Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M4,7 Guncang Flores, Getaran Terasa hingga Ruteng dan Labuan Bajo

BencanaBudi SantosoBudi SantosoSumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa M4,7 Guncang Flores, Getaran Terasa hingga Ruteng dan Labuan Bajo
BAGIKAN:

JAKARTA/ENDE – Gempa bumi bermagnitudo 4,7 mengguncang wilayah 34 kilometer Utara Timur Laut (UTL) Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis (18/9/2026) pukul 15.20.56 WIB.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hiposenter gempa terletak pada kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan bumi. Koordinat epicenter berada pada 8,12 Lintang Selatan dan 120,45 Bujur Timur, menempatkan pusat gempa di wilayah daratan Pulau Flores.

"Gempa ini disebabkan oleh aktivitas patahan Flores Thrust yang bersifat dangkal (shallow crustal)," kata Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono, saat dikonfirmasi. Getaran dirasakan hingga Kota Ruteng dengan intensitas III-IV MMI (Skala Modified Mercalli Intensity), artinya getaran terasa jelas oleh orang di dalam rumah, barang-barang bergoyang, namun belum berpotensi merusak bangunan yang memenuhi standar tahan gempa.

Warga di Ruteng dan Labuan Bajo melaporkan merasakan guncangan selama beberapa detik. "Tiba-tiba meja goyang, kami lari ke halaman," ujar Maria Goreti, warga Kelurahan Ruteng. Hingga pukul 16.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai belum menerima laporan kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa.

BMKG menegaskan gempa ini tidak berpotensi tsunami mengingat magnitudo di bawah ambang batas 6,5 dan kedalaman hiposenter yang relatif dangkal di daratan. Masyarakat diminta tetap tenang, waspada terhadap gempa susulan, serta hanya mempercayai informasi dari sumber resmi.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Flores berada pada zona transisi tektonik kompleks antara Lempeng Sunda dan Lempeng Banda. Sesar utama yang mendominasi kegempaan di area ini adalah Flores Back-Arc Thrust (Flores Thrust), sebuah patahan dorong (thrust fault) yang mengarah barat daya dengan kemiringan ke timur laut. Patahan ini merupakan batas deformasi belakang busur vulkanik Sunda-Banda yang mengakomodasi konvergensi obduk antara keduanya.

Gempa M4,7 ini terklasifikasi sebagai gempa dangkal (shallow crustal earthquake) pada kedalaman 10 km. Mekanisme sourcenya kemungkinan besar thrust faulting (patahan dorong) sejalan dengan orientasi Flores Thrust. Berbeda dengan gempa megathrust di zona subduksi selatan Jawa, gempa di patahan back-arc ini cenderung memiliki magnitudo maksimum lebih kecil (biasanya < M7,0), namun berpotensi merusak secara lokal karena kedalamannya dangkal dekat permukaan.

Secara historis, segmen patahan ini pernah memicu gempa destruktif, paling signifikan adalah Gempa Flores 1992 (M7,8) yang memicu tsunami setinggi 26 meter dan menewaskan lebih dari 2.000 jiwa. Lebih baru, aktivitas sismisitas meningkat teramati di segmen barat Flores Thrust terkait gempa Lombok 2018, menunjukkan stress transfer (transfer tegangan) antar sistem patahan.

Potensi Tsunami: Untuk magnitudo 4,7, potensi tsunami tektonik hampir nol (ambang batas umumnya M>6,5 untuk patahan dorong di perairan). Namun, perlu diwaspadai tsunami landslide (tanah longsor bawah laut) jika guncangan terjadi di area lereng curam perairan, meski peluangnya rendah pada magnitudo ini.

Gempa Susulan (Aftershock): Probabilitas gempa susulan tinggi dalam skala waktu hari hingga minggu ke depan. Pola Omori's Law berlaku: frekuensi dan magnitudo susulan akan menurun seiring waktu. Warga di zona getaran (Ruteng, Reok, Labuan Bajo) diimbau waspada terhadap guncangan susulan yang berpotensi meretaskan bangunan yang sudah lemah akibat guncangan utama. Mitigasi jangka panjang: pemetaan fault trace aktif Flores Thrust untuk perencanaan tata ruang dan bangunan tahan gempa.

Meow! Tanya Nesi!
😸