Seni Kolosal 'Mati Tan Tumut Pejah' Hidupkan Peringatan Puputan Badung ke-220

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Seni Kolosal 'Mati Tan Tumut Pejah' Hidupkan Peringatan Puputan Badung ke-220
BAGIKAN:

Puluhan seniman menghidupkan kembali semangat perlawanan rakyat Bali melalui pertunjukan seni kolosal bertajuk "Mati Tan Tumut Pejah" dalam peringatan Hari Puputan Badung ke-220 pada 20 September 2026. Panggung terbuka itu menjadi saksi bisu bagaimana sejarah kelam sekaligus heroik masa lalu ditarik paksa ke hadapan publik masa kini lewat gerak tubuh, tata cahaya, dan narasi visual yang memukau.

Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan seremonial belaka. Para seniman yang tampil di atas panggung meramu elemen tari, teater, dan musik tradisional menjadi satu kesatuan dramatik yang utuh. Judul "Mati Tan Tumut Pejah" sendiri dipilih secara deliberate untuk menegaskan filosofi perang puputan: gugur di medan laga tanpa pernah kehilangan jiwa perlawanan.

Peringatan tahun ini menandai genap 220 tahun sejak peristiwa berdarah tersebut meletus. Dua abad lebih berlalu, namun memori kolektif masyarakat Badung tetap dijaga rapat-rapat melalui ritual tahunan semacam ini. Angka dua ratus dua puluh tahun bukanlah rentang waktu yang pendek untuk mempertahankan sebuah ingatan sejarah agar tidak luntur tergerus zaman.

Kekuatan utama pertunjukan kolosal ini terletak pada pelibatan massa yang masif. Tidak hanya penari profesional, warga sekitar turut menyatu dalam koreografi besar yang menggambarkan detik-detik menegangkan ketika rakyat Badung memilih jalan kehormatan daripada tunduk pada penjajah. Setiap adegan dirancang untuk memancing emosi penonton hingga titik paling sunyi.

Bagi masyarakat luas, perhelatan ini berfungsi ganda. Ia menjadi ruang edukasi sejarah yang jauh lebih efektif ketimbang buku teks kering di bangku sekolah. Generasi muda yang hadir dipaksa berhadapan langsung dengan warisan leluhur mereka, memahami bahwa Puputan Badung bukan sekadar nama jalan atau monumen batu, melainkan harga mahal yang dibayar dengan darah demi martabat.

Dampaknya melampaui batas geografis Kabupaten Badung. Pertunjukan berskala kolosal seperti ini menarik perhatian wisatawan dan pengamat budaya dari berbagai daerah. Kehadiran mereka menggerakkan roda ekonomi kreatif lokal, mulai dari pelaku usaha kuliner hingga perajin kostum tradisional yang selama berminggu-minggu mempersiapkan properti pementasan.

Analisis Redaksi

Pemilihan format seni kolosal untuk memperingati peristiwa seberat Puputan Badung menunjukkan kematangan cara pandang pemerintah daerah dan komunitas seniman setempat. Mereka tidak lagi terjebak pada upacara protokoler kaku yang kerap membuat generasi muda menjauh. Pendekatan seni pertunjukan visual menjadikan sejarah terasa hidup, relevan, dan mudah dicerna oleh siapa saja yang menontonnya.

Yang patut diwaspadai adalah potensi komodifikasi berlebihan terhadap peristiwa sakral ini. Ketika skala pertunjukan terus membesar setiap tahunnya, ada risiko nilai filosofis "Mati Tan Tumut Pejah" justru tenggelam oleh gemerlap tata panggung dan kepentingan pariwisata. Keseimbangan antara daya tarik wisata dan penghormatan terhadap korban sejarah harus terus dijaga secara ketat oleh panitia pelaksana.

Ke depan, dokumentasi pertunjukan ini perlu dikelola secara profesional sebagai arsip budaya nasional. Bukan mustahil format serupa dapat direplikasi untuk mengangkat peristiwa sejarah lain di berbagai daerah di Indonesia, asalkan digarap dengan riset mendalam dan melibatkan seniman lokal yang benar-benar memahami akar budayanya. Sejarah tidak boleh hanya dirayakan setahun sekali, lalu dilupakan keesokan harinya.

Meow! Tanya Nesi!
😸