Indonesia Terima Kapal Induk Hibah Italia dan Serahkan Rafale ke TNI

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Indonesia Terima Kapal Induk Hibah Italia dan Serahkan Rafale ke TNI
BAGIKAN:

Presiden Prabowo Subianto secara resmi memperkuat postur pertahanan nasional dengan kedatangan kapal induk hibah dari Italia dan penyerahan sejumlah alutsista canggih kepada Panglima TNI. Langkah strategis ini diambil dalam dua tahun masa kepemimpinannya bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dengan dalih bahwa sektor pertahanan merupakan syarat mutlak bagi stabilitas negara.

Kapal induk bekas Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, tiba di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat (18/9). Pemerintah berencana menyulap kapal sepanjang 180,2 meter ini menjadi platform operasional helikopter dan pesawat nirawak (drone). Dengan bobot 13,8 ribu ton dan kecepatan maksimum 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam, kapal yang kini berganti nama menjadi KRI Sriwijaya ini mampu menampung sekitar 10 unit helikopter kelas menengah.

Kapasitas awak kapal ini sangat besar, meliputi 600 kru inti, 230 personel grup udara, dan 100 personel komando. Dalam kondisi tertentu, KRI Sriwijaya juga dapat mengangkut hingga 600 pasukan komando tambahan. Meski awalnya dirancang untuk membawa pesawat tempur AV-8B Harrier II dengan kemampuan lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal berkat fitur ski-jump, fokus penggunaan saat ini dialihkan untuk mendukung operasi drone dan helikopter.

Sebelumnya, pada Senin, 18 Mei 2026, Prabowo telah menyerahkan enam unit pesawat tempur multirole combat aircraft (MRCA) Rafale, empat unit pesawat angkut Falcon 8X, dan satu unit Airbus A400M MRTT kepada Panglima TNI, Jenderal Agus Subianto, di Landasan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma. Penyerahan ini juga mencakup radar Ground Control Intercept (GCI) tipe GM403 buatan Thales, Prancis, serta persenjataan modern seperti Smart Weapon Hammer dan rudal Meteor.

Rafale, produksi Dassault Aviation, memiliki bentang sayap 10,90 meter dan bobot lepas landas maksimum 24,5 ton. Pesawat bermesin ganda ini mampu terbang hingga ketinggian 50 ribu kaki dengan kecepatan Mach 1,8. Dilengkapi 14 titik gantung senjata, Rafale dapat mengemban misi superioritas udara, serangan anti-kapal, hingga pencegahan nuklir. Sementara itu, Falcon 8X menawarkan jangkauan 11.945 kilometer, dan A400M MRTT mampu mengangkut muatan 37 ton dengan kemampuan mendarat di landasan tidak beraspal.

Analisis Redaksi

Integrasi KRI Sriwijaya ke dalam armada TNI AL menandai lompatan signifikan dalam doktrin pertahanan maritim Indonesia. Meskipun kapal ini tidak lagi mengoperasikan jet tempur berfixed-wing seperti era Itali, konversinya menjadi basis drone dan helikopter menunjukkan adaptasi terhadap perang modern yang mengandalkan pengawasan persisten dan serangan presisi tanpa risiko nyawa pilot. Kolaborasi industri pertahanan dengan PT Len Industri untuk radar GCI juga menegaskan komitmen hilirisasi teknologi alih-alih sekadar membeli jadi.

Namun, tantangan terbesar ke depan bukan pada pengadaan, melainkan pada pemeliharaan dan interoperabilitas sistem. Menggabungkan aset dari Prancis (Rafale, Radar), Eropa (A400M), dan Italia (Kapal Induk) memerlukan standar logistik dan pelatihan kru yang kompleks. Pemerintah harus memastikan anggaran operasional jangka panjang tersedia agar alutsista mahal ini tidak menjadi beban mati, melainkan benar-benar menjadi tulang punggung deterensi regional yang kredibel.

Meow! Tanya Nesi!
😸