Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Rudal Houthi Sasar Riyadh, Trump Mendadak ke Gedung Putih Bahas Eskalasi Berbahaya

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Rudal Houthi Sasar Riyadh, Trump Mendadak ke Gedung Putih Bahas Eskalasi Berbahaya
BAGIKAN:

Serangan rudal kelompok Houthi yang menyasar ibu kota Arab Saudi, Riyadh, memaksa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak mendatangi Gedung Putih pada Sabtu (19/9) untuk membahas potensi eskalasi berbahaya di Timur Tengah. Langkah kilat ini diambil setelah Departemen Luar Negeri AS secara terbuka memperingatkan bahwa konflik militer tersebut berpotensi meningkat dengan cepat.

Kehadiran Trump di pusat komando eksekutif itu tidak disertai penjelasan resmi. Gedung Putih memilih bungkam mengenai status siaga presiden saat perselisihan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi memanas. Ketiadaan informasi ini justru mempertebal kesan bahwa Washington sedang menghitung risiko terburuk dari rentetan serangan yang mengancam stabilitas kawasan.

Panic melanda warga Riyadh sesaat sebelum pukul 03.00 pagi waktu setempat. Pesan darurat berbunyi "Wilayah ini berada di bawah ancaman serangan udara musuh" masuk ke telepon genggam penduduk, mengimbau mereka tetap berlindung di dalam ruangan. Seorang warga mengaku mendengar bunyi alarm disusul getaran kaca jendela rumahnya, sementara warga lain menyebut malam itu sebagai peristiwa yang mengerikan. Wartawan AFP mencatat dua ledakan keras sebelum badan pertahanan sipil Saudi mencabut status siaga setengah jam kemudian.

Insiden ini bukan kejadian tunggal yang berdiri sendiri. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Rabu, Riyadh menuduh kelompok Houthi menargetkan Mekkah dan mengecamnya sebagai serangan teroris pengecut terhadap kota suci umat Islam yang setiap tahunnya dikunjungi jutaan peziarah. Kelompok Houthi membantah keras tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai kebohongan belaka.

Dampak dari agresi Houthi yang merebut sebagian wilayah Yaman dalam beberapa pekan terakhir sudah memakan korban masif. Ratusan orang tewas dan PBB mencatat lebih dari 110 ribu orang terpaksa mengungsi. Pemerintah AS merespons dengan memperingatkan warganya di luar Timur Tengah agar mempertimbangkan penundaan perjalanan ke dan melalui kawasan tersebut, seperti dikutip dari AFP, Minggu (20/9).

Tekanan terhadap ekonomi global kini bertambah berat. Ini adalah kali pertama sejak perang saudara Yaman kembali berkecamuk di mana serangan langsung mengancam ibu kota Saudi, memperparah ketegangan yang selama tujuh bulan terakhir telah mengguncang pasar akibat friksi antara AS dan Iran. Di sisi lain, platform berita Axios melaporkan bahwa AS pada pekan lalu menolak permintaan Saudi untuk melancarkan serangan balasan terhadap Houthi. Padahal, Washington baru saja menyetujui penjualan 48 jet tempur F-35 senilai US$24,3 miliar kepada Arab Saudi pada Kamis guna membantu Riyadh menangkal ancaman, menurut keterangan resmi Departemen Luar Negeri AS.

Analisis Redaksi

Penolakan Washington atas permintaan Riyadh untuk menyerang balik Houthi menunjukkan kalkulasi dingin pemerintah AS. Penjualan 48 jet tempur F-35 senilai US$24,3 miliar memang mengisyaratkan komitmen pertahanan, tetapi bukan lampu hijau untuk perang terbuka. Trump tampaknya ingin mempertahankan pengaruh strategis di kawasan tanpa terseret langsung ke dalam kubangan lumpur konflik bersenjata yang bisa merusak agenda domestiknya.

Peringatan perjalanan bagi warga Amerika dan pernyataan tegas Departemen Luar Negeri AS soal potensi eskalasi cepat harus dibaca sebagai sinyal bahaya nyata. Ketika ibu kota negara sekutu utama seperti Riyadh bisa ditembus rudal, arsitektur keamanan Timur Tengah yang selama ini ditopang oleh payung militer Barat terbukti rapuh. Ketegangan tujuh bulan antara AS dan Iran membuat ruang manuver diplomatik semakin sempit.

Langkah selanjutnya yang paling logis adalah penguatan sistem pertahanan udara pasif sambil menahan diri dari provokasi ofensif. Jika Arab Saudi nekat bertindak sepihak tanpa restu Washington, krisis kemanusiaan di Yaman yang telah menewaskan ratusan orang dan mengusir 110 ribu pengungsi akan meledak menjadi bencana regional yang mustahil dikendalikan. Dunia kini hanya bisa menunggu apakah kedatangan mendadak Trump ke Gedung Putih menghasilkan rem darurat atau justru tancap gas menuju perang.

Meow! Tanya Nesi!
😸