Julia Prastini Positif Etomidate, Polisi Ungkap Selebgram Itu Baru Pakai 2-3 Minggu
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Selebgram Julia Prastini terbukti positif mengonsumsi etomidate setelah ditangkap di sebuah apartemen kawasan Jakarta Selatan pada 14 September 2026, dengan pengakuan bahwa ia baru menggunakan zat bius tersebut selama dua hingga tiga minggu terakhir. Kasatresnarkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta, AKP Michael Tandayu, memastikan hasil tes urine perempuan yang akrab disapa Jule itu menunjukkan reaksi positif terhadap narkotika golongan II tersebut.
Penggeledahan di lokasi penangkapan membuahkan bukti fisik yang cukup jelas. Petugas menemukan empat cartridge berisi etomidate milik JP. Tiga di antaranya sudah dalam kondisi kosong, menyisakan satu cartridge yang belum habis terpakai. Barang bukti ini langsung diamankan untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut oleh Polresta Bandara Soekarno-Hatta.
AKP Michael Tandayu menegaskan bahwa klaim penggunaan singkat dari JP bukan sekadar pembelaan sepihak. Keterangan tersebut telah diverifikasi melalui proses penyelidikan dan penelusuran lanjutan yang dilakukan tim kepolisian. "Dari pengakuan maupun dari penyelidikan lebih lanjut penelusuran, JP baru memulai melakukan ini dari kurang lebih 2 sampai 3 minggu yang lalu, baru mencoba," ujar Michael.
Motif di balik penggunaan zat anestesi medis ini bermuara pada persoalan personal. AKP Michael Tandayu menyebutkan alasan yang disampaikan JP bersifat sangat pribadi. "Alasannya alasan pribadi, mungkin dari rasa ada stres atau lain sebagainya, itu alasan yang diutarakan oleh JP," ungkapnya. Tekanan mental diduga menjadi pemicu utama selebgram tersebut mencari pelarian lewat cairan vape yang dicampur obat bius.
Penangkapan JP ternyata merupakan babak akhir dari operasi yang dirancang matang oleh Polresta Bandara Soekarno-Hatta. Polisi tidak langsung meringkus sang selebgram. Mereka lebih dulu menangkap dua perempuan berinisial RR dan RN yang bertindak sebagai bandar. Penangkapan awal itu terjadi setelah polisi melakukan penyelidikan dan pembuntutan terukur. "Awalnya kita melakukan pembuntutan dari Polresta Bandara. Lalu sebelumnya kita melakukan penangkapan seperti yang tadi sudah saya jelaskan. Tapi memang JP ini tidak yang ditangkap paling pertama. Kita menangkap yang ke yang nomor duanya dulu, yang dua orang wanita," sebut Michael.
Rantai peredaran ini berhasil diputus secara menyeluruh. Polisi memetakan jaringan dari hulu ke hilir berdasarkan informasi yang didapat saat mengamankan para bandar. "Dan ketika akan melakukan penangkapan di situ kita mendapatkan melakukan penyelidikan di mana di situ kita mendapatkan informasi ataupun hasil terkait bandarnya dan pemakainya, sehingga ini tuntas dari bandar sampai pemakai kita di sini ada," pungkas AKP Michael Tandayu.
Etomidate sejatinya adalah zat bius atau anestesi yang lazim digunakan di dunia medis. Pemerintah menetapkan zat ini sebagai narkotika golongan II melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika. Aturan itu lahir setelah etomidate kerap disalahgunakan dengan cara dicampurkan ke dalam cairan vape. Pada Desember 2025, Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso sudah mengingatkan bahwa penyalahgunaan etomidate dalam vape kini dapat ditindak tegas menggunakan Undang-Undang Narkotika atau diarahkan ke program rehabilitasi.
Analisis Redaksi
Kasus Julia Prastini mengonfirmasi apa yang sejak akhir tahun lalu dikhawatirkan aparat penegak hukum: pergeseran pola konsumsi narkoba dari metode konvensional menuju modus yang lebih terselubung lewat perangkat vape harian. Status etomidate sebagai narkotika golongan II sejak berlakunya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025 memberikan pijakan hukum yang solid bagi kepolisian untuk menjerat pengguna sekaligus pemodalnya. Keberhasilan Polresta Bandara Soekarno-Hatta membongkar jaringan dari tingkat bandar (RR dan RN) hingga pemakai akhir menunjukkan bahwa distribusi zat anestesi ini sudah membentuk rantai pasok yang terstruktur, bukan transaksi acak.
Pengakuan JP yang menyebut stres sebagai alasan mengonsumsi etomidate membuka ruang evaluasi serius soal kesehatan mental di kalangan figur publik. Rentang waktu penggunaan yang diklaim baru dua hingga tiga minggu perlu diuji kebenarannya melalui pemeriksaan medis forensik lebih mendalam, mengingat tiga dari empat cartridge yang disita sudah dalam keadaan kosong. Angka konsumsi tersebut mengindikasikan intensitas pemakaian yang cukup tinggi dalam waktu singkat, sebuah pola yang lazim ditemui pada fase awal kecanduan zat anestesi.
Langkah selanjutnya yang logis dari penyidik adalah melacak sumber pasokan etomidate yang dikuasai RR dan RN. Zat bius medis seharusnya hanya beredar di fasilitas kesehatan dengan pengawasan ketat. Jika barang ini bisa bocor hingga ke tangan bandar di pasar gelap, maka ada celah tata kelola farmasi yang harus segera ditutup oleh Kementerian Kesehatan bersama Badan POM. Tanpa penelusuran ke titik kebocoran distribusi itu, penangkapan JP hanya akan menjadi rutinitas penanganan gejala tanpa menyentuh akar masalah.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Konser Andrea Bocelli di Borobudur Sukses: 100 Ribu Sepatu untuk Palestina

Lap Dapur Bau Minyak? Ini Cara Membersihkannya agar Kembali Segar

Amitabh Bachchan Gunakan Kaca Antipeluru saat Sapa Penggemar Dampak Ancaman Bom
