Macklemore Dicopot dari Tur Ed Sheeran Gara-gara Dukungan Palestina, Picu Gelombang Boikot
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Pencoretan Macklemore dari sisa jadwal tur Loop Tour Ed Sheeran di Amerika Serikat menjadi puncak ketegangan setelah rapper tersebut secara terbuka menyuarakan dukungan bagi Palestina di atas panggung. Keputusan promotor Messina Touring Group pada Senin (14/9) untuk membatalkan penampilan Macklemore diambil menyusul ancaman pembatalan konser dari pihak venue, yang kemudian memicu reaksi keras berupa pengunduran diri massal musisi pendukung lain dan aksi boikot terhadap Ed Sheeran.
Kisruh ini bermula saat Macklemore tampil perdana di MetLife Stadium, New Jersey, pada Jumat (4/9). Di hadapan ribuan penonton, ia membawakan lagu protes "Hind's Hall" dan menyatakan alasan utama dirinya mengikuti tur adalah untuk mengucapkan "Bebaskan Palestina". Sehari berselang, ia kembali menegaskan bahwa kritik terhadap Israel dan penolakan genosida bukanlah serangan terhadap komunitas Yahudi.
Respons keras segera datang dari Israeli-American Council (IAC) yang melayangkan petisi pencopotan pada Minggu (6/9), menilai Macklemore menggunakan panggung global untuk agenda politik sepihak. Tekanan publik kian memanas hingga melibatkan penyanyi Pink yang turut berkomentar. Situasi memburuk ketika pemilik Gillette Stadium, Robert Kraft, disebut Macklemore sebagai pihak yang menekan agar ia tidak tampil, dengan alasan retorika sang rapper telah melampaui batas dan menyakitkan bagi komunitas Yahudi.
Ed Sheeran akhirnya angkat bicara pada Selasa (15/9) untuk meluruskan fakta bahwa keputusan venue sudah final, meski ia menghormati tekad Macklemore. Namun, sikap diplomasi Sheeran justru memicu gelombang mundur dari musisi pendukung seperti Aaron Rowe, Finneas, Lukas Graham, dan band Beoga. Finneas secara eksplisit menulis dukungannya untuk Palestina, sementara Lukas Graham menekankan hak berbicara tentang korban sipil dan anak-anak dalam perang.
Merespons polemik yang melebar, Macklemore mengumumkan donasi seluruh penghasilan turnya sebesar US$1 juta atau setara Rp17,81 miliar untuk organisasi kemanusiaan Palestina pada Rabu (16/9), sekaligus menantang Robert Kraft untuk menyamai jumlah tersebut. Tak lama kemudian, Kraft mengonfirmasi bahwa Ed Sheeran telah menghubunginya untuk berkomitmen menyumbangkan total US$2 juta atau senilai Rp35,62 miliar guna mengatasi krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Analisis Redaksi
Kasus ini menyoroti kerentanan industri hiburan global terhadap polarisasi geopolitik yang tajam. Posisi "netral" yang coba diambil oleh Ed Sheeran dan promotor ternyata tidak lagi memadai di tengah tuntutan moral publik yang semakin tinggi. Intervensi pemilik venue seperti Robert Kraft menunjukkan bagaimana kepentingan bisnis dan sensitivitas komunitas lokal dapat mendikte kebebasan berekspresi seniman, bahkan ketika seniman tersebut hanyalah bintang pendukung.
Gelombang pengunduran diri musisi seperti Finneas dan Lukas Graham menandakan pergeseran paradigma di kalangan artis internasional. Mereka tidak lagi ragu mengambil sikap politik jelas, meskipun berisiko merusak hubungan profesional jangka panjang. Ini bukan sekadar soal solidaritas, melainkan pernyataan bahwa diam atau netral dalam isu kemanusiaan berat kini dianggap sebagai bentuk komplicitas oleh sebagian besar pemangku kepentingan di industri musik.
Donasi besar-besaran yang akhirnya disepakati menjadi solusi kompromistis untuk meredam eskalasi boikot. Namun, langkah ini juga memperlihatkan batasan dari aktivisme selebriti: uang sering kali menjadi alat terakhir untuk membeli kembali legitimasi moral setelah kebebasan berpendapat dibungkam oleh kekuatan korporat. Publik perlu mencermati apakah komitmen finansial ini diikuti dengan perubahan kebijakan jangka panjang terkait kebebasan bersuara di arena konser.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Lima Sinema Drama China Terbaru November 2026: dari Romansa VR hingga Intrik Balas Dendam Kerajaan

Rayakan 10 Tahun, 'Your Name' Kembali Putar di Bioskop Indonesia Beserta Kesan Visual 4K

Bioskop Trans TV Perkenalan Civil War (2024) di Layar Kaca, Hadirkan Rangkaian Film Aksi dan Horor 2-8 November 2026
