Karhutla Kalimantan Selatan Membara, Habitat Bekantan Terancam Kritis

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Karhutla Kalimantan Selatan Membara, Habitat Bekantan Terancam Kritis
BAGIKAN:

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan tidak hanya memicu kabut asap dan kerusakan lingkungan, tetapi juga menghadirkan ancaman nyata bagi kelangsungan hidup populasi bekantan di habitat alaminya. Peristiwa ekologis ini memaksa primata endemik tersebut kehilangan ruang jelajah serta sumber pangan utama akibat kobaran api yang terus merembes ke kawasan gambut dan hutan sekunder. Situasi darurat ini menuntut langkah penanganan cepat dari otoritas kehutanan dan badan penanggulangan bencana daerah agar kerusakan ekosistem tidak berlanjut pada kepunahan lokal.

Wilayah Kalimantan Selatan selama ini dikenal sebagai benteng pertahanan terakhir bagi primata berhidung panjang dengan nama latin Nasalis larvatus tersebut. Namun, eskalasi titik panas yang melonjak drastis dalam beberapa pekan terakhir membuat kawasan konservasi dan hutan mangrove di pinggiran sungai mengalami tekanan hebat. Kepulan asap tebal menyelimuti area vegetasi, sementara hewan-hewan dilindungi itu terpaksa keluar dari zona perlindungan demi menyelamatkan diri dari jilatan api.

Fenomena kebakaran hutan di Bumi Lambung Mangkurat ini bukan sekadar persoalan tahunan yang berulang tanpa solusi komprehensif. Tekanan terhadap alih fungsi lahan serta kemarau panjang memperparah kerentanan ekosistem rawa gambut yang menjadi rumah bagi satwa liar. Ketika ekosistem tersebut terbakar, rantai makanan terputus secara drastis, menyisakan ruang-ruang mati yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat tanpa intervensi ekologis yang masif.

Upaya pemadaman darurat yang dilakukan oleh satuan tugas gabungan di lapangan menghadapi tantangan berat berupa keteraksesan sumber air dan tiupan angin kencang. Tim di lapangan harus berjibaku menembus medan berat demi memadamkan api yang membakar lahan gambut di bawah permukaan tanah. Pemadaman jenis ini membutuhkan teknik penyiraman intensif agar bara tidak kembali menyala di tengah cuaca panas yang masih mendominasi wilayah Kalimantan Selatan.

Dampak langsung terhadap satwa dilindungi ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan pemerhati lingkungan hidup. Hilangnya habitat membuat bekantan kerap terlihat mendekati permukiman warga atau terjebak di pulau-pulau kecil sisa hutan yang belum terbakar. Kondisi psikologis satwa yang stres akibat kepulan asap dan kekurangan pangan menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat satwa yang siaga di posko darurat.

Analisis Redaksi

Ancaman karhutla terhadap habitat bekantan di Kalimantan Selatan merefleksikan kegagalan mitigasi pencegahan kebakaran di tingkat tapak yang masih berulang setiap tahun. Kebakaran lahan gambut tidak hanya merusak lanskap fisik, tetapi juga meruntuhkan koridor ekologis yang krusial bagi keberlangsungan satwa endemik. Pemerintah daerah bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus memandang insiden ini sebagai darurat ekologis, bukan sekadar peristiwa musiman yang selesai setelah hujan turun.

Ke depan, pengawasan terhadap konsesi lahan dan penegakan hukum yang tegas terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar harus menjadi prioritas mutlak. Tanpa pemulihan ekosistem gambut yang terintegrasi dan perlindungan ketat terhadap sisa hutan primer, status konservasi fauna langka di Kalimantan akan menghadapi titik nadir kepunahan di alam liar.

Meow! Tanya Nesi!
😸