541 Ribu Siswa Gaza Kembali Belajar di Reruntuhan Sekolah Usai Agresi Israel

Ratusan ribu anak di Gaza memulai tahun ajaran baru pada Sabtu (19/9) dengan kenyataan pahit: mereka harus belajar di antara puing-puing bangunan yang hancur akibat gempuran militer Israel. Sekitar 541 ribu siswa kembali melangkah ke ruang-ruang kelas yang nyaris tak menyerupai sekolah lagi. Tidak ada seragam baru yang mengkilap. Tidak ada gedung megah yang menyambut. Yang tersisa hanyalah tekad untuk tetap hidup melalui pendidikan.
Angka 541 ribu itu bukan sekadar statistik administratif. Ia mewakili seluruh populasi pelajar yang selamat dari rentetan serangan mematikan selama berbulan-bulan. Mereka berkumpul kembali. Sebagian duduk di lantai beton yang retak. Sebagian lain berbagi ruang sempit yang atapnya sudah lama hilang ditelan ledakan. Proses belajar mengajar berjalan seadanya, mengandalkan sisa-sisa fasilitas yang masih bisa berdiri tegak.
Harga yang dibayar komunitas pendidikan di wilayah tersebut teramat mahal. Agresi Israel telah menewaskan 22 ribu siswa. Lebih dari 770 tenaga pendidik ikut menjadi korban, termasuk 532 guru yang seharusnya mendampingi anak-anak tersebut di dalam kelas. Kehilangan ratusan pengajar sekaligus meruntuhkan fondasi transfer pengetahuan. Guru-guru yang selamat kini memikul beban ganda: mengajar murid yang trauma sambil berduka atas rekan-rekan sejawat mereka yang gugur.
Kondisi infrastruktur memperburuk krisis ini secara drastis. Data menunjukkan lebih dari 85 persen sekolah pemerintah tidak lagi dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Sebagian bangunan hancur total menjadi tumpukan debu dan besi bengkok. Sisanya berada tepat di zona "garis kuning", area yang terlalu berbahaya untuk dimasuki siapa pun, apalagi anak-anak berseragam sekolah. Ruang gerak pendidikan menyempit secara ekstrem.
Bagi publik internasional, kembalinya 541 ribu siswa ini mengirimkan pesan yang mengganggu kenyamanan. Anak-anak Gaza menolak berhenti belajar meski nyawa mereka terus diintai bahaya setiap detik. Ketahanan ini memaksa dunia melihat wajah asli konflik yang sering kali hanya diringkas dalam angka-angka diplomasi kering di meja perundingan. Pendidikan di sana bukan lagi hak dasar, melainkan bentuk perlawanan paling sunyi.
Analisis Redaksi
Fakta bahwa lebih dari 85 persen sekolah pemerintah lumpuh total mengubah definisi darurat kemanusiaan di lapangan. Kita tidak sedang membicarakan gangguan sementara. Ini adalah pembongkaran sistematis terhadap masa depan satu generasi utuh. Ketika 22 ribu siswa dan 532 guru tewas, yang hancur bukan sekadar fisik bangunan, melainkan rantai regenerasi sosial masyarakat Palestina. Pemulihan kondisi ini membutuhkan waktu puluhan tahun, bukan sekadar hitungan bulan setelah gencatan senjata disepakati.
Zona "garis kuning" yang mengurung banyak sekolah menyisakan pertanyaan serius soal keamanan jangka panjang. Memaksakan kegiatan belajar di area rawan ledakan atau reruntuhan tidak stabil sama saja dengan mempertaruhkan nyawa 541 ribu siswa sekali lagi. Masyarakat sipil dan lembaga bantuan internasional harus segera memetakan lokasi-lokasi alternatif yang benar-benar aman. Tanpa pemetaan ulang yang radikal, tahun ajaran baru ini hanya akan menambah daftar panjang korban berikutnya.
Langkah selanjutnya menuntut tekanan diplomatik yang jauh lebih keras dari komunitas global. Israel tidak bisa terus dibiarkan menghancurkan infrastruktur sipil tanpa konsekuensi hukum internasional yang nyata. Rekonstruksi sekolah-sekolah di Gaza wajib masuk sebagai syarat mutlak dalam setiap negosiasi perdamaian mendatang. Mengabaikan pendidikan anak-anak ini berarti membiarkan siklus kekerasan berputar tanpa ujung bagi generasi yang tumbuh di tengah puing.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
