Kebakaran Buthak-Kawinajang Menelan 1.000 Hektare, 42 Kali Water Bombing Belum Padamkan Api
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Buthak Kabupaten Malang dan Gunung Kawinajang Kabupaten Blitar telah menghanguskan sekitar 1.000 hektare lahan, memaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur mengerahkan operasi water bombing masif 42 kali sejak Rabu lalu, namun api belum sepenuhnya terkendali hingga Jumat (18/9) sore.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto mengonfirmasi, titik api pertama terpantau dari observasi udara helikopter PK-DAP pada 13 September 2026. Sejak itu, pemadaman dari udara digulirkan bertahap: 11 kali pada Rabu (16/9), 15 kali pada Kamis (17/9), dan 16 kali hingga Jumat pukul 15.00 WIB β total 42 kali water bombing yang mencurahkan puluhan ribu liter air ke titik-titik kritis di Pos Meja Bunder, kawasan Gunung Malang, serta sisi utara Pos 3 Buthak dan Pos 4 Batu Tulis.
"Pada hari Selasa, kita juga sempat melakukan dua kali water bombing dengan 2.000 liter air yang dicurahkan. Tapi, karena kondisi cuaca dan angin yang sangat kencang pada hari itu, akhirnya water bombing tidak bisa dilanjutkan," ujar Gatot, menggambarkan kendala cuaca yang menghambat upaya pemadaman awal pekan ini.
Di darat, tim gabungan BPBD Jatim, BPBD Malang, BPBD Blitar, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan setempat dibagi dua gelombang. Gelombang pertama bergerak dari Posko Precet Gunung Kawi pukul 03.00 WIB dini hari, diikuti gelombang kedua pukul 09.00 WIB. Mereka menembus jalur menuju Puncak Pitrang, Petak 177 RPH Gendogo, dan area Pos 3 Batu Tulis untuk pemadaman manual dan pembuatan sekat bakar guna mengisolasi pergerakan api.
Kebakaran tidak hanya melanda Buthak dan Kawinajang. Di Kabupaten Nganjuk, api melahap sekitar 50 hektare kawasan Gunung Wilis di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, terdeteksi sejak Rabu (16/9) pukul 06.15 WIB di Petak 24 RPH Gedangklutuk. Tim gabungan fokus membuat sekat bakar di empat titik: Ngongkrok, Ngunut, Lungur Cilik/Sedepok, dan Candi Laras.
Analisis Redaksi
Angka 1.000 hektare lahan terbakar di Buthak-Kawinajang bukan sekadar statistik β ia mewakili kegagalan sistem deteksi dini dan respons awal yang selama ini jadi andalan. Api yang pertama terpantau 13 September baru ditangani water bombing masif tiga hari kemudian, selisih waktu yang memungkinkan api menguasai area luas di lereng curam yang sulit dijangkau pasukan darat. Ketergantungan pada water bombing yang rentan terhadap cuaca β terbukti dihentikan Selasa karena angin kencang β mengekspos kerapuhan strategi pemadaman yang terlalu bergantung pada satu modality udara.
Kasus Gunung Wilis yang hampir bersamaan memperparah gambaran: kapasitas sumber daya BPBD dan Manggala Agni tersebar tipis di tiga titik kebakaran besar sekaligus. Pembuatan sekat bakar manual oleh pasukan campuran TNI-Polri-relawan memang kuno, tapi remain the most reliable method di medan yang tidak memungkinkan akses alat berat. Yang perlu diwaspadai: musim kemarau puncak baru berjalan, dan pola kebakaran beruntun di Bromo, Lawu, kini Buthak-Kawinajang-Wilis mengisyaratkan sistem peringatan dini berbasis satelit dan menara pengawasan hutan belum berfungsi optimal di Jawa Timur.
Langkah logis ke depan: evaluasi independen terhadap protokol aktivasi water bombing β mengapa ada jeda tiga hari antara deteksi dan pengecoran air masif? β serta audit ketersediaan alat pemadaman modern (seperti drone thermal dan pompa portable high-pressure) di setiap RPH. Tanpa perbaikan sistemik, angka 1.000 hektare hari ini bakal jadi baseline yang terlampaui musim depan.
