Papua Athletics Center Latih Belasan Atlet Berbakat di Mimika Sports Complex
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

- Belasan atlet atletik berbakat asal Papua tengah menjalani program pengembangan intensif di bawah naungan Papua Athletics Center (PAC) di Mimika Sports Complex, Mimika, Papua Tengah, pekan ini.
- Inisiatif ini menjadi salah satu upaya konkret menjawab kelangkaan fasilitas dan pelatihan terstruktur yang selama ini menghadang regenerasi cabang olahraga mother sport di tanah Papua.
- Kegiatan yang terpapar dalam dokumentasi visual pada 17 September 2026 menunjukkan antusiasme para atlet muda saat mengasah teknik lari, melompat, dan melempar di tengah keterbatasan infrastruktur.
Belasan atlet atletik berbakat asal Papua tengah menjalani program pengembangan intensif di bawah naungan Papua Athletics Center (PAC) di Mimika Sports Complex, Mimika, Papua Tengah, pekan ini. Inisiatif ini menjadi salah satu upaya konkret menjawab kelangkaan fasilitas dan pelatihan terstruktur yang selama ini menghadang regenerasi cabang olahraga mother sport di tanah Papua.
Kegiatan yang terpapar dalam dokumentasi visual pada 17 September 2026 menunjukkan antusiasme para atlet muda saat mengasah teknik lari, melompat, dan melempar di tengah keterbatasan infrastruktur. Salah satu wajah yang terlihat fokus mengikuti rangkaian latihan adalah Kresensia Mobok Ndiken, atlet putri yang namanya mulai dikenal di kancah atletik tingkat nasional usai meraih medali di Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021.
PAC sendiri didirikan sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan wadah pembinaan atletik profesional di wilayah timur Indonesia. Lembaga ini bekerja sama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Mimika serta Pengprov PB PASI Papua untuk menyusun kurikulum latihan yang mengacu pada standar internasional, namun tetap memperhatikan karakteristik fisik dan budaya atlet lokal.
Ketua PAC, Yohanes "Yopi" Kbarek, dalam kesempatan terpisah menjelaskan bahwa program ini menargetkan atlet usia 14 hingga 18 tahun yang teridentifikasi memiliki potensi melalui seleksi terbuka di distrik-distrik pedalaman. "Kami tidak hanya mengajari teknik, tapi membangun mental atlet profesional: disiplin, nutrisi, dan manajemen cedera," ujarnya. Saat ini PAC mengelola 23 atlet putra dan putri yang bermalam di asrama sederhana di area kompleks olahraga.
Keterbatasan anggaran tetap menjadi tantangan klasik. Perlengkapan latihan seperti starting block, panah, dan diskus masih bergantung pada bantuan sponsor lokal dan hibah Pemerintah Kabupaten Mimika. Trekking sintetis standar internasional pun belum tersedia, memaksa atlet berlatih di lapangan berlapis tanah yang berubah kondisi saat musim hujan. Namun, semangat para atlet justru tak tergeruskan oleh kondisi less-than-ideal tersebut.
Keberadaan PAC di Mimika juga memicu harapan baru bagi komunitas olahraga Papua yang selama ini merasa terpinggirkan dari sentralisasi pembinaan di Jawa. Sejumlah pelatih senior menilai, model pembinaan berbasis daerah ini perlu direplikasi ke kabupaten lain seperti Jayawijaya, Merauke, dan Biak untuk memperluas basis talenta. Tanpa jejaring yang luas, potensi emas di pedalaman hanya akan mati begitu saja.
Analisis Redaksi
Kisah PAC di Mimika adalah cermin miniatur dari dilema pengembangan olahraga di Indonesia timur: potensi manusia luar biasa yang bertemu dengan infrastruktur minim. Keberhasilan model ini tidak diukur dari medali instan, tapi dari keberlangsungan sistem โ apakah atlet yang dilatih hari ini bisa menjadi pelatih besok, dan apakah fasilitas bisa bertahan tanpa bergantung pada belas kasih politik musiman. Jika PAC mampu membuktikan model pembinaan mandiri berbasis komunitas ini bisa jalan, mereka menjawab pertanyaan klasik: bagaimana mengubah bakat alami menjadi prestasi berkelanjutan tanpa menunggu instruksi dari pusat.
Langkah logis selanjutnya adalah formalisasi kurikulum PAC menjadi standar referensi bagi satuan pendidikan dan klub olahraga di Papua. Dispora dan DINAS Pendidikan harus mulai mengintegrasikan program ini ke dalam ekstrakurikuler sekolah, sehingga seleksi talenta tidak lagi bersifat ad-hoc. Di sisi lain, Pemprov Papua perlu mengeluarkan peraturan daerah (Perda) yang mengikat anggaran pembinaan atletik minimal 5 tahun ke depan โ menghindari nasib program-program serupa yang mati saat kepala daerah berganti. Tanpa kerangka hukum dan anggaran terikat, PAC hanya akan menjadi kenangan manis di album foto, bukan fondasi atletik Papua yang kokoh.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

PSG kukuh di puncak Liga Champions, Barcelona kejar ketertinggalan setelah matchday keempat

Australia Rayu Mathew Baker, Piala Asia 2027 Diundur, Megawati Hangestri Debut di Liga Korea

Lepas dari BAM, Cheah Yee See Menikah dengan Teo Kok Siang di Bali
