China Genjot Ekspor Drama Mikro Lewat AI untuk Diplomasi Budaya Global

Selebriti
Rio DewantoRio Dewanto
Sumber: CNN Selebriti
Rio Dewanto
Rio Dewanto
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

China Genjot Ekspor Drama Mikro Lewat AI untuk Diplomasi Budaya Global
BAGIKAN:

Pemerintah China secara resmi mencanangkan industri drama mikro sebagai instrumen utama diplomasi budaya global, menyusul lonjakan popularitas format tontonan berdurasi singkat tersebut di panggung internasional.

Wakil Menteri sekaligus Juru Bicara Administrasi Radio dan Televisi Nasional Tiongkok (NRTA), He Biao, menyatakan bahwa tayangan audio visual berfungsi sebagai jembatan emosional untuk mempererat hubungan antarmasyarakat di seluruh dunia.

Langkah ekspansi global ini termuat dalam Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026-2030, di mana NRTA mematangkan strategi komunikasi internasional secara sistematis demi memfasilitasi konten serta platform digital lokal menembus pasar luar negeri.

He Biao menjelaskan bahwa NRTA telah menerbitkan regulasi tata kelola drama mikro pada Agustus lalu, sambil mempercepat penyusunan undang-undang penyiaran radio dan televisi, meningkatkan sistem penyiaran darurat, serta memperluas program kerja sama inovasi antara China dan Afrika.

Berdasarkan laporan kantor berita Global Times pada Kamis (17/9), agresivitas ekspansi ini ditopang oleh ledakan industri kreatif domestik yang mencatat basis pengguna melampaui 800 juta orang dengan nilai pasar menembus 100 miliar yuan atau setara Rp264,37 triliun dengan kurs 1 RMB sama dengan Rp2.643,74.

Produksi domestik melonjak drastis dengan catatan 430 ribu judul drama mikro dirilis sepanjang delapan bulan pertama 2026, di mana lebih dari 90 persen di antaranya digarap menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan mencatatkan lonjakan volume produksi hingga 13 kali lipat dibanding tahun lalu.

Direktur Manajemen Program Audio Visual Online NRTA, Wang Xiaoliang, menekankan pentingnya pengawasan mutu agar standar ekspor tetap terjaga, diiringi kewajiban pelabelan transparan pada karya berbasis AI, perlindungan hak cipta wajah dan suara, serta pembersihan puluhan ribu konten terlanggar.

Para pelaku industri melihat transisi teknologi ini sebagai gelombang perubahan yang tak terelakkan, mengingat generator video AI mampu memangkas biaya, mendongkrak efisiensi produksi, dan meruntuhkan hambatan budaya agar narasi modern China dapat diterima penonton lintas negara.

Analisis Redaksi

Langkah agresif Beijing mendorong drama mikro ke kancah global menandai pergeseran taktik diplomasi lunak dari media konvensional menuju format digital berkecepatan tinggi. Dengan basis domestik mencapai 800 juta penonton dan dukungan otomatisasi AI hingga 90 persen, China tidak sekadar mengejar komersialisasi, melainkan membangun hegemoni narasi kultural baru yang menyasar generasi digital global.

Kendati demikian, tantangan terbesar bagi regulator seperti NRTA adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan produksi massal dan kualitas substansi konten. Pengetatan regulasi hak cipta serta pelabelan AI menunjukkan bahwa pemerintah sadar betul akan risiko disinformasi dan penurunan kualitas estetika jika otomatisasi dibiarkan tanpa kendali ketat.

Ke depan, ekspansi ini berpotensi mengubah peta persaingan hiburan digital Asia, memaksa industri kreatif di negara lain untuk merespons efisiensi produksi serupa atau memperketat aturan masuk konten asing. Keberhasilan strategi ini di pasar Afrika dan negara barat akan menjadi tolok ukur apakah durasi pendek dan teknologi AI mampu menjadi senjata ampuh diplomasi budaya abad ke-21.

Meow! Tanya Nesi!
😸