China Diam-Diam Tekan Iran Redam Houthi Usai Minta Saudi
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

China diam-diam meminta Iran menggunakan pengaruhnya untuk meredam kelompok Houthi di Yaman setelah Arab Saudi meminta bantuan Beijing menghadapi serangan cepat kelompok yang didukung Teheran itu dalam sepekan terakhir.
Permintaan itu disampaikan setelah Houthi bergerak cepat di sepanjang pesisir Laut Merah dan kawasan sekitar Selat Bab el-Mandeb, membuat jalur pelayaran serta ekspor minyak Arab Saudi semakin rentan, menurut tiga sumber Iran yang mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters. Secara terbuka, Beijing menyerukan semua pihak menahan diri, membuka ruang dialog, dan memulihkan keamanan pelayaran. Namun menurut ketiga sumber itu, pesan tertutup China kepada Iran jauh lebih tegas dibanding pernyataan publiknya.
China ingin Iran memanfaatkan pengaruhnya agar konflik tidak meluas ke jalur-jalur energi yang sangat vital bagi Beijing. Sebagai perekonomian terbesar kedua dunia, China sangat bergantung pada jalur tersebut. Ketiga sumber Iran berbicara dengan syarat anonim dan tidak menjelaskan bagaimana pesan disampaikan, apakah dibahas saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi berkunjung ke China pada Rabu (16/9/2026). Respons Teheran: stabilitas kawasan bergantung pada berakhirnya perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
China juga tidak mengeluarkan ancaman terbuka maupun tekanan ekonomi jika Iran gagal mengendalikan Houthi. Kementerian Luar Negeri China menegaskan Beijing tidak ingin ketegangan meluas ke Yaman dan Laut Merah. "Kedaulatan dan keamanan semua negara harus dihormati, dan fasilitas vital bagi kehidupan masyarakat tidak boleh menjadi sasaran," ucap kementerian itu. Data Kpler menunjukkan pembelian China menyumbang lebih 80% ekspor minyak Iran melalui jalur laut pada 2025, rata-rata 1,4 juta barel per hari. China jadi mitra dagang terbesar Iran sejak lebih satu dekade.
"Beijing salah satu dari sedikit ibu kota yang masih dapat menekan Iran untuk mengendalikan Houthi," kata seorang diplomat senior Barat. Houthi muncul 1990-an menentang pengaruh Sunni Arab Saudi, mendapat senjata, pelatihan, dan dana dari Iran, jadi bagian dari "Poros Perlawanan" menentang Barat dan Israel. Ancaman Houthi di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb berpotensi memperburuk krisis energi global, apalagi setelah Iran blokade Selat Hormuz. Dengan Hormuz tertutup, serangan Houthi berkelanjutan bisa mengganggu dua jalur utama ekspor minyak Timur Tengah sekaligus.
Alex Vatanka, Direktur Program Iran di Middle East Institute Washington, menilai kepentingan China di Timur Tengah lebih luas dari hubungannya dengan Iran. Beijing mungkin menentang tekanan AS ke Teheran, tapi butuh stabilitas kawasan. Setengah impor minyak China dari Timur Tengah, perdagangan dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) capai US$300 miliar per tahun. "Iran bisa mengganggu Hormuz. Tapi pada titik tertentu, pengaruh itu mulai merugikan kekuatan yang diandalkan Teheran," kata Vatanka. Belum jelas Teheran akan menindaklanjuti kekhawatiran Beijing, tapi hubungan dengan China punya bobot ekonomi dan strategis besar bagi Iran di tengah permusuhan dengan AS.
Analisis Redaksi
Pergerakan China kali ini menandai pergeseran signifikan: Beijing tidak lagi bersembunyi di balik retorik netralitas semata, tapi mulai menuntut akuntabilitas dari mitra strategisnya demi kepentingan energi sendiri. Namun, ketiadaan ancaman konkret—sanksi ekonomi atau pengurangan pembelian minyak—membuat tekanan ini terasa seperti diplomasi lembut yang mengandalkan "moral suasion" bukan leverage keras. Iran punya catatan mengabaikan keinginan mitra bila bertentangan dengan doktrin keamanan "Poros Perlawanan".
Ujian nyata ada di depan mata: apakah China siap mempertaruhkan hubungan ekonomi yang sudah mendalam—termasuk investasi 25 tahun yang belum sepenuhnya terealisasi di sektor nonminyak—untuk memaksa kompliance Tehran? Sementara GCC menikmati arus investasi China yang melonjak, Iran justru merasa terpinggirkan. Jika Beijing memilih diam saat Tehran mengabaikan mintaannya, kredibilitas China sebagai pemegang keseimbangan regional akan tergerus. Sebaliknya, tekanan keras berisiko mendorong Iran ke pelukan Rusia dan Korea Utara, memperparah fragmentasi geopolitik.
Bagi Indonesia dan negara-negara impor minyak lain, sinyal ini mengingatkan betapa rapuhnya arsitektur keamanan energi global. Dua choke point—Hormuz dan Bab el-Mandeb—kini berada di tangan sekutu Iran. Diversifikasi sumber energi dan rute logistik bukan lagi opsi jangka panjang, tapi keharusan taktis. Diplomasi multilateral lewat PBB dan forum regional seperti ASEAN harus dipakai untuk mengikat aturan main maritim yang bindung, sebelum krisis berikutnya meledak tanpa peringatan.
