Rupiah Anjlok ke Rp17.753 per Dolar AS, Tekanan RDG BI Minggu Depan Makin Nyata
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.753 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/9) sore, anjlok 57 poin atau 0,32 persen dari penutupan sebelumnya. Pelemahan itu terjadi seiring mayoritas mata uang Asia yang tergerus oleh penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS pasca pertemuan FOMC semalam.
Yuan China melemah 0,01 persen, peso Filipina terdepresiasi 0,02 persen, ringgit Malaysia turun 0,54 persen, won Korea Selatan anjlok 0,85 persen, serta dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen. Di sisi berlawanan, dolar Singapura naik 0,09 persen dan yen Jepang menguat 0,25 persen, menunjukkan sentimen pasar yang tidak seragam di wilayah ini.
Mata uang negara maju pun bergerak bervariasi. Euro Eropa menguat 0,03 persen dan dolar Australia naik 0,32 persen. Sebaliknya, poundsterling Inggris melemah 0,01 persen, dolar Kanada turun 0,01 persen, dan franc Swiss terkoreksi 0,01 persen. Pergerakan campuran ini mencerminkan ketidakpastian global soal jalur suku bunga mayoritas bank sentral besar.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah dipicu lonjakan indeks dolar dan imbal hasil obligasi AS usai FOMC. "Pernyataan hawkish dari Kepala The Fed Warsh menaikkan ekspektasi akan adanya kenaikan lebih lanjut tahun ini," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com. Ia menambahkan, kondisi itu memberikan tekanan nyata pada kebijakan suku bunga Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan.
"Hal ini memberikan tekanan pada RDG BI minggu depan, di mana BI diperkirakan mempertahankan tingkat suku bunga," tutup Lukman. Pasar kini menunggu sinyal dari Gubernur Perry Warjiyo dan timnya apakah akan tetap menahan diri atau terpaksa merespons tekanan eksternal yang makin kencang.
Analisis Redaksi
Level Rp17.753 per dolar AS bukan sekadar angka teknis. Ia menandai titik tekanan psikologis yang menguji ketahanan cadangan devisa dan komitmen BI menjaga stabilitas. Pemertahanan suku bunga acuan di 6,25 persen — meski logis untuk menopang rupiah — berisiko memperdalam kesenjangan imbal hasil dengan AS, memperpanjang siklus arus keluar modal portfolio.
Yang perlu diwaspadai bukan hanya keputusan RDG minggu depan, tapi narasi forward guidance yang akan disampaikan Warjiyo. Jika BI tersandung terlalu hawkish, pertumbuhan domestik yang baru pulih rapuh bisa tersengat. Jika terlalu dovish, rupiah berisiko meluncur menembus Rp18.000 — ambang yang akan memicu tekanan inflasi impor dan merusak daya beli rakyat. Pilihannya sempit, dan margin error hampir nihil.


