Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Mila DA7 Mengungkap Proses Mengatasi Ketakutan Berkuda hingga Temukan Keseimbangan di Atas Pelana

SelebritiNadia PutriNadia PutriSumber: KapanLagi
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Mila DA7 Mengungkap Proses Mengatasi Ketakutan Berkuda hingga Temukan Keseimbangan di Atas Pelana
BAGIKAN:

Mila Nurwanti, penyanyi muda yang dikenal sebagai Mila DA7, mengungkap perjalanan belajar berkuda yang bermula dari rasa takut hingga kini makin tertarik mendalami olahraga itu selama libur tiga hari di Bandung. Gadis 16 tahun itu bercerita soal kegemaran baru di luar panggung sebagai olahraga sekaligus rekreasi di sela jadwal bernyanyi.

Pada percobaan pertama, Mila mengaku sempat ragu naik kuda berukuran sedang yang terasa tinggi bagi tubuh mungilnya. "Sebenarnya emang pengen nyobain, gimana sih rasanya naik kuda, aku kebetulan naik kuda yang biasa, tapi buat aku itu udah tinggi banget," kata Mila. Ia pun harus memanfaatkan bangku penopang untuk bisa mencapai pelana.

Rasa waswas tak hanya soal ketinggian. Mila sempat takut memegang kendali dan khawatir jatuh. "Sebenarnya takut juga, awalnya aku megang takut, takut jatuh juga. Tapi karena mau coba jadi ya udah," ujarnya. Dorongan datang dari Tasya, rekan sesama jebolan DA7 sekaligus kakak kelas DA8, yang sudah lebih dulu menunggang kuda di tempat dekat rumah.

Memanfaatkan jeda libur tiga hari, Mila putuskan jalan ke Bandung sekaligus mencoba naik kuda di tempat yang direkomendasikan Tasya. Seiring berjalannya waktu, ketakutan itu berkurang dan justru tumbuh keinginan untuk lebih sering berlatih. Ia sudah menemukan kunci kenyamanan di atas kuda: keluwesan mengikuti tempo hewan tersebut.

"Tinggal di-luwesin aja naiknya, kalau kudanya mau lari, tinggal menyesuaikan sama temponya dia," pungkas Mila. Pendekatan itu ia gunakan untuk menguasai keadaan dan membangun rasa percaya diri pada sesi-sesi berikutnya. Saat ini, sang kakak kelas Dangdut Academy 8 menargetkan untuk rutin mendalami olahraga ini.

Analisis Redaksi

Kisah Mila mencerminkan pola umum pelajar baru olahraga ekuestrian: hambatan psikologis awal berupa ketakutan ketinggian dan kehilangan kendali, lalu teratasi melalui eksposur bertahap dan bimbingan non-formal dari teman sebaya. Peran Tasya sebagai peer mentor yang sudah memiliki pengalaman praktis terbukti efektif menurunkan ambang ketakutan, lebih efisien dibandingkan instruksi formal semata.

Pemilihan kuda berukuran sedang dan penggunaan bangku penopang menunjukkan adaptasi teknis yang tepat untuk fisik penunggang muda berpostur kecil. Teknik "mengikuti tempo kuda" yang ditemukan Mila secara intuitif sejalan dengan prinsip dasar independent seat—keseimbangan dinamis tanpa gangguan pada mulut kuda—yang justru sering jadi materi lanjutan dalam pelatihan standar. Minatnya yang berkembang pasca-libur singkat ini membuka peluang konsistensi latihan, asalkan akses ke fasilitas dan pengawasan instrukteur tersedia.

Meow! Tanya Nesi!
😸