Gubernur Aceh Imbau Kewaspadaan Bencana, Dua Jembatan Vital Target Rampung 2027
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, mengeluarkan surat imbauan kepada seluruh kepala daerah di provinsi ini untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi, mengingat prediksi BMKG curah hujan intensitas menengah hingga tinggi Oktober sampai Desember 2026 mendatang.
Dalam surat yang ditandatangani Kamis (17/9), Mualem menegaskan kondisi tanah di kawasan terdampak bencana setahun lalu masih labil dan belum kokoh, menciptakan risiko tanah longsor yang lebih tinggi saat hujan deras kembali mengguyur. Juru Bicara Pemprov Aceh Nurlis Effendi membenarkan imbauan itu, menyoroti peringatan dini dari BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Aceh sebagai landasan kebijakan.
Realita di lapangan sudah mulai terlihat. Sepekan terakhir hujan menyebabkan banjir luapan di lima kabupaten sekaligus: Aceh Utara, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Aceh Barat Daya. Masyarakat diimbau menyiapkan Tas Siaga Bencana berisi dokumen vital dan perlengkapan dasar, mengamankan instalasi listrik serta barang berharga, serta memantau peringatan dini BMKG secara rutin.
Di sisi infrastruktur, luka bencana 2025 belum sepenuhnya tertutup. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memastikan dua jembatan vital di Aceh Tenggara — Jembatan Mbarung di Kecamatan Babusalam dan Jembatan Natam di Kecamatan Darul Hasanah — baru target rampung 2027. Keduputus diterjang banjir bandang akhir 2025 lalu, memaksa masyarakat membangun jembatan ala kadarnya untuk bertahan.
Jembatan Mbarung menghubungkan empat kecamatan: Lawe Alas, Tanoh Alas, Babul Rahmah, dan Darul Hasanah. Sementara Jembatan Natam menjembatani Kecamatan Badar dan Darul Hasanah. Kepala BPJN Aceh Zulkarnaini telah mengusulkan percepatan kedua struktur ini. Berbeda dengan keduanya, Jembatan Pantai Dona yang pernah dikunjungi Presiden Prabowo ditargetkan rampung Desember tahun ini, menurut Dody saat meninjau lokasi Kamis (17/9) lalu.
Fokus baru muncul dari Jembatan Kuning di Kecamatan Bambel, akses jalan nasional yang rusak diterjang banjir bandang beberapa hari lalu. Dody menduga penyumbatan kayu jadi pemicu dan meminta bantuan Bupati Aceh Tenggara serta Kapolres untuk pengadaan lahan guna pembangunan flyover kecil. "Itu akan lebih saya utamakan," ucapnya, menyoroti urgensi ekonomi di balik kerusakan fisik.
Analisis Redaksi
Imbauan Mualem bukan sekadar prosedur rutinan musiman. Ia mengaitkan prediksi BMKG dengan luka tanah yang belum sembuh — sebuah pendekatan kausalitas yang jarang terekspos dalam kebijakan bencana daerah. Risiko kaskade tanah longsor di zona pasca-bencana 2025 nyata dan tidak bisa dinilai ringan hanya karena belum terjadi korban jiwa saat ini.
Keterlambatan dua jembatan strategis hingga 2027 mengungkap hambatan struktural: akuisisi lahan, alur anggaran, dan koordinasi antar lembaga. Janji "percepatan rehab-rekon" dari Menteri Dody harus dibuktikan dengan penetapan jadwal kerja ketat, bukan sekadar target tahunan. Masyarakat di empat kecamatan yang bergantung pada Mbarung dan Natam tidak bisa menunggu dua musim hujan lagi dengan jembatan darurat yang rapuh.
Langkah selanjutnya yang logis: sinkronisasi data kerentanan BPBD dengan rencana infrastruktur PU. Jika Jembatan Kuning jadi prioritas baru, maka revisi APBD/APBN dan penetapan status darurat diperlukan agar flyover kecil itu tidak terjebak birokrasi lahan. Kewaspadaan yang diimbau Gubernur harus didukung kesiapan fisik, bukan hanya tas siaga di tangan warga.