Menhan Sjafrie Tinjau Kapal Induk Italia ITS Giuseppe Garibaldi di Dermaga Jakarta
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau kapal induk Italia ITS Giuseppe Garibaldi yang sedang sandar di Dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026). Kunjungan kerja pejabat tertinggi kementerian itu menandai langkah diplomasi pertahanan bilateral yang semakin mengental antara Jakarta dan Roma.
Didampingi sejumlah pejabat tinggi TNI dan Kementerian Pertahanan, Menhan naik ke dek pesawat tempur V/STOL AV-8B Harrier II Plus yang menjadi andalan armada udara kapal tersebut. Ia juga memeriksa ruang komando, hangar helikopter, serta sistem manajemen pertempuran AEGIS yang terintegrasi di पुलit (bridge) kendali.
Kapal induk kelas Garibaldi itu berlabuh di Jakarta sejak Rabu (16/9) mengikuti rangkaian kegiatan latihan gabungan PASSEX dengan KRI serta seminar keamanan maritim ASEAN-Eropa. Kehadirannya menjadi bukti nyata komitmen Italia memperkuat kehadiran di Indo-Pasifik, selaras dengan kebebasan navigasi yang digariskan UNCLOS 1982.
Sjafrie di dek kapal didampingi Dubes Italia untuk Indonesia, Stefano Verrecchia, serta Komandan Lantamal I, Laksamana Pertama TNI Achmad Fauzi. Keduanya membahas peluang transfer teknologi perisai anti-radar serta program pelatihan kru KRI di fasilitas simulasi Fincantieri di La Spezia.
Kunjungan ini terjadi tepat sebulan setelah Kontingen Garuda XXIII berangkat ke Lebanon di bawah bendera UNIFIL, di mana personel TNI akan bekerja sama dengan rekanan Italia di sektor barat. Sinergi operasional di Medan Perang Libanon kini tereplikasi ke ranah pelatihan dan interoperabilitas platform di perairan Nusantara.
Analisis Redaksi
Peninjauan Menhan ke kapal induk sekunder NATO ini bukan sekadar upacara protokol. Ia mengirim sinyal jelas: Indonesia siap memperdalam kerjasama industri pertahanan dengan Eropa, tidak hanya mengandalkan satu blok tradisional. Pemilihan Garibaldi — platform yang sudah berusia 40 tahun namun terus di-modernisasi — mengajarkan bahwa kelangsungan hidup aset utama TNI AL bergantung pada manajemen siklus hayat yang cermat, bukan sekadar pembelian baru.
Yang perlu diwaspadai adalah kecepatan negosiasi transfer teknologi. Pengalaman kasus KRI Usman Harun dan KRI Bung Tomo — yang hingga kini bergantung pada dukungan logistik Inggris — harus jadi pelajaran. Langkah logis selanjutnya adalah penetapan MoU teknis sebelum akhir tahun, mengunci jadwal pelatihan kru dan rencana *mid-life upgrade* KRI Raden Eddy Martadinata agar interoperabilitas dengan sistem Italia benar-benar terealisasi.