Mimpi Selingkuh Bukan Ramalan Khianat, Tapi Cermin Kecemasan dan Kebutuhan Emosional Tak Terpenuhi
Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Mimpi selingkuh yang mengejutkan pembangun tidur dengan jantung berdebar justru jarang berkaitan dengan pengkhianatan nyata, melainkan cerminan emosi, kecemasan, maupun kebutuhan yang belum terpenuhi di alam bawah sadar menurut para pakar psikologi dan peneliti tidur.
Mengutip buku Sumber Kecerdasan Manusia karya P. Ratu Ile Tokan, mimpi merupakan hasil interaksi jiwa dan tubuh saat seseorang tertidur tanpa melibatkan pikiran aktif, sehingga penafsiran harus bersandar pada sisi psikologis dan emosional, bukan takhayul semata. Sleep Foundation mencatat mimpi bermuatan seksual dialami lebih dari 70 persen orang, menjadikan tema perselingkuhan dalam tidur sebagai hal lazim, bukan anomali.
Studi Schredl dan Wood (2021) yang dipublikasikan di National Library of Medicine menunjukkan mimpi yang melibatkan mantan pasangan cenderung membawa muatan emosi negatif lebih tinggi dibanding mimpi tentang pasangan saat ini, menjelaskan mengapa banyak variasi mimpi perselingkuhan justru berpusat pada sosok masa lalu. Lauri Loewenberg, analis mimpi bersertifikat, dikutip Healthline menegaskan, "Ini sesuatu yang patut dicermati karena setiap hal dalam mimpi kita memiliki makna."
Dalam psikoanalisis klasik, Sigmund Freud memandang mimpi sebagai perwujudan hasrat bawah sadar, sedangkan Carl Jung menilai setiap tokoh sebagai cerminan aspek diri si pemimpi. Deirdre Barrett, psikolog Universitas Harvard, dikutip AOL menjelaskan, "Asosiasimu mungkin lebih condong pada ketidaksetiaan terhadap sesuatu dalam dirimu sendiri." Dr. Rahul Jandial, ahli bedah saraf sekaligus neurosaintis, menuturkan kepada TODAY, "Mimpi erotis bersifat universal."
Konteks sosok menentukan makna: memimpikan pasangan selingkuh kerap menandakan si pemimpi merasa "dicurangi" perhatian oleh pekerjaan, gawai, atau kesibukan lain, bukan keinginan literal berkhianat. ChoosingTherapy melaporkan konflik hubungan memicu kecemasan yang berujung gangguan tidur dan mimpi buruk, termasuk perselingkuhan. NU Online mengelompokkan mimpi dalam Islam jadi tiga: mimpi baik, mimpi karena memikirkan sesuatu, dan mimpi buruk dari setan — dianjurkan berdoa dan muhasabah. Primbon Jawa justru memaknai mimpi buruk sebagai pertanda rezeki atau umur panjang pasangan.
Langkah praktis yang direkomendasikan pakar: jangan panik atau menuduh pasangan hanya berdasarkan mimpi. Lauri Loewenberg, kali ini dikutip mindbodygreen, menegaskan, "Percakapan yang jujur dan menindaklanjutinya adalah kunci mengakhiri segala jenis mimpi." Ajak pasangan bicara hati ke hati soal kebutuhan waktu bersama. Jika mimpi berulang mengganggu tidur dan memicu kecemasan berlebihan, berkonsultasi dengan psikolog adalah langkah bijak.
Analisis Redaksi
Fenomena mimpi selingkuh mengungkap kesenjangan antara narasi budaya populer yang memaknai mimpi sebagai pertanda nasib, dan konsensus ilmiah yang menempatkannya sebagai mekanisme pemrosesan emosi. Data 70 persen prevalensi mimpi seksual dari Sleep Foundation, dikombinasikan dengan temuan Schredl & Wood soal dominasi emosi negatif pada mimpi mantan, membangun kerangka logis: mimpi ini adalah sintom, bukan diagnosis. Masyarakat perlu dibimbing untuk membedakan antara "bukti" yang harus dibuktikan di pengadilan, dan "sinyal" yang harus dibaca di ruang konseling.
Yang perlu diwaspadai bukan mimpi itu sendiri, melainkan reaksi impulsif yang mengubah simbol jadi tuduhan nyata — merusak kepercayaan yang justru menjadi akar masalah. Langkah logis selanjutnya adalah normalisasi dialog tentang mimpi sebagai bagian dari emotional check-in rutin pasangan, bukan tabu yang diam-diam membesarkan rasa tidak aman. Jika media hiburan terus mempublikasikan tafsir mimpi, tanggung jawab redaksionalnya adalah menyertakan disclaimer ilmiah dan jalur rujukan profesional, agar pembaca tidak terjebak interpretasi harfiah yang merusak hubungan.

