⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Asian Games 2026: Indonesia Kumpulkan Lima Medali Hari Pertama, Bertengger di Peringkat Ke-12

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Asian Games 2026: Indonesia Kumpulkan Lima Medali Hari Pertama, Bertengger di Peringkat Ke-12
BAGIKAN:

Indonesia langsung menempati peringkat ke-12 klasemen medali Asian Games 2026 per Minggu (20/9) pukul 21:50 WIB dengan koleksi satu perak dan empat perunggu pada hari pertama setelah seremoni pembukaan yang berlangsung Sabtu (19/9).

Medali perak perdana datang dari cabang olahraga teqbal nomor tunggal putri. Sumaya harus puas berada di posisi kedua setelah takluk dari wakil Myanmar, Wai Khin Hin, pada babak final di Higashi Sports Center, Nagoya, Minggu (20/9). Sumaya sempat merebut gim pertama dengan skor 12-10, tetapi ia gagal mempertahankan momentum dan kalah pada dua gim berikutnya dengan skor 8-12 dan 9-12. Emas nomor ini pun jatuh ke tangan Myanmar.

Cabang olahraga teqbal juga menyumbang satu medali perunggu lewat Yoga Adika Putra di nomor tunggal putra. Yoga meraih perunggu tersebut setelah lawannya asal Kuwait mengundurkan diri. Sebelum itu, atlet senior Seraf Naro Siregar mencatatkan namanya sebagai peraih medali pertama Indonesia di Asian Games 2026. Ia menyabet perunggu dari wushu nomor men's changquan dengan total nilai 9,720, sementara emas direbut atlet Makau, Song Chi Kuan.

Dua perunggu tambahan melengkapi pundi-pundi kontingen merah putih. Fernando Sanger dan kawan-kawan turun dari nomor soft tenis setelah dikalahkan wakil tuan rumah Jepang pada babak semifinal. Sementara itu, Laica Al Humaira Lubis tampil solid di karate nomor komite kelas +68kg putri dengan mengalahkan wakil Kirgizstan secara meyakinkan lewat skor 6-1.

Papan klasemen sementara menunjukkan dominasi China di puncak dengan 11 emas, 6 perak, dan 3 perunggu. Tuan rumah Jepang membuntuti di urutan kedua dengan 6 emas, 7 perak, dan 7 perunggu, disusul Korea Selatan di tempat ketiga dengan 4 emas, 3 perak, dan 7 perunggu. Posisi keempat hingga kesebelas diisi Kazakstan (4 emas, 0 perak, 2 perunggu), Thailand (3 emas, 1 perak, 0 perunggu), Myanmar (1 emas, 1 perak, 1 perunggu), Makau (1 emas, 1 perak, 0 perunggu), Kuwait (1 emas, 0 perak, 1 perunggu), Taiwan (0 emas, 2 perak, 1 perunggu), Hong Kong (0 emas, 2 perak, 0 perunggu), dan India (0 emas, 2 perak, 0 perunggu). Indonesia menutup sepuluh besar papan atas dengan catatan 0 emas, 1 perak, dan 4 perunggu.

Koleksi lima medali dari lima cabang berbeda ini membuktikan persiapan kontingen Indonesia berjalan merata. Tidak ada ketergantungan berlebihan pada satu cabang andalan seperti edisi-edisi sebelumnya. Perunggu cepat dari Seraf Naro Siregar di wushu memberikan suntikan moral penting bagi seluruh atlet yang baru memulai pertandingan mereka.

Analisis Redaksi

Ketiadaan medali emas di hari pertama bukan alasan untuk panik. Satu perak dan empat perunggu dari cabang teqbal, wushu, soft tenis, dan karate memperlihatkan penyebaran kekuatan atlet kita cukup luas. Namun, kekalahan Sumaya di final teqbal setelah unggul lebih dulu di gim pertama menjadi catatan krusial soal manajemen tekanan mental saat bertanding di laga puncak. Ini pekerjaan rumah nyata bagi tim psikolog pendamping kontingen.

Perlu dicermati jarak poin yang masih jauh dari tiga besar klasemen. China sudah mengumpulkan 11 emas dalam sehari. Jepang sebagai tuan rumah jelas akan terus memacu performa di sisa hari pertandingan. Indonesia harus realistis mematok target pada cabang-cabang yang memang memiliki tradisi kuat agar posisi di klasemen tidak melorot drastis seiring bertambahnya hari kompetisi.

Langkah selanjutnya bagi jajaran pelatih adalah menjaga ritme pemulihan fisik para peraih medali hari pertama sekaligus memastikan atlet di cabang lain tidak terbebani ekspektasi berlebih. Konsistensi panen medali, sekecil apa pun warnanya, akan menentukan apakah Indonesia mampu bertahan di zona sepuluh besar atau justru tertinggal oleh negara-negara Asia Tengah yang mulai menunjukkan taring tajam mereka di klasemen medali.

Meow! Tanya Nesi!
😸