Kim Yo Jong: Hanya Idiot yang Berharap Korea Utara Melucuti Nuklir
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Saudari perempuan pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, menegaskan status Pyongyang sebagai negara pemilik senjata nuklir bersifat mutlak dan tidak dapat digoyangkan, menepis segala harapan denuklirisasi sebagai angan-angan orang "idiot". Pernyataan tajam itu disiarkan Kantor Berita Sentral Korea (KCNA) pada hari ini, menjawab wacana hangat soal kemungkinan pertemuan baru antara Donald Trump dan Kim Jong Un.
"Hanya orang-orang idiot yang berharap Korea Utara melucuti senjata nuklir mereka," tulis Kim Yo Jong dalam pernyataan resmi yang dikutip AFP. Ia menegaskan kembali posisi keras rejim: kepemilikan senjata atom adalah keharusan strategis yang permanen. "Posisi DPRK sebagai negara pemilik senjata nuklir adalah mutlak dan tidak dapat diubah oleh apa pun," tegasnya.
Retorik itu datang di tengah estimasi inteligensi yang bervariasi. Presiden AS Donald Trump pada Agustus lalu mengklaim Korea Utara memiliki 57 senjata nuklir yang "sangat kuat". Sementara Seoul, melalui Kementerian Pertahanan, memperkirakan arsenal nuklir Pyongyang berkisar antara 80 hingga 120 rudal. Perbedaan angka itu mencerminkan kesulitan verifikasi independen di negara tertutup itu.
Kantor Presidensial Korea Selatan (Seoul) menyatakan pihaknya mencermati pernyataan Kim Yo Jong dengan seksama. Tim nasioanal Seoul menilai timing pernyataan itu tak terpisah dari isu pertemuan Trump-Kim yang kembali hangat diperbincangkan di media barat. Sejak pertemuan Singapura 2018 dan Hanoi 2019 yang gagal, diplomasi nuklir antara Washington dan Pyongyang telah macet total.
Kim Yo Jong juga mengaitkan arsenal nuklir dengan fungsi penyeimbang strategis. "Persenjataan nuklir Pyongyang memberikan kontribusi signifikan dalam mencegah tindakan keterlaluan dari pihak-pihak nakal di dunia internasional," ujarnya. Frasa "pihak-pihak nakal" merujuk pada AS dan sekutunya, narasi standar Pyongyang untuk melegitimasi program senjata terlarang PBB itu.
Analisis Redaksi
Pernyataan Kim Yo Jong bukan sekadar retorik provocative, melainkan penegasan doktrin nuklir yang sudah mengakar: Korea Utara tidak akan pernah menyerahkan nuklir melalui diplomasi. Frasa "mutlak" dan "tidak dapat diubah" menutup ruang negosiasi berbasis denuklirisasi yang jadi syarat mutlak Washington sejak era Obama. Bagi Trump yang mengincar comeback diplomasi, ini adalah rintangan fundamental โ bukan soal hadiah ekonomi atau jaminan keamanan, tapi soal identitas negara.
Estimasi 57-120 rudal nuklir, meski bervariasi, menempatkan Korea Utara sebagai kekuatan nuklir de facto tingkat menengah. Kapasitas itu cukup untuk deterrensi regional, terutama menargetkan Seoul dan Tokyo, serta ancaman jangka panjang ke AS lewat ICBM. Seoul yang "mencermati" pernyataan ini hadapi dilema: mendorong dialog berarti menerima realitas nuklir Korut, tapi menolak dialog berarti biarkan eskalasi tak terkendali. Langkah logis selanjutnya? Pyongyang akan terus uji rudal untuk memperkuat leverage, sementara Washington-Seoul terpaksa fokus pada deterrensi terpadu, bukan denuklirisasi.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
