Surya Saputra Begadang 24 Jam Demi Kejujuran Emosi di Film Menang Untuk Kalah
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Sutradara Hasto Broto memaksa aktor Surya Saputra terjaga selama 24 jam penuh demi menangkap ekspresi paling jujur tanpa bantuan riasan dalam adegan puncak film drama MENANG UNTUK KALAH. Keputusan artistik ini diambil untuk memastikan tampilan fisik dan sorotan mata karakter Bima terlihat natural saat menghadapi momen krusial yang menuntut luapan emosi mendalam.
Dalam jumpa pers di XXI Plaza Senayan, Jakarta, pada Sabtu (19/9), Hasto Broto menjelaskan alasan teknis di balik metode syuting yang ekstrem tersebut. Ia membutuhkan ketulusan ekspresi wajah yang hanya bisa muncul ketika tubuh berada dalam kondisi lelah alami, bukan hasil rekayasa makeup atau akting konvensional.
"Karena saya butuh lebih kepada ekspresi, fisik, ada satu scene yang saya buat khusus untuk tidak tidur selama 24 jam. Saya bilang jangan tidur, karena saya butuh ekspresi dia tanpa make up," ujar Hasto Broto sebagaimana dikutip dari laporan media.
Tantangan bagi Surya Saputra menjadi berlipat ganda karena situasi eksternal yang tidak kondusif. Syuting berlangsung tepat setelah Persib meraih kemenangan, sehingga euforia suporter di sekitar lokasi turut memanas dan menguji konsentrasi para kru serta pemain. Meski stamina fisik berada di titik minimal, Surya harus tetap menjaga fokus pada ritme emosi karakter Bima yang sedang marah dan hancur.
Surya mengakui proses tersebut sangat berat, namun koordinasi lapangan yang tegas dari sutradara membantu kelancaran produksi. "Untungnya pak Hasto dari awal memberikan ruang dan kasih arahan yang tegas. Jadi lancar sih," bebernya. Di balik kelelahan fisik, Surya merangkum inti karakter Bima dalam satu kata: "maaf", yang merepresentasikan perjuangan seorang kepala keluarga yang sering mengambil jalan salah demi menghidupi keluarganya.
Aktor ini juga menyoroti pentingnya komunikasi jujur dalam institusi keluarga, sebuah nilai yang justru absen dalam pendekatan karakter Bima yang cenderung menyelesaikan masalah sendiri. "Keluarga buat saya satu kesatuan ya. Kadang kita menghadapi masalah, tapi gimana kita komunikasikan dengan jujur dan dibicarakan. Nah di film ini, dia merasa bisa menyelesaikan semua. Karena merasa laki, ya menyelesaikan sendiri," ungkapnya.
Analisis Redaksi
Komitmen Surya Saputra untuk begadang 24 jam menunjukkan pergeseran standar realisme dalam sinema Indonesia, di mana kelelahan fisik digunakan sebagai alat naratif daripada sekadar efek visual. Metode ini berisiko tinggi terhadap kesehatan artis, namun hasilnya menjanjikan kedalaman psikologis yang sulit dicapai melalui akting tradisional semata, terutama untuk adegan yang menuntut kerentanan emosional murni.
Namun, pendekatan ini juga menyoroti dinamika kekuasaan antara sutradara dan aktor. Keberhasilan eksekusi sangat bergantung pada kepercayaan mutlak terhadap visi sutradara dan kemampuan aktor mengelola batas fisik mereka. Tanpa arahan tegas dan ruang aman seperti yang diberikan Hasto Broto, metode ekstrem semacam ini berpotensi berubah menjadi eksploitasi daripada eksplorasi artistik.
Pesan moral tentang komunikasi keluarga yang disampaikan Surya melalui karakter Bima relevan dengan konteks sosial masa kini, di mana banyak individu masih terjebak dalam stereotip gender bahwa pria harus menyelesaikan masalah secara mandiri. Film ini tampaknya tidak hanya menjual drama personal, tetapi juga kritik halus terhadap toksisitas maskulinitas dalam struktur keluarga modern.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

The Remarried Empress Tayang Lebih Awal, Rilis 4 Episode Sekaligus di Disney+

The Remarried Empress Tayang Percepat 3 November, 4 Episode Pertama Dilepas Serentak di Disney+

My Chemical Romance Prioritaskan Riset Studio, Konser 2027 Ditinggalkan demi Album Baru
