Von der Leyen Usung Kanada Jadi Anggota Asosiasi UE Pertama, Prosesnya Butuh Persetujuan 27 Negara

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Von der Leyen Usung Kanada Jadi Anggota Asosiasi UE Pertama, Prosesnya Butuh Persetujuan 27 Negara
BAGIKAN:

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengusulkan Kanada menjadi "anggota asosiasi" pertama Uni Eropa, status baru yang belum tercantum dalam perjanjian blok tersebut, Rabu (16/9) lalu. Usulan itu datang hanya berapa hari setelah Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan Ottawa mencari "aliansi unik" dengan Uni Eropa, namun menegaskan bukan keanggotaan penuh. Von der Leyen menilai kerjasama itu akan menciptakan "ruang bagi kemakmuran dan keamanan ekonomi bersama" yang mencakup manufaktur, teknologi, industri pertahanan, Arktik, kecerdasan buatan, energi, hingga mineral penting.

Gagasan ini mencuat di tengah huru-hara hubungan Kanada–Amerika Serikat. Washington dan Ottawa terlibat perang dagang, sementara Donald Trump berulang kali mengusik dengan menyatakan ingin menjadikan Kanada negara bagian ke-51 AS. Kanada sangat bergantung pada pasar dan keamanan AS, sehingga memburuknya hubungan mendorong Ottawa mencari alternatif strategis. Uni Eropa jadi kandidat alami: ekonomi besar, pasar konsumen luas, kemampuan pertahanan, kebutuhan energi dan mineral, serta sistem politik yang relatif sejalan.

Kanada adalah negara Arktik, dan Uni Eropa memandang kawasan itu vital terkait Rusia, keamanan, jalur pelayaran baru, energi, mineral, perubahan iklim, serta pencegahan terhadap meningkatnya aktivitas China. Von der Leyen menegaskan kerja sama akan mencakup bidang pertahanan dan Arktik. Namun, status "anggota asosiasi" itu sendiri belum memiliki bentuk, hak, maupun kewajiban yang tertetap karena belum tercantum dalam perjanjian Uni Eropa.

Realisasi usulan ini diperkirakan sulit. Keputusan butuh suara bulat 27 negara anggota, diikuti ratifikasi nasional di masing-masing negara. Negara-negara kandidat keanggotaan seperti Ukraina, Albania, Montenegro, dan Moldova bisa merasa tidak adil mendapat perlakuan khusus bagi Kanada. Proses aksesi Uni Eropa notorius panjang dan sering menuntut reformasi sensitif secara politik. Keanggotaan penuh pun hanya untuk negara Eropa, sedangkan Kanada berlokasi di Amerika Utara.

Kanada dan Uni Eropa sebetulnya sudah terikat Comprehensive Economic and Trade Agreement (CETA). Namun sepuluh tahun lebih sejak kesepakatan tercapai dan sembilan tahun berlaku sementara, beberapa negara Uni Eropa belum meratifikasinya. Jika Ottawa ingin terikat sepenuhnya ke Pasar Tunggal, Kanada harus menyeleraskan norma dan peraturan dengan hukum blok. Akibatnya, Kanada akan jadi penerima aturan tanpa suara dalam pembuatan kebijakan — mirip Islandia, Norwegia, dan Liechtenstein sebagai anggota Kawasan Ekonomi Eropa.

Analisis Redaksi

Usulan von der Leyen lebih bersifat sinyal politik daripada rencana teknis yang siap eksekusi. Ia mencoba menjawab kekosongan strategis Uni Eropa yang kehilangan fleksibilitas pasca-Brexit dan tertekan geopolitik di timur, sambil mengeksploitasi kerentanan Kanada di tangan Trump. Namun, mekanisme "anggota asosiasi" yang belum ada di traktat membuka pandora kotak hukum: apakah status ini menciptakan kelas keanggotaan baru yang melemahkan insentif bagi kandidat resmi yang sudah bertahun-tahun menunggu dan mereformasi?

Bagi Kanada, taruhan ini berbahaya. Masuk ke orbit regulasi Uni Eropa tanpa hak suara berarti Ottawa menyerahkan kedaulatan regulatif kepada Brussels — presisi yang ditolak Kanada selama negosiasi CETA. Jika Trump benar-benar memaksakan tekanan ekstrim, Kanada mungkin terpaksa menerima, tapi harga politiknya di dalam negeri akan mahal. Perhatikan langkah selanjutnya: apakah von der Leyen akan mengusulkan kerangka hukum konkret sebelum pemilu Kanada, atau biarkan gagasan ini menguap sebagai tekanan diplomatik semata.

Meow! Tanya Nesi!
😸