I Nyoman Nuarta Tekankan Seniman Wajib Bangun Jejaring dengan Pemerintah

Hiburan
Nadia PutriNadia Putri
Sumber: Antara News
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

I Nyoman Nuarta Tekankan Seniman Wajib Bangun Jejaring dengan Pemerintah
BAGIKAN:

Pematung ternama I Nyoman Nuarta menegaskan bahwa setiap seniman di Indonesia wajib memiliki jejaring yang kuat dari kalangan pemerintah agar karya mereka bisa bertahan dan berdampak luas. Pernyataan itu ia sampaikan sebagai refleksi atas perjalanan panjangnya berkarya di ruang publik, sekaligus menjadi pengingat keras bagi para perupa muda yang kerap bekerja dalam isolasi kreatif.

Nuarta tidak sekadar bicara teori. Ia memaparkan pentingnya membangun hubungan lintas sektor secara konkret. Baginya, seniman yang hanya mengandalkan galeri atau komunitas kecil akan kesulitan menembus proyek-proyek berskala besar yang membutuhkan dukungan kebijakan dan anggaran negara.

Selama puluhan tahun berkarier, pria kelahiran Bali ini telah membuktikan sendiri bagaimana kolaborasi dengan berbagai pihak melahirkan mahakarya monumental. Karya-karyanya berdiri tegak di ruang-ruang publik karena ada sinergi antara visi artistik dan dukungan struktural dari pemangku kepentingan.

Konteks pernyataan ini sangat relevan dengan kondisi ekosistem seni rupa nasional saat ini. Banyak seniman Indonesia berbakat yang karyanya mentok di studio karena minimnya akses ke jaringan birokrasi maupun korporasi. Kesenjangan antara dunia seni dan meja-meja pemerintahan masih terasa tebal.

Dampak dari pesan Nuarta ini menyasar langsung pada kelangsungan hidup ekonomi para pekerja seni. Tanpa jejaring yang memadai, seniman sulit mendapatkan proyek komisioning bernilai tinggi. Ruang publik kita pun akhirnya kehilangan kesempatan untuk dihiasi karya-karya bermutu yang merepresentasikan identitas bangsa.

Langkah membangun jejaring ini menuntut perubahan cara berpikir. Seniman tidak bisa lagi menempatkan diri sebagai pihak yang anti-pemerintah atau alergi terhadap birokrasi. Sebaliknya, aparatur negara juga harus membuka pintu selebar-lebarnya agar proses kurasi melibatkan orang-orang yang paham betul soal estetika dan fungsi ruang.

Analisis Redaksi

Pernyataan I Nyoman Nuarta ini bukan sekadar nasihat motivasional. Ini adalah kritik halus sekaligus panduan praktis tentang bagaimana ekosistem seni rupa kita sebenarnya beroperasi. Ketika seorang pematung sekaliber Nuarta bicara soal pentingnya jejaring pemerintah, ia sedang membongkar realitas pahit bahwa talenta semata tidak pernah cukup untuk menggerakkan proyek seni berskala monumental di negeri ini. Ada birokrasi, ada regulasi tata ruang, dan ada mekanisme anggaran yang harus dipahami oleh siapa pun yang ingin karyanya berdiri di alun-alun kota atau gerbang ibu kota baru.

Yang perlu diwaspadai dari seruan ini adalah potensi kompromi artistik. Membangun kedekatan dengan pemerintah sering kali membawa risiko intervensi tema atau bentuk karya demi menyesuaikan selera penguasa. Sejarah mencatat banyak monumen negara yang gagal secara estetika karena senimannya hanya bertindak sebagai tukang yang mengeksekusi pesanan politik. Oleh karena itu, jejaring yang dimaksud Nuarta idealnya bersifat setara: pemerintah menyediakan panggung dan sumber daya, sementara seniman mempertahankan kedaulatan kreatifnya secara penuh.

Secara logis, langkah selanjutnya yang harus didorong adalah pembentukan forum komunikasi rutin antara asosiasi seniman dan kementerian terkait, seperti Kementerian Kebudayaan maupun pemerintah daerah. Tanpa wadah dialog yang terstruktur, imbauan Nuarta hanya akan berhenti sebagai kutipan inspiratif di media. Kita butuh sistem yang memastikan perupa muda tidak lagi meraba-raba dalam gelap ketika hendak menawarkan gagasan besar mereka kepada negara.

Meow! Tanya Nesi!
😸