BMKG Peringatkan Hujan Lebat Sumut dan Jabar, El Niño Kuat Tekan Curah Hujan Nasional
Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini hujan untuk periode 17 hingga 19 September 2026, menempatkan Sumatra Utara dan Jawa Barat pada status Siaga dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat disertai angin kencang. Tidak ada wilayah yang masuk kategori Awas atau hujan ekstrem pada hari ini.
Selain kedua provinsi tersebut, sejumlah daerah di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Papua berada pada status Waspada dengan prakiraan hujan intensitas sedang hingga lebat. Daftar wilayah lengkap mencakup pulau-pulau besar tersebut meski BMKG menegaskan tidak ada yang mencapai tingkat bahaya tertinggi.
Pada skala lebih luas, dasarian II September hingga dasarian I Oktober 2026 menunjukkan curah hujan rendah hingga menengah di mayoritas wilayah Indonesia. Curah hujan rendah, di bawah 50 milimeter per dasarian, diprakirakan melanda Sumatra bagian tengah hingga selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga sebagian Papua.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan uap air untuk mendukung pembentukan awan hujan masih relatif terbatas, salah satunya berkaitan dengan pengaruh El Niño kategori sangat kuat yang cenderung mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia," tulis BMKG dalam prakiraan Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 15-21 September 2026.
Meski kering secara umum, peluang hujan lokal tetap ada. Periode 15-21 September 2026 mencatat potensi hujan di sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, Papua Pegunungan, dan Papua. Pengaruh Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin di sekitar Sumatra, Laut Natuna, Selat Makassar, hingga perairan Maluku dan Papua menjadi pemicunya. Kondisi atmosfer labil di sebagian Sumatra, Kalimantan, dan Papua juga mendukung pertumbuhan awan konvektif secara lokal.
Peningkatan kecepatan angin di sejumlah wilayah menambah risiko. Angin kencang dapat muncul bersamaan dengan pertumbuhan awan konvektif maupun akibat penguatan aliran angin skala lebih luas, memerlukan kewaspadaan tambahan bagi masyarakat dan pengelola transportasi.
Analisis Redaksi
Peringatan BMKG kali ini memuat kontradiksi yang layak dicatat: dua provinsi masuk status Siaga di tengah prakiraan musim kemarau yang dikondisikan El Niño sangat kuat. Ini mengingatkan kita bahwa cuaca ekstrem lokal bisa muncul di tengah tren kering nasional. Warga Sumut dan Jabar tidak boleh lengah meski narasi besar berbau kekeringan.
Langkah selanjutnya yang logis: Pemda dan BPBD di wilayah Siaga dan Waspada harus mengaktifkan posko serta sosialisasi rute evakuasi banjir bandang dan longsor. Sektor transportasi udara dan laut perlu memperketat pemantauan angin kencang. Untuk jangka menengah, data curah hujan dasarian ini jadi acuan perencanaan irigasi dan ketahanan pangan di wilayah rawan kekeringan berlanjut.

