Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Review Khadam: Potensi Horor Terkubur Durasi Berlebih dan Color Grading Gelap

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: CNN Selebriti
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Review Khadam: Potensi Horor Terkubur Durasi Berlebih dan Color Grading Gelap
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Film Khadam sebenarnya memiliki fondasi kuat untuk menjadi tontonan horor yang mencekam, namun ambisi berlebihan dalam membangun atmosfer menakutkan justru mengubur potensi ceritanya.
  • Fariza Azlina memang membuka kisah ini dengan tensi tinggi, didukung visual yang diatur apik oleh Shamyl.
  • Pengalaman Fariza sebagai aktris dekade 90-an dan sutradara terlihat jelas dalam penyusunan kepingan cerita yang memberikan ruang kreasi luas bagi para aktor.

Film Khadam sebenarnya memiliki fondasi kuat untuk menjadi tontonan horor yang mencekam, namun ambisi berlebihan dalam membangun atmosfer menakutkan justru mengubur potensi ceritanya. Sutradara Shamyl Othman dan penulis naskah Fariza Azlina terjebak pada obsesi menciptakan teror dedemit di setiap sudut rumah terisolir, alih-alih membiarkan ketegangan mengalir secara natural dari konflik karakter.

Fariza Azlina memang membuka kisah ini dengan tensi tinggi, didukung visual yang diatur apik oleh Shamyl. Pengalaman Fariza sebagai aktris dekade 90-an dan sutradara terlihat jelas dalam penyusunan kepingan cerita yang memberikan ruang kreasi luas bagi para aktor. Namun, keinginan kuat untuk menyajikan horor konvensional membuat intensitas film yang mulai sangat tinggi di awal langsung jatuh datar. Alur cerita berjalan lambat hanya untuk mencapai klimaks yang sebenarnya setara dengan ketegangan di babak pembuka.

Dengan durasi 118 menit, Khadam terasa bertele-tele. Seandainya Fariza tidak memilih mengulur waktu, film ini bisa dipadatkan menjadi 90 menit atau bahkan kurang tanpa kehilangan esensi. Unsur-unsur horor yang dihadirkan sebenarnya sudah efisien: pemain sedikit, lokasi terisolir di tengah hutan tanpa tetangga, serta cerita yang dekat dengan masyarakat Malaysia dan Indonesia. Efisiensi narasi akan jauh lebih menguntungkan daripada pemaksaan elemen supranatural yang klise.

Meski demikian, pesan feminisme, perlawanan terhadap budaya patriarki, serta inklusivitas melalui bahasa isyarat yang dibawa Fariza tidak layak dipangkas. Komponen-komponen ini justru menjadi kekuatan unik film, terutama dengan latar waktu 1957 saat Malaysia baru lahir. Gagasan perlawanan perempuan terhadap kekerasan domestik oleh sosok 'khadam' yang dibisukan otoritarian di tengah keterbatasan fasilitas adalah ide yang menjanjikan dan segar, berbeda dari formula horor Indonesia dekade 80-an yang sering kali selesai sekadar dengan bacaan ayat suci setelah korban berjatuhan.

Ruang kreatif yang diberikan Fariza ternyata memabukkan bagi Shamyl Othman. Ia membangun semua elemen tulisan semaksimal mungkin tanpa tebang pilih, sehingga Khadam berubah seperti ceramah profesor yang kepanjangan dan membuat penonton mengantuk karena banjir informasi. Padahal, aspek teknis seperti pengambilan gambar oleh Harris Hue Abdullah, set desain, kostum, dan tata rias sudah disajikan dengan sangat apik. Penggunaan color grading yang terlalu gelap dan kuning juga terasa berlebihan, seolah-olah memaksa menampilkan nuansa masa lalu padahal hal itu sudah terwakili oleh properti dan tata artistik lainnya.

Di tengah kelemahan eksekusi tersebut, performa para pemain menjadi penyelamat utama. Aghniny Haque dan Remy Ishak menjadi center point yang maksimal, dengan chemistry terjalin apik dalam spektrum cinta hingga benci. Pujian khusus tertuju pada Aghniny yang tampil berani, bukan hanya memerankan sosok kerasukan tetapi juga membisu dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat, hingga adegan bertarung menggunakan parang sambil berkeliling di atas tanah tanpa alas kaki. Ini menjadi pembuktian proses belajar keras Aghniny sejak debutnya pada 2018 dari dunia taekwondo ke akting.

Analisis Redaksi

Kegagalan Khadam dalam mempertahankan ritme menunjukkan pentingnya disiplin penyuntingan dalam genre horor. Ketakutan paling efektif sering kali lahir dari apa yang tidak ditunjukkan, bukan dari paparan visual yang konstan dan melelahkan. Dengan memadatkan durasi dan mengandalkan akting minimalis Aghniny Haque serta Remy Ishak, film ini bisa menjadi studi kasus kolaborasi regional yang lebih tajam. Potensi besar terletak pada kemampuan menyederhanakan narasi tanpa mengurangi kedalaman pesan sosialnya.

Kolaborasi perfilman sesama negara Asia Tenggara, atau SEAblings, tampak sangat menjanjikan melalui proyek seperti ini. Kemiripan budaya dan sejarah antara Malaysia dan Indonesia memungkinkan pertukaran ide yang orisinal, jauh lebih bernilai daripada sekadar adaptasi atau remake. Jika produser dan kreator dapat fokus pada penguatan naskah dan kepercayaan pada kemampuan aktor, alih-alih terjebak pada efek visual berlebihan, industri film kawasan ini bisa menghasilkan karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga relevan secara sosial.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ