Hasan Nasbi Hormati Dedikasi Lima Jurnalis dan Awak Kapal yang Hilang Kontak

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Hasan Nasbi Hormati Dedikasi Lima Jurnalis dan Awak Kapal yang Hilang Kontak
BAGIKAN:

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi menegaskan dedikasi dan keberanian lima jurnalis serta awak kapal yang hilang kontak patut mendapat penghargaan penuh dari negara. Penghormatan itu disampaikannya saat memimpin upacara tabur bunga di perairan tempat terakhir posisi kapal terdeteksi, Rabu (18/9/2026).

Upacara yang digelar di atas kapal patroli itu berlangsung sunyi, hanya diwarnai derau ombak dan hembusan angin laut. Hasan bersama keluarga korban dan rekan seperjuangan melemparkan bunga-bunga ke lautan sebagai simbol doa dan penghormatan terakhir. Tak ada pidato panjang, hanya doa ringkas yang dibacakan dengan suara menggigil.

Kelima jurnalis itu dikenal hilang saat menutupi tugas peliputan maritim di perairan yang tantangan. Mereka mengabdikan profesi untuk mengantarkan informasi dari garis depan, area yang sering terabaikan media utama. Nasbi menyoroti betapa beratnya risiko yang dihadapi awak media saat mengejar kebenaran di tengah keterbatasan akses dan keselamatan.

Kehilangan kontak ini telah memicu pencarian gabungan melibatkan TNI AL, Basarnas, dan Kementerian Perhubungan sejak beberapa hari lalu. Meskipun upaya pencarian dan penyelamatan (SAR) masih berlanjut secara intensif, upacara tabur bunga ini menjadi momen transisi emosional bagi keluarga yang menunggu kabar di daratan. Pemerintah menegaskan komitmen tidak akan berhenti mencari sebelum menemukan jawaban pasti.

Reaksi ini juga menarik perhatian organisasi pers dan advokasi keselamatan jurnalis. Mereka menilai langkah Pejabat Palacio ini sebagai pengakuan konkret atas risiko profesi, bukan sekadar lip service. Namun, tekanan tetap dialamatkan pada sisi operasional: standar prosedur keselamatan peliputan berisiko tinggi dan jaminan sosial bagi keluarga korban.

Analisis Redaksi

Penghormatan negara lewat pejabat tingkat tinggi ini menandai pergeseran narasi: jurnalis bukan lagi sekadar pencatat sejarah, tapi bagian dari sejarah yang berani taruh nyawa. Namun, simbolik tabur bunga tidak boleh mematikan urgensi reformasi sistemik. Kita butuh protokol keamanan peliputan maritim yang binding, bukan rekomendasi, serta skema asuransi kehidupan yang otomatis mengikat untuk setiap tugas risiko tinggi.

Langkah logis selanjutnya adalah transparansi hasil evaluasi SAR. Publik dan keluarga berhak tahu apakah kerentanan sarana komunikasi dan navigasi kapal menjadi faktor. Jika ternyata ada kelalaian sisi pengelola armada atau regulator, hukuman administrasi tidak cukup; tuntutan pidana dan perbaikan standar keselamatan laut harus jadi prioritas agar derita ini tidak terulang pada awak media lain.

Meow! Tanya Nesi!
😸