PIHPS Catat Cabai Rawit Tembus Rp96.050 per Kilo, Telur Ayam Rp29.900

Ekonomi
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: Antara News
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

PIHPS Catat Cabai Rawit Tembus Rp96.050 per Kilo, Telur Ayam Rp29.900
BAGIKAN:

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat harga cabai rawit merata di tingkat konsumen sebesar Rp96.050 per kilogram, sementara telur ayam ras dipasarkan pada Rp29.900 per kilogram, berdasarkan pemantauan tanggal 18 September 2026.

Data harian PIHPS menunjukkan komoditas cabai rawit kembali meretas batas psikologis Rp90.000, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp75.000 per kilogram. Telur ayam ras sendiri bergoyang di atas patokan HET Rp28.000 per kilogram, menandakan tekanan pasokan yang belum mereda meski musim panen sudah dimasuki.

Pantauan di sejumlah pasar tradisional di Jabodetabek mengonfirmasi angka survei tersebut. Pedagang di Pasar Modern Bintaro, Jakarta Selatan, mengakui stok cabai rawit tipis karena pasokan dari daerah produsen seperti Brebes dan Sumedang menurun drastis akibat hujan tidak musiman bulan lalu. "Beli Rp85.000 dari grosir, jual Rp95.000 sudah untung tipis," ujar Siti, pedagang sayur seitiga tahun.

Bank Indonesia melalui PIHPS terus mengkoordinasikan dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian untuk memantau dinamika harga sembilan komoditas pangan strategis. Mekanisme pemantauan harian ini dirancang sebagai sistem peringatan dini agar intervensi pasar dan impor dapat dieksekusi tepat waktu sebelum gejolak harga melonjak ke inflasi inti.

Bagi rumah tangga, kenaikan cabai rawit yang mencapai 28 persen di atas HET berarti beban belanja dapur membengkak signifikan. Ibu Rumah Tangga (IRT) mulai mengurangi porsi cabai dalam masakan harian atau beralih ke cabai merah besar yang harganya relatif lebih stabil di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram.

Analisis Redaksi

Lonjakan harga cabai rawit ke level Rp96.050 per kilogram bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan indikator kerapuhan rantai pasok hortikultura nasional yang sangat sensitif terhadap anomali cuaca. Ketika hujan menghantam kawasan produsen saat masa panen, produktivitas turun tapi biaya produksi justru melonjak akibat perawatan tanaman dan biaya pengeringan pasca panen. Logika ekonomi sederhana: penawaran kaku menghadapi permintaan inelastik akan selalu melahirkan harga premium yang bertahan lama.

Yang perlu diwaspadai bukan angka hari ini, tapi ketidakmampuan sistem buffer stock dan distribusi logistik untuk menstabilkan harga di bawah HET dalam jangka menengah. Jika impor cabai atau penguatan stok dari petani kontrak tidak segera terealisasi sebelum momentum libur panjang atau momentum naiknya permintaan musim hujan, angka Rp100.000 per kilogram bukan skenario mustahil. Langkah logis selanjutnya adalah percepatan realizasi program pertanian kontrak dan penyederhanaan rantai distribusi agar margin pedagang grosir tidak memakan margin petani sekaligus membebani konsumen.

Meow! Tanya Nesi!
😸