Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Trump Bentuk Pasukan AI dan Tunjuk Kaisar AI demi Pertahankan Dominasi Teknologi AS dari China

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Trump Bentuk Pasukan AI dan Tunjuk Kaisar AI demi Pertahankan Dominasi Teknologi AS dari China
BAGIKAN:

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pembentukan "AI Force" atau Pasukan AI sekaligus menunjuk seorang pemimpin yang ia juluki sebagai "AI Czar" alias Kaisar AI untuk mengomandoi seluruh urusan kecerdasan buatan di negara tersebut. Langkah ambisius ini disampaikan langsung melalui unggahan di platform Truth Social pada 19 September, dengan tujuan utama mempertahankan posisi AS sebagai pemimpin global dalam teknologi kecerdasan buatan.

Mekanisme detail pembentukan pasukan baru ini belum sepenuhnya terungkap. Trump secara spesifik menyamakan langkah terbarunya dengan preseden yang pernah ia ciptakan sebelumnya. "Untuk tujuan ini, saya akan membentuk 'AI Force' (Pasukan AI), mirip dengan langkah saya membentuk 'Space Force' (Pasukan Antariksa)," tulis Trump, sebagaimana dikutip Reuters, Minggu (20/9/2026). Struktur organisasi hingga rantai komando unit ini masih menjadi tanda tanya besar bagi para pengamat kebijakan teknologi di Washington.

Seleksi sosok yang bakal mengisi kursi Kaisar AI tampaknya tidak akan berjalan konvensional. Trump menyatakan nama pejabat tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat, namun ia melemparkan satu syarat yang cukup nyentrik: hanya individu dengan IQ tinggi yang boleh melamar posisi itu. Ini merupakan penunjukan AI Czar kedua pada pemerintahan Trump. Sebelumnya, investor modal ventura David Sacks menjalankan peran tersebut sebelum akhirnya mengundurkan diri pada musim semi dan beralih status menjadi penasihat eksternal.

Sikap Trump terhadap industri teknologi kecerdasan buatan sangat jelas: akselerasi tanpa rem. Ia menegaskan pemerintahannya sama sekali tidak akan menghambat atau membatasi pertumbuhan industri tersebut. "Sebaliknya, kita akan mendukung, membantu, dan mengawasinya selagi industri ini berkembang!" katanya. Untuk urusan pelanggaran, Trump memastikan pemerintah tetap akan menindak penyalahgunaan AI dengan memanfaatkan sistem hukum yang sudah tersedia, alih-alih menciptakan regulasi baru yang berpotensi mencekik inovasi.

Keyakinan Trump terhadap dampak ekonomi kecerdasan buatan terbilang luar biasa tinggi. Ia menilai AI sebagai revolusi teknologi yang dapat berdampak sangat besar terhadap perekonomian AS, bahkan memperkirakan kontribusinya berpotensi mencapai 25 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) AS. Angka proyeksi ini menunjukkan betapa seriusnya Gedung Putih memandang sektor ini bukan sekadar tren teknologi sesaat, melainkan tulang punggung pertumbuhan ekonomi masa depan.

Pernyataan ini tidak muncul di ruang hampa. Persaingan antara AS dan China untuk menjadi pemimpin AI semakin intensif, karena kedua negara memandang teknologi ini penting bagi kekuatan ekonomi dan militer. Trump secara konsisten menilai regulasi yang berlebihan hanya akan memperlambat perusahaan AS dalam menghadapi pesaing dari China. Momentum pengumuman ini juga sangat kental nuansa geopolitik, mengingat jadwal pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 25 September sudah di depan mata. Sehari setelah pengumuman tersebut, tepatnya pada 20 September, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York untuk membahas sejumlah isu krusial, termasuk keamanan AI, perdagangan, dan ekonomi.

Analisis Redaksi

Pembentukan Pasukan AI dengan nomenklatur militer mengindikasikan pergeseran paradigma yang tajam di Washington. Kecerdasan buatan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai komoditas teknologi sipil, melainkan telah bertransformasi menjadi aset pertahanan nasional setara dengan kekuatan antariksa. Pemilihan istilah "Kaisar AI" dan syarat "IQ tinggi" mencerminkan gaya kepemimpinan Trump yang personalistik, di mana otoritas atas sektor strategis ini akan disentralkan pada figur tunggal yang memiliki akses langsung ke presiden, persis seperti model yang sempat dijalankan David Sacks sebelum mundur pada musim semi.

Proyeksi kontribusi AI hingga 25 persen terhadap PDB AS adalah klaim yang sangat agresif dan membutuhkan landasan empiris kuat. Jika angka ini dijadikan basis kebijakan, pemerintah federal kemungkinan akan mengalihkan porsi anggaran signifikan dari sektor tradisional menuju infrastruktur komputasi dan riset algoritma. Penolakan tegas terhadap pembatasan industri, dengan hanya mengandalkan sistem hukum yang ada untuk menindak penyalahgunaan, membuka celah risiko tersendiri. Regulasi eksisting belum tentu cukup lincah mengimbangi kecepatan evolusi model generatif yang mampu memengaruhi pasar tenaga kerja secara masif.

Waktu pengumuman yang berdekatan dengan pertemuan tingkat tinggi antara Menteri Keuangan Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York, serta rencana pertemuan Trump-Xi pada 25 September, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah kartu negosiasi geopolitik. AS sedang mengirimkan sinyal keras kepada Beijing bahwa perlombaan dominasi ekonomi digital tidak akan dikompromikan oleh keraguan birokratis. Yang perlu diwaspadai publik global adalah potensi eskalasi standar ganda, di mana AS mendorong percepatan tanpa batas bagi perusahaannya sendiri sambil menuntut pembatasan ketat bagi rival strategisnya.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ