilo merasa kondisinya tidak bermasalah serius dan memilih mengabaikannya.
Jenazah Susilo saat ini masih berada di RS Bethesda. Rumah duka di Mantrijeron sudah dipenuhi pelayat yang datang silih berganti. Pihak keluarga memilih menahan keputusan soal lokasi pemakaman. Mereka masih menunggu kondisi istri Susilo lebih tenang sebelum menentukan pilihan dari beberapa opsi makam keluarga yang tersedia.
Susilo Nugroho bukan nama sembarangan di jagat seni pertunjukan tanah air. Bakat aktingnya sudah diasah sejak duduk di bangku SLTA pada 1977. Namanya meledak di layar kaca berkat karakter Den Baguse Ngarso dalam serial Mbangun Deso di TVRI Yogyakarta. Sosok priyayi sombong, sok tahu, berucap pedas, dan tak mau kalah itu sukses besar mencuri perhatian penonton televisi. Kiprahnya semakin kokoh ketika ia bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan Saptaria Handayaningsih mendirikan kelompok Teater Gandrik pada 1983. Sepanjang kariernya, ia kerap dipercaya menjadi pemeran utama dalam berbagai pementasan teater tersebut.
Analisis Redaksi
Kepergian Susilo Nugroho meninggalkan celah besar dalam ekosistem seni pertunjukan Indonesia, khususnya teater modern berbahasa daerah. Karakter Den Baguse Ngarso bukan sekadar figuran komedi televisi. Ia adalah kritik sosial yang dibungkus tawa, mewakili potret feodalisme Jawa yang kerap menjadi sasaran bidik kelompok Teater Gandrik sejak dekade 1980-an. Hilangnya salah satu pilar utama teater ini menuntut regenerasi yang tidak mudah di tengah menyusutnya panggung-panggung teater konvensional.
Dari sisi medis, rentetan peristiwa menjelang kematiannya menyimpan catatan penting bagi publik. Kebiasaan tidur larut yang dikombinasikan dengan penolakan terhadap saran pemeriksaan medis merupakan pola yang sering berujung fatal. Keluhan nyeri bahu yang dianggap sepele dan hanya ditangani dengan pijatan tradisional bisa jadi merupakan sinyal awal dari gangguan kardiovaskular yang tidak terdeteksi. Sikap meremehkan gejala fisik ini lazim ditemukan pada individu yang merasa tubuhnya sehat karena rutin menjaga pola makan.
Langkah selanjutnya yang patut dinantikan adalah bagaimana Teater Gandrik merespons kehilangan ini secara kelembagaan. Kelompok teater yang dibangun di atas fondasi kolaborasi lima orang sejak 1983 itu kini harus membuktikan ketahanan repertoar mereka tanpa kehadiran pemeran utamanya. Warisan artistik Susilo Nugroho seharusnya tidak berhenti di ruang duka, melainkan didorong menjadi materi dokumentasi dan kurikulum teater agar karakter-karakter kritis ciptaannya tetap hidup di panggung generasi berikutnya.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

The Remarried Empress Tayang Lebih Awal, Rilis 4 Episode Sekaligus di Disney+

The Remarried Empress Tayang Percepat 3 November, 4 Episode Pertama Dilepas Serentak di Disney+

My Chemical Romance Prioritaskan Riset Studio, Konser 2027 Ditinggalkan demi Album Baru
