Prabowo Pimpin Rapat Paripurna DEN, Fokus ke E20 dan Ketahanan Energi Nasional

Ekonomi
Dian KusumaDian Kusuma
Sumber: Antara News
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Prabowo Pimpin Rapat Paripurna DEN, Fokus ke E20 dan Ketahanan Energi Nasional
BAGIKAN:

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) di Istana Negara, Kamis (17/9), menegaskan prioritas paling mendesak: percepatan program B40 dan ketahanan pasokan energi domestik. Rapat itu dihadiri seluruh anggota DEN, badan yang dipimpin langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Bahlil mengakhiri rapat dengan pernyataan singkat namun padat: agenda utama adalah energi nasional dan E20. Dua kata itu membawa bobot kebijakan yang masif, mengingat E20 — campuran 20 persen bioetanol dalam bensin — baru mulai digulirkan secara bertahap sejak awal tahun ini. Presiden ingin memastikan rantai pasokan, dari kebun sawit hingga pom bensin, tidak patah di tengah tekanan harga minyak dunia.

Sebagai forum tertinggi perencanaan energi berdasarkan UU Nomor 30 Tahun 2007, DEN memang memiliki kewenangan menyusun Kebijakan Energi Nasional (KEN) hingga Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Rapat paripurna ini jarang digelar kecuali ada keputusan strategis yang memerlukan sinkronisasi lintas kementerian. Kehadiran Prabowo secara pribadi menandakan urgensi yang tidak bisa ditangani sekadar level direktorat jenderal.

Isu E20 sendiri bukan sekadar target pencampuran. Ia menyentuh hilirisasi sawit, investasi rafineri bioetanol, hingga subsidisasi harga jual agar bersaik dengan bensin murni. Bahlil, yang juga menjabat Ketua DEN, memegang kunci teknis: bagaimana memastikan produksi bioetanol domestik memadai tanpa mengorbankan kebutuhan pangan atau menimbulkan deforestasi baru. Itu persoalan teknis yang bersinggungan politik agraria.

Bagi publik, hasil rapat ini nanti akan terasa di harga BBM di pom dan ketersediaan listrik stabil. Kegagalan transisi E20 berarti ketergantungan impor bahan bakar fossilis terus menguras devisa. Keberhasilan berarti industri sawit naik kelas, lapangan kerja terbuka, dan anggaran subsidi energi bisa dialihkan ke pembangunan lain. Itu taruhan yang taruhanannya adalah keseimbangan neraca pembayaran negara.

Analisis Redaksi

Rapat ini menandai shift dari retorik kampanye ke eksekusi kebijakan keras. Prabowo tidak hanya membuka rapat; ia memimpinnya. Sinyal jelas: transisi energi bukan lagi urusan teknokrat ESMD saja, tapi komando suprema. Yang perlu diwaspadai adalah kecepatan implementasi di lapangan yang sering tertinggal jauh dari keputusan rapat di Istana. Koordinasi dengan Kementeran Perindustrian, Perdagangan, hingga Kehutanan akan jadi uji nyata komitmen ini.

Langkah logis selanjutnya pasti turunan regulasi: revisi Perpres Biodiesel, insentif fiskal untuk pabrik bioetanol, hingga standar mutu bensin baru. Jika dalam tiga bulan ke depan tidak ada Instrumen Hukum yang mengikat, rapat Kamis ini hanya jadi foto op yang mahal. Wartawan akan memantau apakah Bahlil mampu menerjemahkan keinginan Presiden menjadi roadmap yang bisa dieksekusi, bukan sekadar wishful thinking.

Meow! Tanya Nesi!
😸