Kemenpar Perluas Promosi Wisata ke Pasar Jepang Lewat Ajang Travel Fair Tokyo
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.
Kementerian Pariwisata memperluas jangkauan promosi pariwisata Indonesia ke wisatawan Jepang melalui partisipasi di ajang Travel Fair Tokyo yang berlangsung 23 hingga 25 Oktober 2025 di Tokyo International Forum.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Wayan Giri Adnyana, mengatakan kehadiran Indonesia di pameran pariwisata terbesar di Asia Pasifik itu strategis untuk menembak pasar wisatawan Jepang yang dikenal berpotensi belanja tinggi dan lama menginap.
"Jepang adalah pasar prioritas ke-4 terbesar kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tahun 2024 dengan total 235.000 kunjungan," ujar Ni Wayan di Tokyo, Selasa (11/11), dikutip dari kementeriannya.
Pavilion Indonesia di ajang itu mengusung konsep "Wonderful Indonesia: Harmony of Nature and Culture" dengan menampilkan 14 koekskibitor dari pelaku usaha pariwisata, mulai dari hotel, travel agent, hingga pemerintah daerah seperti Bali, Yogyakarta, dan Labuan Bajo.
Selama tiga hari pameran, Kemenpar menggelar presentasi destinasi, pertunjukan tari tradisional, dan demo masak makanan khas Nusantara untuk menarik perhatian 150.000 pengunjung yang diprediksi hadir, termasuk 300 buyer Jepang yang diundang dalam sesi bisnis matching.
Langkah ini menjadi lanjutan roadshow "Wonderful Indonesia" di Osaka dan Fukuoka bulan lalu, serta kolaborasi dengan maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia dan ANA yang menambah frekuensi penerbangan langsung Tokyo–Denpasar dan Tokyo–Jakarta mulai musim libur akhir tahun.
Analisis Redaksi
Fokus Kemenpar ke pasar Jepang bukan tanpa alasan: data kementerian mencatat wisatawan Jepang rata-rata menginap 10,2 malam dan membelanjakan USD 1.450 per kunjungan, jauh di atas rata-rata nasional USD 1.100. Jika target 300 ribu kunjungan tahun 2025 tercapai, kontribusi devisa bisa tembus USD 435 juta. Namun, tantangan klasik tetap mengintai: konektivitas penerbangan yang masih terbatas ke destinasi prioritas kedua seperti Labuan Bajo dan Danau Toba, serta isu kebersihan serta tata kelola sampah di Bali yang kerap jadi bahan sanggahan media Jepang.
Langkah logis selanjutnya adalah memastikan komitmen maskapai penerbangan untuk menambah slot tidak hanya bersifat musiman, serta mendorong pemerintah daerah memperbaiki infrastruktur pendukung—mulai dari tanda tangan berbahasa Jepang di tempat wisata hingga ketersediaan makanan halal dan vegetarian yang masih minim di luar Bali. Tanpa perbaikan sistemik di ujung tombak, promosi di pameran internasional berisiko jadi sekadar "pajangan" tanpa konversi kunjungan nyata.