Tim Hoki Korsel Gagal Nyanyikan Lagu Kebangsaan, Panitia Asian Games 2026 Salah Putar Dua Kali
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Keteledoran fatal panitia Asian Games 2026 mencoreng prosesi pembukaan laga hoki ketika tim Korea Selatan dipaksa berdiri mendengarkan lagu kebangsaan Korea Utara dan Bangladesh di Stadion Kakamigahara Green, Perfektur Gifu, Jepang, Jumat (18/9). Insiden ini langsung memicu kontroversi karena menyentuh isu sensitif hubungan dua negara yang secara teknis masih berperang di Semenanjung Korea.
Seperti layaknya pertandingan sepak bola dan basket, cabang olahraga hoki pun menghadirkan barisan pemain dengan iringan lagu kebangsaan masing-masing sebelum pertandingan dimulai. Menurut protokol acara, Korea Selatan mendapat giliran pertama menyanyikan lagu kebangsaan. Alih-alih lagu berjudul 'Aegukga' yang menjadi anthem Negeri Ginseng sejak 1948 yang diputar, panitia malah mengumandangkan lagu kebangsaan Korea Utara. Para pemain Korea Selatan pun hanya saling pandang, canggung, dan bingung merespons situasi yang terjadi.
Panitia dengan cepat menyadari kesalahan dan membuat pengumuman, "Kami memainkan lagu kebangsaan yang salah." Kemudian panitia memainkan lagu baru, namun lagi-lagi bukan lagu kebangsaan Korea Selatan. Yang diputar malah lagu kebangsaan Bangladesh. Kekacauan ganda ini memperlihatkan lemahnya verifikasi teknis di ruang kontrol stadion.
Pemain-pemain Korea Selatan pun tidak sempat menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan lantaran saat anthem 'Aegukga' benar-benar berkumandang karena wasit langsung mempersilakan para pemain berjabat tangan dan memulai pertandingan. Wasit terpaksa memotong prosesi pemutaran lagu kebangsaan karena terdesak waktu yang sempit. Hak dasar atlet untuk menghormati simbol negaranya terampas oleh kelalaian penyelenggara.
Tak bisa menyanyikan lagu kebangsaan dengan benar di awal laga, Korsel kemudian menyudahi pertandingan dengan kemenangan 5-0. Skor telak itu menutup hari yang seharusnya menjadi momen penuh kehormatan bagi skuad hoki Korea Selatan. Kemenangan di lapangan tak mampu menghapus rasa frustrasi akibat perlakuan amatir dari pihak penyelenggara turnamen multievent terbesar di Asia tersebut.
Analisis Redaksi
Mempertukarkan lagu kebangsaan Korea Selatan dengan Korea Utara bukanlah sekadar salah tekan tombol. Ini adalah blunder diplomatik yang bersembunyi di balik kedok kesalahan teknis. Hubungan kedua negara masih dibayangi ketegangan militer dan politik selama puluhan tahun. Memutar anthem Pyongyang untuk atlet Seoul menunjukkan panitia lokal gagal melakukan pemeriksaan silang paling dasar terhadap aset audio yang mereka siapkan.
Insiden ini membuka mata tentang standar kelayakan tuan rumah perhelatan akbar. Kesalahan pertama mungkin dimaklumi sebagai human error, tetapi mengulanginya dengan memutar lagu Bangladesh membuktikan sistem manajemen acara di Stadion Kakamigahara Green berjalan tanpa pengawasan berlapis. Wasit yang akhirnya memotong prosesi demi mengejar jadwal justru memperparah keadaan karena merampas hak atlet untuk berdiri tegak mendengar lagu negaranya sendiri.
Dewan Olimpiade Asia serta komite penyelenggara wajib segera meminta maaf secara resmi kepada delegasi Korea Selatan. Lebih dari itu, audit menyeluruh terhadap seluruh berkas audio lagu kebangsaan setiap negara peserta harus dilakukan hari ini juga. Jika prosedur verifikasi tidak diperketat sekarang, insiden serupa berpotensi meledak menjadi krisis diplomatik yang jauh lebih besar di cabang olahraga lain pada hari-hari mendatang.