Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Selatan Pelabuhanratu, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
JAKARTA - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,2 mengguncang wilayah 189 kilometer Selatan Barat Laut (SBL) Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, pada Jumat (18/9/2026) pukul 17.36.17 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan gempa tersebut tidak berpotensi memicu tsunami.
Berdasarkan data katalog BMKG, hiposentrum gempa terletak pada koordinat 8.42 Lintang Selatan dan 106.02 Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer. Kedalaman yang dangkal mengindikasikan gempa bersumber dari patahan dangkal (shallow crustal earthquake) di kepingan Indo-Australia atau deformasi internal kepingan Eurasia, bukan dari zona subduksi utama.
Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono, melalui keterangan resmi menjelaskan bahwa gempa ini dirasakan oleh warga di sejumlah wilayah. "Gempa dirasakan hingga skala III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity) di wilayah Pelabuhanratu, Sukabumi, dan sekitarnya," ujar Daryono. Getaran terasa jelas oleh warga yang berada di lantai atas bangunan, namun belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa hingga berita ini diturunkan.
Koordinator Bidang Gempa dan Tsunami BMKG, Muhammad Budi, menambahkan bahwa lokasi epicentrum berada di wilayah lepas pantai yang relatif jauh dari permukiman padat. "Jarak 189 kilometer cukup aman, namun karena magnitudo cukup besar dan kedalaman dangkal, getaran tetap terasa cukup kuat di daratan," kata Budi. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari BMKG terkait gempa susulan (aftershock) yang berpotensi terjadi.
Sejauh ini, BMKG telah merekam beberapa gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil yang mengikuti peristiwa utama. Masyarakat di wilayah pesisir Selatan Jawa Barat dan Banten dihimbau untuk tetap waspada terhadap gempa susulan dan menghindari bangunan yang terindikasi retak atau tidak layak huni.
Analisis Pakar Geofisika
Secara tektonik, wilayah 189 km SSW Pelabuhanratu berada di zona transisi kompleks antara zona subduksi Sunda (di mana kepingan Indo-Australia menyubduksi di bawah kepingan Eurasia) dan sistem patahan trasformasi di kepingan Indo-Australia. Gempa M 5,2 dengan kedalaman 10 km ini diklasifikasikan sebagai intra-slab earthquake (gempa dalam kepingan) atau gempa deformasi dangkal di kepingan atas (Eurasia), bukan gempa megathrust antarmuka subduksi utama yang berpotensi tsunami besar.
Sejarah kegempaan di segmen Sunda Strait dan Selatan Jawa Barat menunjukkan aktivitas sismisitas tinggi. Patahan-patahan aktif seperti Patahan Cimandiri, Patahan Baribis, dan struktur patahan lepas pantai Selatan Jawa (seperti Patahan West Java Fault) sering menghasilkan gempa dangkal berkekuatan menengah (M 5.0 - 6.0). Gempa M 5.2 kali ini kemungkinan besar terpicu oleh pelepasan tegangan tektonik pada salah satu struktur patahan normal atau strike-slip di kepingan Indo-Australia yang sedang mengalami pembengkokan (bending) sebelum masuk zona subduksi, atau reaktivasi patahan lama di kepingan Eurasia.
Potensi Tsunami: Sangat rendah. Magnitudo 5,2 di bawah ambang batas umum M 7.0 untuk gempa tsunamiogenik dari subduksi, dan lokasi epicentrum tidak berada di zona patahan thrust dangkal di dasar laut yang mampu menggeser mass air secara signifikan. BMKG telah benar menerbitkan informasi "Tidak Berpotensi Tsunami".
Potensi Gempa Susulan (Aftershock): Tinggi. Gempa dangkal M 5.2 biasanya diikuti ratusan gempa susulan dalam rentang hari hingga minggu ke depan. Pola Omori's Law berlaku: frekuensi dan magnitudo gempa susulan akan menurun seiring waktu. Namun, ada probabilitas kecil (sekitar 5-10%) bahwa gempa ini merupakan foreshock (gempa pendahuluan) dari peristiwa utama yang lebih besar di segmen yang sama. Masyarakat di wilayah pesisir Selatan Jawa-Banten diwajibkan mempersiapkan tas siaga dan mengidentifikasi jalur evakuasi, mengingat zona ini memiliki potensi gempa besar (M > 7.0) dan tsunami di masa depan dari segmen subduksi Sunda yang terkunci (locked).